Biografi: Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah
Nama
sebenarnya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin
Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal
dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang
dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali
al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah
tonggak bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga
berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di kampung Zara’
dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55
mil.
Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya
Ia belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol
dalam ilmu itu. Belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy
dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’ kemudian kitab
al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab
al-kafiyah was Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar
dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian dari kitab al-Muqarrib li
Ibni Ushfur.
Belajar ilmu Ushul dari Syaikh
Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan
Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy.
Beliau amat cakap dalam hal ilmu
melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan amat
dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.
Pada akhirnya beliau benar-benar
bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah
sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya
tahun 728 H.
Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada
awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk
sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu
Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul
Qayyim amat mencintainya, sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan
ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim yang
menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya
yang bagus dan dapat diterima.
Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina
dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk
di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun
dilepaskan dari penjara.
Sebagai hasil dari mulazamahnya
(bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat
mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah
mengajak orang supaya kembali kepada kitabullah Ta’ala dan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah, berpegang kepada
keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh
as-Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya,
serta memperbaharui segala petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya
secara benar dan membersihkannya dari segenap bid’ah yang diada-adakan
oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari
hawa-hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad
sebelumnya, yakni: Abad kemunduran, abad jumud dan taqlid buta.
Beliau peringatkan kaum muslimin dari
adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model
orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.
Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang
untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para Ulama supaya dapat
memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu
Islam.
Penguasaannya terhadap Ilmu Tafsir tiada
bandingnya, pemahamannya terhadap Ushuluddin mencapai puncaknya dan
pengetahuannya mengenai Hadits, makna hadits, pemahaman serta
Istinbath-Istinbath rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.
Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau
rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni bahwa “Baiknya”
perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali
kepada madzhab as-Salafus ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan
syari’ah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam asy-syarifah.
Oleh karena itu beliau berpegang pada
(prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath hukum
berdasarkan petunjuk al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah,
fatwa-fatwa shahih para shahabat serta apa-apa yang telah disepakati
oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immatul Fiqhi (para imam
fiqih).
Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya
bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa oleh
Syari’ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan
serta kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat.
Beliau rahimahullah benar-benar
menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam berbagai
disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu,
siang maupun malam dan terus banyak berdo’a.
Sasarannya
Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang
agung. Beliau telah susun semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh
Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam dan orang-orang
dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga
Hijriyah ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika
panji-panji Islam telah berkibar di semua sudut bumi dan ketika
berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman,
tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan
dendam kesumat dan bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul
Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini sengaja melancarkan syubhat
(pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap
ayat-ayat al-Qur’anul Karim.
Mereka banyak membuat penafsiran,
ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud
menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin.
Maka adalah satu keharusan bagi para
A’immatul Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat pembelaan
terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta
gang-nya dari kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran
secara shahih terhadap ketentuan-ketentuan hukum syari’ah, dengan
berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman Allah Ta’ala: “Dan Kami
turunkan Al Qur’an kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl:44).
Juga firman Allah Ta’ala, “Dan apa-apa
yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).
Murid-Muridnya
Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar,
memberi fatwa, berdakwah dan melayani dialog. Karena itulah banyak
manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan
ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid
beliau. Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti
keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri bernama
Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu
Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam
al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab
Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin Muhammad
bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin
Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali
bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir
al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.
Aqidah Dan Manhajnya
Adalah Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit
kotoran apapun, itulah sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan
kebenaran wujudnya Allah Ta’ala, beliau ikuti manhaj al-Qur’anul Karim
sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara
pandang yang benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau
mempergunakan teori-teori kaum filosof.
Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan,
“Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah maupun- alam
atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu
memberikan kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang
Pemiliknya. Mengingkari adanya Pencipta yang telah diakui oleh akal dan
fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya. Bahwa
telah dimaklumi; adanya Rabb Ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah
dibandingkan dengan adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta
fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian, berarti akal dan fitrahnya
perlu dipertanyakan.”
Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar
tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa kegoncangan dan
kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari
luar yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda
lihat Ibnul Qayyim waktu itu memerintahkan untuk membuang perpecahan
sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang kepada Kitabullah
Ta’ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim
rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang suci
dan murni, tidak terkotori oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul
Ahwa’ wal bida’ (Ahli Bid’ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang
yang suka mempermainkan agama.
Oleh sebab itulah beliau rahimahullah
mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang telah mengaji
langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah
sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi)
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada itu, tidaklah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi
beliau mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa’id meriwayatkan dari
Qatadah tentang firman Allah Ta’ala,
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (itu) melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itulah yang haq.” (Saba’:6).
Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.
Kendatipun beliau adalah pengikut
madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya kaum
Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian
tentang perbandingan madzhab-madzhab yang masyhur.
Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa
Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam madzhab yang empat,
maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim
rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau
menyelisihi madzhab Hanabilah dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering
beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab yang
bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya.
Memang, prinsip beliau adalah ijtihad
dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa berjalan
bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal
tasyari’ adalah al-Qur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat,
dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat manakala melakukan suatu
penelitian dan manakala sedang berargumentasi.
Di antara da’wahnya yang paling menonjol
adalah da’wah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan manhajnya dalam
masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk
atas adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya
belum pernah terjadi.
Adapun cara pengambilan istinbath hukum,
beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Fatwa-fatwa
shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada
yang asli), al-Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari’ah (tindak
preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui baik).
Ujian Yang Dihadapi
Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis
taqlid turun temurun dan menjadi penentang segenap bid’ah yang telah
mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh orang-orang
semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat
barunya.
Orang-orang pun terbagi menjadi dua
kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra. Oleh karena
itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau
seringkali mengalami gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-Qal’ah dan baru
dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.
Hal itu disebabkan karena beliau
menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para
wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas
seekor onta sambil didera dengan cambuk.
Pada saat di penjara, beliau menyibukkan
diri dengan membaca al-Qur’an, tadabbur dan tafakkur. Sebagai hasilnya,
Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di
samping ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi
karena beliau berfatwa tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda asalkan
tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah tetap
konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang.
Hal demikian disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran
beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala atasnya, mengampuninya dan
mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.
Pujian Ulama Terhadapnya
Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah
teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun muridnya. Beliau
adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal,
sangat cinta pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang
mengenalnya tentu ia akan mengenangnya sepanjang masa dan akan
menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan
kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat serta keluasan
wawasannya.
Ibnu Hajar pernah berkata mengenai
pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas
pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab
salaf.”
Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan,
“Beliau seorang yang bacaan Al-Qur’an serta akhlaqnya bagus, banyak
kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang.
Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya
hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun
beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”
Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau
rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah. Jika
telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya
untuk dzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau
pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak
mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah
mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan
didapat kedudukan imamah dalam hal din (agama).’”
Ibnu Rajab pernah menukil dari
adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabi mengatakan,
“Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan
penelitian terhadap rijalul hadits (para perawi hadits). Beliau juga
sibuk mendalami masalah fiqih dengan ketetapan-ketetapannya yang baik,
mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.”
Tsaqafahnya
Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim
dan bersungguh-sungguh. Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala
tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan
Mesir.
Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih,
kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah
tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu,
keseluruhan kitab-kitabnya memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh
karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah
yang agung.
Karya-Karyanya
Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan,
terkenal sebagai orang yang mempunyai prinsip dan beliau ingin agar
prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras demi
pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Buku-buku karangannya
banyak sekali, baik yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau
telah menulis banyak hal dengan tulisan tangannya yang indah. Beliau
mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain
hanya mampun menguasai sepersepuluhnya. Beliau teramat senang
mengumpulkan berbagai kitab. Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung
sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab berbobot dalam
pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya
bahasanya yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung
kedalaman pemikirannya dilengkapi dengan gaya bahasa nan menarik.
Beberapa Karyanya
1. Tahdzib Sunan Abi Daud,
2. I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin,
3. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,
4. Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,
5. Bada I’ul Fawa’id,
6. Amtsalul Qur’an,
7. Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan,
8. Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil,
9. At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an,
10. At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris,
11. Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain,
12. Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in,
13. Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’
14. Syarhu Asma’il Kitabil Aziz,
15. Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad,
16. Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’
17. Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,.
18. Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah,
19. Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah,
20. Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul,
21. Hadi al-Arwah ila biladil Arrah,
22. Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin,
23. al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi,
24. Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,
25. Miftah daris Sa’adah,
26. Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah,
27. Raf’ul Yadain fish Shalah,
28. Nikahul Muharram,
29. Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,
30. Fadl-lul Ilmi,
31. ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin,
32. al-Kaba’ir,
33. Hukmu Tarikis Shalah,
34. Al-Kalimut Thayyib,
35. Al-Fathul Muqaddas,
36. At-Tuhfatul Makkiyyah,
37. Syarhul Asma il Husna,
38. Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,
39. Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim,
40. Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,
41. Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang digemari oleh berbagai pihak.
Wafatnya
Ibnul-Qoyyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia
dishalatkan di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’
Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.
– Al-Bidayah wan Nihayah libni Katsir,
– Muqaddimah Zaadil Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth,
– Muqaddimah I’lamil Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d,
– Al-Badrut Thali’ Bi Mahasini ma Ba’dal Qarnis Sabi’ karya Imam asy-Syaukani,
– Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad,
– Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani,
– Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali,
– Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi,
– Bughyatul Wu’at karya Suyuthi,
– Jala’ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi.