Sabtu, 27 Juni 2020

Apa anda ingin jadi youtuber

Bismillah
Untuk mendapatkan banyak uang dari Youtube, kamu harus mengetahui dulu cara monetisasi Youtube. Akun yang telah dimonetisasi, bakal mendapatkan keuntungan yang besarannya dihitung dari jumlah penonton. Sementara uangnya didapat dari iklan-iklan yang dipasang di video tersebut. 
Di tahun 2019 ini, Youtube telah melakukan perluasan penerimaan pundi-pundi akun yang dimonetisasi. Bukan cuma lewat iklan, tapi ada juga lewat beberapa cara lain, seperti menjadi mitra, merchandise, dan lain-lain. 
Tapi, perlu diingat, untuk melakukan monetisasi akun bukanlah hal yang mudah. Harus ada beberapa persyaratan yang harus kamu penuhi sesuai ketentuan dari Youtube. 
Berikut ini kita akan memberikan penjelasan singkat mengenai seluk-beluk syarat dan cara monetisasi Youtube. 

Monetisasi adalah proses menghasilkan uang dari video-video Youtube yang diunggah dengan mengaktifkan fitur-fitur iklan di dalam video. Tapi tentu gak bisa semua video disisipkan iklan, hanya yang terpopuler saja yang bakal mendapatkan pemasukan terbesar dari iklan. 
Tujuan pengiklan menaruh modalnya dengan beriklan di Youtube adalah untuk menjangkau lebih banyak audiens atau mendapatkan popularitas yang lebih. Oleh karena itu, Youtube juga akan menaruh iklan di video yang memiliki jumlah penonton yang banyak, dan akun yang rutin mengunggah konten mereka. 
Akun dengan jumlah penonton yang membludak dan jam tayang yang tinggi, sangat menguntungkan untuk bisnis Youtube. Mereka gak segan-segan untuk membagikan keuntungan yang didapat dari iklan ke kreator populer. 
Maka dari itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebuah akun untuk bisa dimonetisasi

Sebelum membahas tentang cara monetisasi Youtube, kamu harus memperhatikan syarat-syarat yang diminta. Youtube tentunya bakal menerima permintaan monetisasi akun yang populer, memiliki dampak yang signifikan bagi bisnis. Indikator signifikan itu sendiri dilihat dari popularitasnya untuk menarik perhatian lebih banyak penonton, dan juga isi konten itu sendiri. 
Akun yang telah berhasil dimonetisasi itu disebut juga dengan Youtube Partner. 
Oleh sebab itu, Youtube telah membuat persyaratan dasar bagi para kreator video yang pengin memonetisasi akunnya.
  • Mengikuti segala aturan dan kebijakan dari monetisasi Youtube. Kebijakannya beragam, mulai dari pembatasan konten yang tidak boleh berisi kekerasan, pornografi, sampai memastikan kalau konten yang diunggah tidak melanggar hak cipta. 
  • Tinggal di negara atau wilayah tempat program Youtube Partner tersedia. Dalam hal ini Indonesia termasuk ke dalam lingkup wilayah tersebut.
  • Memiliki lebih dari 4.000 jam tayang selama 12 bulan terakhir. Artinya jumlah jam tayang kontenmu kalau ditotal telah mencapai 4.000 jam. 
  • Punya lebih dari 1.000 subscribers
  • Terhubung dengan akun AdSense 
Meskipun kamu telah memenuhi persyaratan-persyaratan di atas, bukan jaminan kalau monetisasi akun bakal diterima oleh Youtube. Beberapa ada yang ditolak juga lho! 
Hal yang terpenting adalah, kamu harus mengaktifkan dulu monetisasi atau istilah lainnya mengaktifkan Google AdSense. Berikut ini tahapan-tahapan cara aktifkan Google AdSense, 

  1. Klik ikon akun Youtube di pojok kanan atas
  2. Masuk ke pilihan “Creator Studio”
  3. Di bagian kiri menu pilih “Channel”
  4. Lalu klik “Status and features”
  5. Klik enable di pilihan “Monetization”
  6. Lalu ikuti perintah yang tertera di halaman tersebut
Kemungkinan besar yang membuat monetisasi ditolak oleh Youtube adalah karena tidak memenuhi kebijakan dan persyaratan yang dipenuhi. Tapi tenang saja, jika ditolak, kamu bisa melakukan pendaftaran lagi dalam rentang waktu 30 hari setelahnya. 

Cara monetisasi Youtube 

Setelah memastikan kamu sudah memenuhi persyaratan, dan daftar Google AdSense Youtube kamu sudah diterima, berikut ini ada beberapa cara monetisasi Youtube yang bisa kamu pilih.
Berdasarkan peraturan Youtube 2019, cara monetisasi gak cuma lewat iklan saja, tetapi juga ada banyak cara lainnya, lewat Membership Channel, Super Chat, Merchandise, dan Youtube Premium. 

1. Dari iklan atau Google AdSense 

Cara monetisasi yang satu ini adalah mengandalkan iklan sebagai pemasukan utama. Kamu bisa mengatur iklan yang tayang di kontenmu dan juga letak posisi iklan itu ditayangkan. Fitur ini bakalan ada jika pendaftaran akun Google AdSense yang sudah tertera di atas disetujui oleh Youtube.
Persyaratan khususnya, pemilik akun harus sudah berumur 18 tahun atau paling tidak memiliki wali yang umurnya sudah mencukupi. Hal ini berkaitan dengan syarat penerimaan uang dari iklan-iklan yang tayang. 
Cara memasang iklan di Youtube juga gak bisa sembarangan, karena kamu harus memenuhi persyaratan yang dibuat oleh pengiklan. Selain itu, pastinya kontennya harus sesuai dengan iklan. Misalnya, kamu mengatur iklan tempat wisata, jangan ditaruh di konten berita duka. 

2. Membership Channel 

Kalau yang ini, kamu mendapatkan bayaran dari akun orang yang terdaftar sebagai member akun kamu. Sistemnya adalah membermu bakal memberikan bayaran setiap bulannya untuk menikmati konten-konten berkualitas yang kamu tawarkan. 
Persyaratan khususnya adalah, berusia minimal 18 tahun dan memiliki lebih dari 30.000 subscriber
Berikut ini cara mengaktifkan atau cara monetisasi Youtube lewat Membership Channel
  1. Login ke akun Youtube
  2. Kemudian buka halaman “Membership”
  3. Klik mulai dan ikuti perintah-perintah yang muncul di layar

3. Merchandise 

Fitur yang satu ini memungkinkan akun yang menonton bisa melihat merchandise yang kamu tawarkan di laman video. Syarat khusus untuk bisa berjualan di Youtube adalah harus minimal berumur 18 tahun dan memiliki 10.000 subscribers
Cara monetisasi Youtube dengan fitur Merchandise Shelf, 
  1. Login ke “Youtube Studio Beta”
  2. Di menu sebelah kiri kamu bisa melihat menu “Monetisasi”, silahkan di-klik
  3. Klik pilihan “Merchandise”, opsi ini bakal muncul kalau persyaratan khususnya sudah terpenuhi
  4. Ikuti petunjuk yang tertera di layar 

4. Super Chat 

Di Youtube, sekarang kamu sudah bisa melakukan live streaming dan disaksikan oleh masyarakat secara luas. Penonton bisa dengan bebas mengirimkan pesan saat live streaming bahkan pesan tersebut bisa disorot oleh orang banyak. Nah ketika kamu menggunakan fitur itu, kamu bakal mendapatkan bayaran.

5. Youtube Premium 

Kamu cukup mengalihkan akunmu ke versi premium. Dengan cara ini, kamu bakal mendapatkan bayaran dari setiap orang yang menonton kontenmu. Sayangnya fitur yang satu ini belum berlaku di Indonesia, jadi belum ada keterangan apapun tentang cara pendaftarannya. 

Dari cara monetisasi Youtube, kini kita beralih ke cara menarik uang yang telah dikumpulkan. Di awal tadi kamu sudah mendaftar Google AdSense, nah untuk bisa mencairkan, kamu perlu melakukan verifikasi akun Google AdSense. 

Verifikasi dilakukan dengan memasukkan PIN yang nantinya bakal dikirim ke rumah kamu oleh pihak Google. Berikut ini tahapan-tahapannya. 
  1. Masuk ke akun AdSense sesuai dengan alamat email dan kata sandi yang kamu daftarkan
  2. Klik menu pengaturan dan pilih “Setelan”
  3. Di bagian kiri laman klik “Informasi Akun”, lalu klik “verifikasi alamat”
  4. Terakhir masukkan PIN yang telah dikirimkan
Setelah AdSense terverifikasi, kamu tinggal memasukkan data-data rekening untuk pengiriman hasil pendapatan dari kontenmu. Uang akan ditransfer setiap bulannya, sekitar tanggal 21-26. 
Demikian informasi tentang cara monetisasi Youtube yang perlu kamu lakukan untuk mendapatkan uang tambahan dari konten Youtube. Tapi, sebelum bisa menikmati hasilnya, kamu harus fokus dulu untuk mengembangkan akun kamu dan mengisinya dengan konten-konten yang bermanfaat. Itulah salah satu pondasi awal cara menjadi Youtuber sukses.

Trimakasih

Rabu, 17 Juni 2020

REMIDI

Remidi khot
Tulis ulang di buku gambar atau buku tulis dengan indah foto kirim ke abu said 087714705560 




Syukran barakallahu fiikum

Senin, 15 Juni 2020

Rangkuman pertanyaan nahwu kelas 7

Rangkuman nahwu kls 7
1. Definisi dan contoh Jumlah mufidah ( kalimat sempurna)
2. الكلمة ada 3 isim ,fiil , huruf dan definisi dan contohnya
3. Definisi dan contoh fiil madhi ,mudhori, amr
4. Definisi dan contoh fail
5. Definisi dan contoh mubtada dan khobar
6. Definisi dan contoh jumlah filiah
7. Definisi dan contoh jumlah ismiah
8. Tugasكان dan sudara saudaranya
9. Tugas إن dan saudara saudaranya
10. Huruf penasob fiil mudhori
11. Huruf penjazem fiil mudhori
12. Rofanya fiil mudhori
11. Huruf jar
12. Definisi naat dan contohnya

Sabtu, 13 Juni 2020

REMIDI KHOT

REMIDI KHOT
TULIS DAN TERJEMAHKAN KE BAHASA ARAB DIBUKU TULIS DIFOTO KIRIM KE
ABU SAID  087714705560


       RUMAH
       PINTU
       JENDELA
       DINDING
       ATAP
       TANGGA
       SELIMUT
       BANTAL
       HANDUK
       SABUN
       AIR
       GAYUNG
       SIKAT GIGI
       PASTA GIGI
       TAS
       BOLPOIN
       BUKU
       PENGHAPUS
       MEJA
       KURSI
       KOMPOR
       PIRING
       SENDOK
       IBU
       AYAH
       SAUDARA LAKI LAKI
       SAUDARA PEREMPUAN
FIIL
  1. MAKAN
  2. MINUM
  3. DUDUK
  4. BERDIRI
  5. TIDUR
  6. BANGUN
  7. BERKUMUR KUMUR
  8. WUDHU
  9. MENCUCI
  10. MANDI
  11. LARI
  12. MEMBAWA
  13. MELEMPAR
  14. MEMOTONG
  15. MASUK
  16. KELUAR
  17. SHOLAT
  18. PERGI
  19. KEMBALI
  20. MENGHAFAL
BOLEH LIHAT KAMUS BOLEH TANYA ABI DAN UMI

SYUKRAN BARAKALLAHU FIIKUM

Selasa, 09 Juni 2020

KISI KISI NAHWU 1

KISI KISI NAHWU 1

Bagaimana kabar antum semua sehatkan ...
Alhamdulillah.....sebelum ujian kita murojaah dlu ya......semoga Allah mudahkan urusan antum
1.الكلمة ( kata ) ada 3 : isim ,fiil , huruf
A. Isim contohnya : محمد ،جمل ،شجرة،كتاب،فوق
B. Fiil contohnya : كتب - يكتب - اكتل
    Fiil ada 3 : madhi , mudhori ,amr
C. Huruf contohnya : من ، الى ، عن ، على، ب ،ل ،ك في

2. الجملة  ( kalimat) susunan beberapa kata yg memiliki mana yg sempurna
Contoh : البستان جميل ، محمد رسول


3. Rumus فعل + فاعل + مفعول به  = ضرب محمد كلبا
ضرب : fiil madhi
محمد : fail marfu dengan dhomah
كلبا : maful bih mansub dengan fathah


4. Rumus مبتدأ + خبر = محمد طالب
محمد : mubtada' marfu' dengan dhomah
طالب : khobar marfu' dengan dhomah


5. Rumus  كان + اسم كان + خبر كان = كان محمدٌ طالباً
كان: fiil madhi
محمد : isim kaana marfu' dengan dhomah
طالبا : khobar kaana mansub dengan fathah
Tugas كان dan saudara-saudaranya merofa' kan mubtada dan menasabkan khobar
Saudara-saidara kaana yaitu
صار ، ليس ، أصبح ، أضحى ، ظلّ ، أمس ، بات


6. Rumus  إنّ + اسمها + خبرها =  إنّ محمدا  رسول
إنّ: huruf
محمدا : isim inna msnsub dengan fathah
رسول : khobar inna marfu dengan dhomah
Tugas إنّ dan saudara-saudaranya menasobkan mubtada dan merofa' kan khobar
Saudara-saudara Inna yaitu
إنّ ، أنّ ، كأنّ، لكنّ ، ليت ، لا


7. أن ، لن ، إذن ، كي jika masuk ke fiil mudhori' maka fiil mudhori' tersebut menjadi mansub atau harokat akhirnya menjadi fathah .
contoh يكتبُ - لن يكتبَ
لن : huruf nasob
يكتب: fiil mudhori mansub dengan fathah
An , lan , idzan , kay dinamakan huruf penasob fiil mudhori'



8. لم  ، لا ، إن ika masuk ke fiil mudhori' maka fiil mudhori' tersebut menjadi jazem atau harokat akhirnya menjadi sukun.
contoh = يكتب ُ - لم يكتبْ
لم : huruf jazem
يكتب: fiil mudhori majzum dengan sukun
لم ، لا ، إن dinamaksn huruf penjazem fiil mudhori'


9.fiil mudhori jika tidak didahului huruf penasob dan penjazem maka dia marfu( domah) harokat akhirnya
يكتبُ
يكتب : fiil mudhori marfu             



10. من ، الى ، عن ، على  ، ب ، ل، ك، في jika masuk pada isim maka isim tersebut menjadi majrur ( kasroh)
Contoh= في المسجد
في = huruf jar
المسجد = majrur dengan kasroh


11.NAAT : SIFAT
dia mengikuti manutnya / isim sebelumnya dalam segi irob jika sebelumnya marfu maka dia ikut marfu dan seterusnya
الكتابُ الجديدُ مفيد
الكتاب : mubtada marfu' dengsn dhomah
الجديد : naat marfu dengsn dhomah
مفيد : khobar marfu dengan dhomah
Salah satu cirinya caitu ada ال + ال


Syukran JIKA ADA PERTANYAAN  WA 087714705560

KISI KISI NAHWU 2

KISI KISI NAHWU 2

1. Pembahasan:
Kata-kata ألقى - دعا- يلقى pada ketiga contoh yang pertama (yakni nomer 1 sampai 3), semuanya adalah fiil. Dan akhir dari setiap fiil - fiil tersebut  adalah alif karena diucapkan dengan alif.
Yang dijadikan dasar  pembahasan  pada pelajaran ini adalah pengucapannya  bukan tulisannya. Fiil-fiil ini dinamakan fiil mu'tal akhir.

Dan kata-kata:  سَرُوَ - تَصْفُوْ - يَدْنُوْ pada ketiga contoh kedua (yakni contoh nomer 4 sampai 6) semuanya  adalah fiil. Dan akhir dari setiap fiil-fiil tersebut adalah wawu. Fiil-fiil ini juga dinamakan fiil mu'tal akhir.

Dan kata-kata: خَشِيَ - أَبْغِيْ - يَبْنِيْ pada ketiga contoh yang ketiga (yaitu nomer 7 sampai 9) adalah fiil. Dan akhir dari setiap fiil-fiil tersebut adalah ya. Fiil-fiil ini juga dinamakan fiil mu'tal akhir.

Dan kata-kata:  أَظْلَمَ - اِتَّقَدَ - يَسْتَحِمُّ pada ketiga  contoh yang terakhir (yaitu nomer 10 sampai 12) semuanya adalah fiil. Dan akhir kata dari setiap fiil-fiil tersebut bukan alif, wawu atau ya. Fiil-fiil ini dinamakan fiil shahih akhir.

 KAEDAH:

(25) Fiil mu'tal akhir adalah fiil yang huruf akhirnya adalah alif, wawu, atau ya. Ketiga huruf ini (alif, wawu dan ya) dinamakan huruf 'illah.

(26) Fiil shohih akhir adalah fiil yang huruf akhirnya bukan termasuk salah satu dari ketiga huruf 'illah.

2. PEMBAHASAN
Jika Anda perhatikan kata-kata:  أَيْنَ dan ذَبَحَ dari contoh-contoh bagian pertama, Anda akan mendapati bahwa setiap kata darinya dalam keadaan tetap pada satu keadaan meskipun kedudukan keduanya dalam sebuah kalimat berubah.
Maka akhir dari setiap dua kata (ذبح - أين) tetap dengan  fathah sebagaimana pada contoh dan selainnya. Dan akhir kata dari مِنْ tetap dengan sukun sebagaimana pada contoh-contoh yang telah lalu dan pada selainnya.
Kata-kata yang tetap keadaan harakat  akhirnya pada satu keadaan adalah semua huruf, fiil madhi dan diil amr tanpa terkecuali.
Dan jika Anda perhatikan kata: القطن- الوردة- يثمر pada contoh bagian kedua, Anda akan dapati bahwa akhir setiap kata  darinya  berubah dari satu keadaan ke keadaan lain sesuai kedudukannya dalam kalimat.
Maka kata القطن dan الوردة adalah dua kata yang berubah akhirnya sebagaimana  pada contoh yang lalu. Perubahannya yaitu dari rofa' ke nashab lalu ke jer.
Dan kata يثمر adalah kata yang berubah akhirnya sebagaimana pada contoh yang lalu. Dia berubah dari rofa' ke nashab lalu ke jazm.
KAEDAH:
(27) Kata terbagi menjadi 2:
1) Kata yang tetap akhirnya pada satu keadaan pada seluruh  susunan (kalimat) dan dinamakan mabni adapun yang berubah akhirnya dinamakan mu'rab.
2) Semua huruf adalah mabni dan begitu juga seluruh fiil madhi  dan seluruh  fiil amr.

3. PEMBAHASAN:
Kita telah mengetahui dari pembahasan yang lalu bahwa mabni adalah kata yang akhirnya tetap pada satu keadaan di seluruh susunan kalimat. Dan pada pelajaran kali ini, kita ingin mengetahui keadaan-keadaan akhir kata yang mabni tersebut.
Perhatikan contoh:
Kata كَمْ - اِعْتَدَلَ - حَيْثُ - أَمْسِ  pada contoh sebelumnya, semua kata tersebut adalah mabni. Karena akhir kata-kata tersebut tetap dalam satu keadaan, tidak berubah sekalipun susunan kalimatnya berubah.
Akhir kata كَمْ adalah tetap dengan sukun, oleh karena itu كَمْ dikatakan mabni di atas sukun.
Akhir kata اعْتَدَلَ adalah tetap dengan fathah, oleh karena itu اعْتَدَلَ dikatakan mabni di atas fathah.
Akhir kata حَيْثُ adalah dengan dhommah, oleh karena itu حَيْثُ dikatakan mabni di atas dhommah.
Akhir kata أَمْسِ adalah dengan kasroh, oleh karena itu أَمْسِ dikatakan mabni di atas kasroh.
Dan jika kita teliti pada akhir kata-kata mabni tersebut, tidak kita dapati keadaan lain kecuali empat keadaan (mabni di atas sukun, fathah, dhommah dan kasroh).
Dan disana tidak ada ketentuan khusus untuk mengetahui tentang keadaan akhir kata-kata yang mabni tersebut. Hanya saja referensi untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan menukil dari kitab-kitab bahasa yang terpercaya.
KAEDAH:
(29) Keadaan-keadaan yang menetapi  akhir kata-kata mabni ada empat, yaitu: sukun, fathah, dhommah, kasroh dan dinamakan anwa'ul bina.
(30) Kata-kata yang akhirnya tetap dengan sukun/fathah/dhommah/kasroh, dinamakan mabni di atas sukun/fathah/dhommah/kasroh.

4. PEMBAHASAN:
Kata الطائر - الماء - الحصان pada contoh yang pertama, semuanya adalah isim.
Penjelasan tentang isim-isim di atas adalah sbb:
1) Pada ketiga contoh yang pertama:
Kata الطائر - الماء - الحصان adalah dalam keadaan marfu' karena sebagai mubtada.
Yang menunjukkan rofa'nya adalah adanya dhommah pada akhir setiap isim-isim tersebut.
2) Pada ketiga contoh yang kedua:
Kata الطائر - الماء - الحصان adalah dalam keadaan manshub karena sebagai maf'ul bih.
Yang menunjukkan nashabnya adalah adanya fathah pada akhir setiap isim-isim tersebut.
3) Pada ketiga contoh yang ketiga:
Kata الطائر - الماء - الحصان adalah dalam keadaan majrur karena masing-masingnya didahului oleh huruf jer.
Yang menunjukkan jernya adalah adanya kasroh pada akhir setiap isim-isim tersebut.
Dari penjelasan diatas, kita ketahui bahwa:
Karena ketiga isim di atas berubah akhirnya dari rofa' ke nashob lalu ke jer, maka isim-isim ini dinamakan mu'rab.
***
Dan kata-kata يوقد- تزحف - تورق pada contoh bagian yang kedua adalah fiil mudhari'.
Penjelasan tentang fiil-fiil mudhari' di atas adalah sbb:
1) Pada ketiga contoh yang pertama:
Fiil يوقد- تزحف - تورق dalam keadaan marfu' karena tidak adanya (bebas dari) 'amil nashob dan jazm. Dan yang menunjukkan  rofa'nya fiil-fiil tersebut adalah dengan adanya dhommah pada akhir setiap fiil itu.
2) Pada ketiga contoh yang kedua:
Fiil يوقد- تزحف - تورق dalam keadaan manshub karena masuknya "lan" (لنْ) pada fii-fiil itu. Dan yang menunjukkan nashobnya fiil-fiil tersebut adalah dengan adanya fathah pada akhir setiap fiil itu.
3) Pada ketiga contoh yang ketiga:
Fiil يوقد- تزحف - تورق dalam keadaan majzum karena masuknya 'amil jazm yaitu  "lam" (لَمْ) pada fii-fiil itu. Dan yang menunjukkan jazmnya fiil-fiil tersebut adalah dengan adanya sukun pada akhir setiap fiil itu.
Dari penjelasan diatas, kita ketahui bahwa:
Karena ketiga fiil di atas berubah akhirnya dari rofa' ke nashob lalu ke jazm maka fiil-fiil ini dinamakan mu'rab.
***
KAEDAH
(31) Keadaan-keadaan yang terhitung pada kata-kata yang mu'rab ada empat, yaitu: rofa' - nashob - jer - jazm. Dan (keempatnya) dinamakan macam-macam i'rab.
(32) Tanda-tanda i'rab yang asli ada empat, yaitu: dhommah - fathah - kasroh - sukun. Dan menggantikan darinya tanda-tanda yang lain yang akan disebutkan pada babnya.
(33) Rofa' dan nashob ada pada isim-isim dan fiil-fiil. Jer khusus ada pada isim-isim sebagaimana jazm khusus ada pada fiil-fiil.

5.PEMBAHASAN:
Jika kita perhatikan pada contoh-contoh di atas, kita dapati bahwa pada setiap kalimat mengandung fiil madhi.
Dan telah kita ketahui dari pelajaran yang telah lalu, bahwa seluruh fiil madhi adalah mabni. Maka fiil-fiil madhi pada contoh di atas, seluruhnya adalah mabni. Dan yang kita inginkan dari pelajaran kali ini adalah mengetahui keadaan bina fiil-fiil madhi.
Untuk itu, kita perhatikan ketiga contoh yang pertama (nomer 1 sampai 3):
-Perhatikan fiil-fiil madhi yang ada pada ketiga contoh tersebut, yaitu شْتَدَّ - ثَارَ - نَزَلَ.
-Akhir huruf pada fiil شْتَدَّ - ثَارَ - نَزَلَ tidak bersambung dengan sesuatu apapun.
-Akhir huruf pada fiil  شْتَدَّ - ثَارَ - نَزَلَ adalah dalam keadaab difathah.
- Jika fiil- fiil madhi tersebut diletakkan diseluruh macam susunan kalimat, maka kita akan mendapatinya tetap difathah huruf akhirnya.
-Oleh karena inilah, kita katakan bahwa fiil madhi dimabnikan di atas fathah dalam keadaan ini.
***
Dan jika kita perhatikan ketiga contoh yang kedua, kita melihat bahwa fiil-fiil لَعِبَ - سَفَرَ - تَعِبَ telah bersambung huruf akhirnya dengan wawu yang menunjukkan failnya (subjeknya ) adalah jamak mudzakar.
Dan kita lihat bahwa setiap akhir dari fiil-fiil tersebut dalam keadaan di dhommah ( لَعِبُوْا- سَفَرُوْا- تَعِبُوْا).
Dari sini, kita mengetahui bahwa fiil-fiil madhi tersebut dimabnikan di atas dhommah jika (fiil madhi itu) datang dalam keadaan ini (yakni jika fiil madhi bersambung dengan wawu jama'ah).
***
Dan jika kita perhatikan fiil-fiil madhi pada sisa contoh, kita melihat bahwa fiil-fiil madhi tersebut :
-Pada contoh nomer 7 sampai 12:
bersambung dengan ta' mutakarrikah (ت)
-Pada contoh nomer 13 sampai 15:
bersambung dengan nun (ن)  yang menunjukkan failnya (subjeknya) adalah jamak muannats, dan dinamakan nun niswah.
-Pada contoh nomer 16 sampai 18:
bersambung dengan kata "naa" (نا) yang menunjukkan fail.
Dimana setiap akhir fiil madhi tersebut diatas adalah dalam keadaan disukun. Walaupun kita terus perhatikan fiil-fiil tersebut bersambung dengan ta' mutaharrikah / nun niswah / naa fail, tetap keadaan akhirnya dalam keadaan disukun.
Oleh karena itulah, kita ketahui bahwa fiil madhi dalam keadaan-keadaan seperti diatas,dinamakan  mabni di atas sukun.
KAEDAH:
(34) Fiil madhi dimabnikan diatas fathah kecuali jika  bersambung dengannya wawul jama'ah (maka) dimabnikan diatas dhommah.
Atau bersambung dengannya ta' mutaharrikah / nun niswah/ naa yang menunjukkan fail, (maka) dimabnikan diatas sukun.

6. MABNINYA FIIL AMR
Pendapat ulama nahwu  bahwa fi’il amr itu selalu mabni, dengan perincian sebagai berikut:

Mabni dengan sukun

Jika huruf akhirnya adalah huruf shahih (bukan huruf illat/sakit: ا, و, ي) atau bersambung dengan nun al-inats. Contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an
واذكرْ ربك [2]
Kata (اذكر) pada ayat di atas merupakan fi’il amr yang mabni dengan sukun.
Pada firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain:
واذكرْنَ مايتلى [3]
Kata (واذكرن) pada ayat di atas adalah fi’il amr yang mabni dengan sukun karena bersambung dengan nun al-inats.

Mabni dengan hadzf huruf illat

Hadzf huruf illat yaitu membuang huruf illat jika fi’il amr itu diakhiri oleh salah satu huruf illat (ا, و, ي), contohnya: firman Allah dalam Al-Qur’an:
ادعُ إلى سبيل ربك [4]
Kata (ادع) pada ayat di atas adalah fi’il amr yang mabni dengan membuat huruf illatnya yaitu huruf و , karena asalnya adalah تدعو, pada ayat yang lain:
اتقِ الله [5]
Kata (اتق) merupakan fi’il amr yang mabni dengan membuang huruf illatnya yaitu ي, karena asalnya adalah تتقي, pada ayat yang lain:
وانهَ عن المنكر [6]
Kata (انه) pada ayat di atas merupakan fi’il amr yang mabni dengan membuang huruf illatnya yaitu ى, karena asalnya adalah تنهى.

Mabni dengan hadzf huruf nun

Hadzf huruf nun yaitu membuang guruf nun apabila fi’il amr bersambung dengan alif al-itsnain, ya’ al-mukhatabah atau waw al-jama’ah, contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وكُلاَ منها [7]
Di sini kata (كلا) adalah fi’il amr yang mabni dengan membuang nun, karena asalnya adalah (تأكلان). Contoh yang lain, ayat yang berbunyi:
كلوا واشربوا [8]
Kata (كلوا) dan (اشربوا) adalah fi’il amr yang mabni dengan membuang huruf nun, karena asalnya adalah (تأكلون) dan (تشربون).

Mabni dengan fathah

Yaitu jika fi’il amr bersambung dengan nun taukid, baik nun taukid tsaqilah maupun nun tauqid khafifah, contohnya:
اشكرنَّ الله
Kata (اشكرنَّ) merupakan fi’il amr yang mabni dengan fathah karena bersambung dengan nun taukid as-tsaqilah. Contoh yang lain:
اذهبنْ إلى المدرسة
Kata (اذهبنْ) merupakan fi’il amr yang mabni dengan fathah karna ia bersambung dengan nun taukid al-khafifah.

7. PEMBAHASAN

Fi’il Mudhari’ yang Mabni

Fi’il mudhari’ yang mabni pada dua keadaan:

Mabni  dengan sukun

Ketika bersambung dengan nun al-inats, contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ [2]
Kata (يرضعن) di sini adalah fi’il mudhari yang mabni karena bersambung dengan nun al-inats di akhirnya.

Mabni dengan fathah

Ketika bersambung dengan nun at-taukid (nun yang ditambahkan pada akhir fi’il yang berfungsi untuk memberi penekanan pada makna fi’il itu), contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala:
لَنُخْرِجَنَّكَ [3]
Pada kata (نخرجنك) terdapat nun taukid yang menyebabkan kata tersebut mabni dengan fathah.
SYUKRAN JIKA ADA PERTANYAAN WA 087714705560

Selasa, 28 April 2020

Rumus فعل + فاعل + مغعول به

Bismillah....
Kaifa halukum semua ....sehatkan alhamdulillah langsung saja ya pada kesempatan kali ini kita akan belajar rumus dan irob...wow  i'rob
فعل + فاعل + مفعول به
ًضرب + محمدٌ+ كلبا
ضرب : fiil
محمد : fail marfu dengan domah
كلبا   : maful bih mansub dengan fathah

Tugasnya adalah membuat 15 kalimat seperti diatas dalam bentuk rekaman kirim ke grub

Contoh
Bismillah ismi abu said
1.
ًضرب + محمدٌ+ كلبا
ضرب : fiil
محمد : fail marfu dengan domah
كلبا   : maful bih mansub dengan fathah
2.
أكل زيد موزا
أكل : fiil
زيد : fail marfu' dengan domah
موزا : maful bih mansub dengan fathah
Dan seterusnya jumlahnya 15 tanda baca harus bener ya yg akhirnya didomah ya didomah yg akhirnya fathah ya fathah
Bisa di fahami ya dalam bentuk rekaman kirim ke grup

Selasa, 14 April 2020

IMAM IBNUL QOYYIM

Biografi: Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah

Nama sebenarnya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.
Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya
Ia belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol dalam ilmu itu. Belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’ kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-kafiyah was Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur.
Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy.
Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan amat dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.
Pada akhirnya beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.
Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya, sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.
Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.
Sebagai hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitabullah Ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap bid’ah yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari hawa-hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad kemunduran, abad jumud dan taqlid buta.
Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.
Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.
Penguasaannya terhadap Ilmu Tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap Ushuluddin mencapai puncaknya dan pengetahuannya mengenai Hadits, makna hadits, pemahaman serta Istinbath-Istinbath rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.
Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni bahwa “Baiknya” perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syari’ah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam asy-syarifah.
Oleh karena itu beliau berpegang pada (prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath hukum berdasarkan petunjuk al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para shahabat serta apa-apa yang telah disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immatul Fiqhi (para imam fiqih).
Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa oleh Syari’ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat.
Beliau rahimahullah benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu, siang maupun malam dan terus banyak berdo’a.
Sasarannya
Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau telah susun semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam dan orang-orang dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji Islam telah berkibar di semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman, tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam kesumat dan bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini sengaja melancarkan syubhat (pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap ayat-ayat al-Qur’anul Karim.
Mereka banyak membuat penafsiran, ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin.
Maka adalah satu keharusan bagi para A’immatul Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-ketentuan hukum syari’ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman Allah Ta’ala: “Dan Kami turunkan Al Qur’an kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl:44).
Juga firman Allah Ta’ala, “Dan apa-apa yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).
Murid-Muridnya
Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan melayani dialog. Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.
Aqidah Dan Manhajnya
Adalah Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran apapun, itulah sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran wujudnya Allah Ta’ala, beliau ikuti manhaj al-Qur’anul Karim sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan teori-teori kaum filosof.
Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan, “Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah maupun- alam atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu memberikan kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang Pemiliknya. Mengingkari adanya Pencipta yang telah diakui oleh akal dan fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya. Bahwa telah dimaklumi; adanya Rabb Ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah dibandingkan dengan adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian, berarti akal dan fitrahnya perlu dipertanyakan.”
Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa kegoncangan dan kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari luar yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda lihat Ibnul Qayyim waktu itu memerintahkan untuk membuang perpecahan sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang kepada Kitabullah Ta’ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang suci dan murni, tidak terkotori oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa’ wal bida’ (Ahli Bid’ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.
Oleh sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada itu, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi beliau mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa’id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah Ta’ala,
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itulah yang haq.” (Saba’:6).
Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.
Kendatipun beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan madzhab-madzhab yang masyhur.
Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya.
Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa berjalan bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari’ adalah al-Qur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat manakala melakukan suatu penelitian dan manakala sedang berargumentasi.
Di antara da’wahnya yang paling menonjol adalah da’wah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi.
Adapun cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari’ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui baik).
Ujian Yang Dihadapi
Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan menjadi penentang segenap bid’ah yang telah mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh orang-orang semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya.
Orang-orang pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra. Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-Qal’ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.
Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera dengan cambuk.
Pada saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, tadabbur dan tafakkur. Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah tetap konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.
Pujian Ulama Terhadapnya
Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal, sangat cinta pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya sepanjang masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat serta keluasan wawasannya.
Ibnu Hajar pernah berkata mengenai pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab salaf.”
Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau seorang yang bacaan Al-Qur’an serta akhlaqnya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”
Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untuk dzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukan imamah dalam hal din (agama).’”
Ibnu Rajab pernah menukil dari adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabi mengatakan, “Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan penelitian terhadap rijalul hadits (para perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.”
Tsaqafahnya
Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh. Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.
Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.
Karya-Karyanya
Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal sebagai orang yang mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras demi pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya banyak sekali, baik yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis banyak hal dengan tulisan tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain hanya mampun menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai kitab. Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab berbobot dalam pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya dilengkapi dengan gaya bahasa nan menarik.
Beberapa Karyanya
1. Tahdzib Sunan Abi Daud,
2. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin,
3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,
4. Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,
5. Bada I’ul Fawa’id,
6. Amtsalul Qur’an,
7. Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan,
8. Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil,
9. At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an,
10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris,
11. Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain,
12. Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in,
13. Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’
14. Syarhu Asma’il Kitabil Aziz,
15. Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad,
16. Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’
17. Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,.
18. Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah,
19. Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah,
20. Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul,
21. Hadi al-Arwah ila biladil Arrah,
22. Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin,
23. al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi,
24. Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,
25. Miftah daris Sa’adah,
26. Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah,
27. Raf’ul Yadain fish Shalah,
28. Nikahul Muharram,
29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,
30. Fadl-lul Ilmi,
31. ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin,
32. al-Kaba’ir,
33. Hukmu Tarikis Shalah,
34. Al-Kalimut Thayyib,
35. Al-Fathul Muqaddas,
36. At-Tuhfatul Makkiyyah,
37. Syarhul Asma il Husna,
38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,
39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim,
40. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,
41. Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang digemari oleh berbagai pihak.
Wafatnya
Ibnul-Qoyyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.
– Al-Bidayah wan Nihayah libni Katsir,
– Muqaddimah Zaadil Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth,
– Muqaddimah I’lamil Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d,
– Al-Badrut Thali’ Bi Mahasini ma Ba’dal Qarnis Sabi’ karya Imam asy-Syaukani,
– Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad,
– Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani,
– Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali,
– Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi,
– Bughyatul Wu’at karya Suyuthi,
– Jala’ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi.