Selasa, 31 Maret 2020
BAB MAFUL MA'AH
BAB MAFUL MA'AH
1.Maf’ul Ma’ah مَفْعُوْلُ مَعَهُ merupakan isim manshub yang terletak sesudah huruf Wau (و). Akan tetapi, wau itu tidak bermakna DAN (kata sambung). Melainkan mempunayi makna bersama atau kebersamaan. Maka dari itulah Maf'ul Ma'ah pun disebut Wau Ma'iyyah, sampai-sampai wawu maiyah pengertiannya sama saja dengan Maf'ul Ma'ah.
Contoh: سِرْتُ وَالْجَبَلَ (Aku berjalan bareng gunung). Kata الْجَبَلَ
dibaca manshub dengan berharokat fathah sebab sebagai maf'ul ma'ah
dalam format isim mufrod. Contoh lain:
جَاءَ الأمُّ وَوَلَدُهَا وَغُرُوْبَ الشَّمْسِ > "Seorang Ibu dan Anaknya datang bersamaan dengan terbenamnya matahari"
زَيْدٌ وَتَغْرِيْدَ الطُّيُوْرِ > "Zaid bangun bersamaan dengan burung berkicau"
رَجَعَ زَيْدٌ وَطُلُوْعَ الْفَجْرِ > "Zaid pulang bersamaan dengan terbitnya fajar"
Cara memisahkan Wau Ma'iyyah dengan Wau 'Athaf
Sebelumnya saya pernah mencatat tentang wau athaf pada bab mengenai athaf. Karena disini membicarakan masalah wau ma'iyyah. Adakalah saya dan anda butuh mengetahui perbedaannya.
1. Kalau wau athof, i'robnya (harokat) mengekor lafadz sebelumnya. Jika harokat fathah maka ma'tufnya pun fathah. andai kasroh maka pun kasroh. Jika harokatnya dhammah maka ikut dhammah. Berbeda dengan wawu ma'iyyah. I'robnya me sti nashob sebagaimana definisi diatas. Contoh : جَاءَ عُمَرُ وَغُرُوْبَ الشَّمْسِ (Telah datang umar bareng dengan tenggelamnya matahari) Kata غُرُوْبَ manshub dengan harokat fathah sebab sebagai maf’ul ma’ah
2. Untuk memisahkan Wau Ma'iyyah dengan Wau 'Athaf dapat juga disaksikan dari makna/artinya. Kalau Wau 'Athaf bermakna DAN (kata sambung), maka Wau Ma'iyyah bermakna BERSAMA.
SYARAT SYARAT MAF’UL MA’AH
1. Berbentuk isim Fadhlah
Adanya isim tersebut tergolong kelebihan. Maksudnya tanpa adanya isim terebut sebetulnya jumlah itu sudah dapat dipahami
contoh : دَعِ الظَّالِمَ وَالأَيَّامَ
2. Sebelum Wawu Ma’iyyah terdapat Jumlah misal جَاءَ الاَمِيرُ وَالجَيْسَ (raja datang bersamaan dengan prajurit)
3. Maf’ul ma’ah terletak langsung sesudah huruf WAU yang dinamakan dengan WAU ma’iyyah. Tidak boleh terdapat lafadz pemisah sebelumnya.
4. WAU ma’ah mengindikasikan suatu kebersamaan, bukan kata sambung
Berikut ialah contoh-contoh maf'ul ma'ah atau wau ma'iyyah:
غَزَا الرِجَالُ وَالْقَائِدَ (para lelaki berperang beserta panglima)
ذَهَبَ التُّجَّارُ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ (para saudagar pergi saat terbit matahari)
شَرِبَ الْمُدَرِّسُ وَ التِّلْمِيْذَ (Guru tersebut minum bersamaan dengan murid)
وَقَفَ الْوَلَدُ وَ الضِّيْفَ (Anak laki-laki tersebut berhenti bersamaan dengan tamu)
جَاءَ عُمَرُ وَغُرُوْبَ الشَّمْسِ (Umar datang bareng dengan tenggelamnya matahari)
جَاءَ مُحَمَّدٌ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ (Muhammad datang bersamaan dengan terbitnya matahari)
DEMIKIAN RINGKASAN MAF'UL MAAH SEMOGA BERMANFAAT
BAB MAF'UL LIAJLIHI
BAB MAF'UL LIAJLIHI
A.Pengertian Maf’ul Liajlih
Maf’ul liajlih ialah ISIM MANSUB MENERANGKAN SEBAB TERJADINYA FIIL
Contoh:
Penjelasan :
kata 'mendidik', 'cinta', 'lelah', 'lapar', dan 'rindu' adalah menjadi Maf’ul Li Ajlih, hukumnya Nashob dan tanda Nashob nya adalah Fathah.
Penjelasan :
Sebenarnya hukum Maf’ul li Ajlih ialah dibaca Nashob, tetapi dapat di Jarr dengan huruf Lam (ل) dan terkadang Maf’ul li Ajlih sama sekali tidak menduduki sebagai ma'ful li ajlih, namun menjadi Jarr-Majrur dan mempunyai ta'aluq atau hubungan dengan kata sebelumnya.
B.Ketentuan-ketentuan Maf’ul Li ajlih :
Terdapat sejumlah ketentuan Maf’ul Li Ajlih diantaranya :
1. Maf’ul Li ajlih mesti senantiasa memakai Mashdar
Contoh :
Penjelasan :
Lafazh-lafazh tersebut tindakan yang sehubungan dengan hati.
3. Untuk menggali Maf’ul Li Ajlih dapat dipakai kata tanya
( kenapa ).
Penjelasan :
Lafazh-lafazh itu adalah jawaban dari pertanyaan “ mengapa”, atau terdapat hubungan sebab-akibat dari sebuah perbuatan.
A.Pengertian Maf’ul Liajlih
Maf’ul liajlih ialah ISIM MANSUB MENERANGKAN SEBAB TERJADINYA FIIL
Contoh:
جَلَسْتُ عَلَى الكُرْسِيِّ تَعْبًا
(Aku duduk di atas kursi karena lelah)
رَجَعْتُ إِلَى البَيْتِ شَوْقًا لِلْأسْرَةِ
(Aku pulang ke rumah karena kangen dengan keluarga)
أكَلْتُ الطَعَامَ جَوْعًا
(Aku memakan makanan karena lapar)
أذهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ رَغْبَةً فِيْ الْعِلْمِ
( Aku berangkat ke sekolah sebab mencintai Ilmu)
ضَرَبْتُ الْوَلَدَ تَأْدِيْبًا لَهُ
( Aku memukul anak tersebut karena bermaksud guna mendidiknya)
Penjelasan :
kata 'mendidik', 'cinta', 'lelah', 'lapar', dan 'rindu' adalah menjadi Maf’ul Li Ajlih, hukumnya Nashob dan tanda Nashob nya adalah Fathah.
Lafazh-lafazh yang biasa menjadi maf’ul liajlih:
إِكْرَامًا (sebab hormat) حيَاءً(karena malu)
حُزْنًا (karena sedih) رَحْمَةً (karena sayang)
خَوْفًا (karena takut) حَسَدًا (karena iri)
حُبًّا (karena cinta) بُغْضًا ( sebab marah)
( sebab mendidik) إِيْمَانًا (karena beriman)
شَفَقَةً (sebab kasihan) فَرْحًا (karena senang)
تَعْبًا (karena lelah) شُكْرًا (karena bersyukur)
غَضْبًا (karena marah) رَغْبَةً (karena cinta)
Penjelasan :
Sebenarnya hukum Maf’ul li Ajlih ialah dibaca Nashob, tetapi dapat di Jarr dengan huruf Lam (ل) dan terkadang Maf’ul li Ajlih sama sekali tidak menduduki sebagai ma'ful li ajlih, namun menjadi Jarr-Majrur dan mempunyai ta'aluq atau hubungan dengan kata sebelumnya.
Contoh:
أَعْطَيْتُ الْفَقِيْرَ طَعَامًا لِشَفَقَتِهِ
(Aku memberi orang fakir tersebut makanan sebab kasihan kepadanya)
perhatikan kata 'لِشَفَقَتِهِ', kata tersebut sebenarnya berkedudukan
sebagai ma'ful liajlih, tapi dalam kalimat tersebut kata 'لِشَفَقَتِهِ'
dibaca jar karena ada huruf lam 'لِ', karena kata tersebut diawali
dengan huruf lam (huruf jar) maka ia mempunyai hubungan dengan kata
sebelumnya, perhatikan : 'saya memberi orang fakir tersebut makanan' ini
adalah kalimat pertamanya,, karena kemasukan huruf jar pada kata
'لِشَفَقَتِهِ' maka jar majrur tersebut mempunyai hubungan, dan
diterjemahkan dengan kata 'sebab kasihan kepadanya'.
Contoh I’ROB :
أكَلْتُ الرُزَّ جَوْعًا
Saya makan nasi karena lapar
أكَلْتُ : “أكَلْ” فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ ،
وَ "التَّاءُ" ضمير مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ فَاعِلٌ
الرُرَّ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ و عَلَامَةُ نَصْبِهِ فَتْحَةٌ
جَوْعًا: مَفْعُوْلٌ لِأجْلِهِ مَنْصُوْبٌ و عَلَامَةُ نَصْبِهِ فَتْحَةٌ
أكَلْتُ : 'telah makan' fiil madhi mabni sukun, adapun huruf “Ta” ialah Dhomir Fa’il mabny atas Dhommah dibaca rofa.
الرُرَّ: maf'ul bih dibaca nashob, tanda nashobnya adalah fathah.
جَوْعًا: maf'ul liajlih dibaca nashob, tanda nashobnya adalah fathah.
B.Ketentuan-ketentuan Maf’ul Li ajlih :
Terdapat sejumlah ketentuan Maf’ul Li Ajlih diantaranya :
1. Maf’ul Li ajlih mesti senantiasa memakai Mashdar
Contoh :
إِكْرَامًا (sebab hormat) حيَاءً(karena malu)
حُزْنًا (karena sedih) رَحْمَةً (karena sayang)
خَوْفًا (karena takut) حَسَدًا (karena iri)
حُبًّا (karena cinta) بُغْضًا ( sebab marah)
تَاْدِيْبًا ( sebab mendidik) إِيْمَانًا (karena beriman)
شَفَقَةً (sebab kasihan) فَرْحًا (karena senang)
تَعْبًا (karena lelah) شُكْرًا (karena bersyukur)
غَضْبًا (karena marah) رَغْبَةً (karena cinta)
2. Maf’ul Li Ajlih me sti terdiri dari tindakan yang bersangkutan dengan hati dan dinamakan أَفْعَالُ الْقَلْب
تَأْدِيْبًا , رَغْبَةً , إِيْمَانًا, حُبًّا, طَعَامًا
Penjelasan :
Lafazh-lafazh tersebut tindakan yang sehubungan dengan hati.
3. Untuk menggali Maf’ul Li Ajlih dapat dipakai kata tanya
( kenapa ).
تَأْدِيْبًا , رَغْبَةً , إِيْمَانًا, حُبًّا, طَعَامًا
Penjelasan :
Lafazh-lafazh itu adalah jawaban dari pertanyaan “ mengapa”, atau terdapat hubungan sebab-akibat dari sebuah perbuatan.
BAB MAF'UL MUTLAQ
BAB MAF'UL MUTLAQ
A. Pengertian Maf’ul Muthlaq
Maf’ul Muthlaq ialah ISIM MASDAR MANSUB bertujuan untuk penegasan dan penjelasan jenis atau jumlah perbuatannya.
1. Maf’ul muthlaq berupa kalimat isim
2. Maf'ul muthlaq bertujuan untuk penegasan, penjelas dari fi'il (baik jenis maupun jumlah pekerjaannya)
3. Dibaca nashob dan dinashobkan oleh amil. Adapun amil yang menashobkan maf’ul muthlaq yaitu :
Maf'ul Mutlaq ialah isim manshub yang dilafalkan untuk 3 keadaan:
Kata حِفْظًا adalah isim yang dibaca nashob dengan fathah sebab isim mufrod, dan ia menjadi maf'ul mutlaq. Kata tersebut bertugas untuk menegaskan perbuatan. Jika kita perhatikan baik-baik bentuk katanya, maf’ul mutlaq adalah isim yang berasal dari lafad fi’ilnya, dalam ilmu shorof disebut isim mashdar. Sehingga untuk menciptakan maf’ul bih sebuah fi’il, dengan teknik mengganti fi’il itu menjadi isim mashdar.
A. Pengertian Maf’ul Muthlaq
Maf’ul Muthlaq ialah ISIM MASDAR MANSUB bertujuan untuk penegasan dan penjelasan jenis atau jumlah perbuatannya.
Contoh :
ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا, أكْرَمَ يُكْرِمُ إكْرَامًا,
Dari pengertian maf’ul muthlaq itu member kepahaman bahwa :1. Maf’ul muthlaq berupa kalimat isim
2. Maf'ul muthlaq bertujuan untuk penegasan, penjelas dari fi'il (baik jenis maupun jumlah pekerjaannya)
3. Dibaca nashob dan dinashobkan oleh amil. Adapun amil yang menashobkan maf’ul muthlaq yaitu :
Fi’il taam yang mutashorrif: kata kerja sempurna yang dapat ditashrif (maksudnya bukan fi’il naqhis dan fi’il jamid )
ضَرَبْتُ كَلْبًا ضَرْبَتَيْنِ
Aku memukul Anjing dengan dua kali pukulan
Mashdar
عَحِبْتُ مِنْ ضَرْبِكَ ضَرْبًا شَدِيْدًا
Aku terkejut atas pukulanmu dengan pukulan yang keras
Isim sifat
أنَا ضَارِبُ زَيْدٍ ضرْبَ أبِيْهِ
Aku memukul Zaid seperti pukulan ayahnya
Maf'ul Mutlaq ialah isim manshub yang dilafalkan untuk 3 keadaan:
- Untuk menegaskan sebuah perbuatan
- Untuk menyatakan bilangan perbuatan
- Untuk menyatakan jenis/sifat perbuatan
a. Contoh sebagai penegas perbuatan
حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظًا
“ Aku sudah menghafal pelajaran tersebut dengan sangat hafal”Kata حِفْظًا adalah isim yang dibaca nashob dengan fathah sebab isim mufrod, dan ia menjadi maf'ul mutlaq. Kata tersebut bertugas untuk menegaskan perbuatan. Jika kita perhatikan baik-baik bentuk katanya, maf’ul mutlaq adalah isim yang berasal dari lafad fi’ilnya, dalam ilmu shorof disebut isim mashdar. Sehingga untuk menciptakan maf’ul bih sebuah fi’il, dengan teknik mengganti fi’il itu menjadi isim mashdar.
yang mengindikasikan penegas tindakan :
حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظاً
(Saya menghapal latihan dengan sesungguhnya)
ضربْتُهٌ ضرباً شديداً
(Saya memukulnya dengan pukulan keras)
أكلْتُ أكْلاً كثيراً
(Saya makan dengan banyak)
b. Contoh untuk menyatakan bilangan
ضَرَبْتُهُ ضَرْبَةً
“ Aku memukulnya dengan satu kali pukulan “
Kata ضَرْبَةً adalah isim manshub dengan fathah, sebab isim mufrod, sebagai maf'ul mutlaq. Pada kalimat ini, maf’ul mutlaq bermanfaat sebagai penjelas bilangan dari perbuatan. Jika anda belajar ilmu shorof, anda akan temukan format isim masdar yang lebih dari satu, laksana halnya pada misal di atas.
Kata ضرب dapat memiliki isim masdar yang lebih dari satu, dan pemakai annya bermacam-macam, terdapat yang guna sebagai penjelas tindakan atau untuk menyatakan bilangan, sampai-sampai untuk dapat menyusun suatu kalimat yang memiliki maf’ul mutlaq, maka butuh adanya pengetahuan mengenai bentuk-bentuk isim masdar dari sebuah fi’il.
Contoh beda yang menyatakan bilangan :
ضَرَبْتُ الكَلْبَ ثَلاَثَ ضَرَبَاتٍ
(Saya memukul anjing sejumlah tiga kali)
ضربْتُهُ ضربةً
(Saya memukulnya satu kali pukulan)
أكلْتُ أكلَةً
(Saya makan satu kali suap)
c. Contoh untuk menyatakan jenis/sifat
مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
"Barang siapa yang keluar dari ketaatan Seorang pemimpin sejengkal saja, lantas ia mati,maka matinya laksana kematian jahiliyah".
Pada kalimat di atas ada kata مِيتَةً yang dibaca nashob. Kata itu adalah maf’ul muthlaq karena bermanfaat sebagai penjelas jenis dari fi’il yang digunakan yakni مَاتَ. Pada situasi ini, maf’ul muthlaq mesti dibuntuti oleh na’at. Sehingga maf’ul muthlaq yang bermanfaat untuk menyatakan jenis/sifat fi’il mesti dibuntuti oleh na’at/sifat atau disandarkan ke isim yang lainnya.
Contoh lagi :
جَلَسْتُ جِلْسَةَ العُلَمآءِ
(Saya duduk seperti duduknya semua ulama) =
B. Macam-macam Maf’ul Muthlaq
Masdar yang menjadi maf’ul muthlaq terdapat dua yakni :
a. Masdar Lafdzi
Yaitu bilamana lafadznya masdar sesuai dengan lafadznya fi’il.
Contoh :
قَتَلْتُهُ قَتْلاً saya benar-benar telah membunuh Zaid.
Lafadz قَتْلاً adalah masdar yang menjadi maf’ul muthlaq, lafadznya mirip dengan lafadz fi’ilnya yakni قَتَلَ , maka disebut masdar lafdzi.
b. Masdar Maknawi
Yaitu bilamana masdar sesuai dengan artinya fi’il, tetapi tidak sesuai dalam lafadznya.
Contoh :
جَلَسْتُ قُعُوْدًا saya duduk dengan sesungguhnya
قُمْتُ وُقُوْفًا saya berdiri dengan sesungguhnya
Masdar قُعُوْدًا yang menjadi maf’ul muthlaq, artinya sama dengan artinya fi’ilnya, lafadz جَلَسْتُ (maknanya duduk), tetapi tidak sama dalam lafadznya, begitu pun dengan lafadz وُقُوْفًا dengan قُمْتُ, oleh sebab itu disebut masdar maknawi.
C. Hukum Maf’ul Mutlaq
Hukum maf’ul mutlaq terdapat tiga macam :
1. Wajib dibaca nashob, misal : رأيتُهُ مُسرعاً إسراعاً عظيماً
2. Wajib jatuh sesudah amilnya andai untuk menguatkan. Apabila untuk menyatakan jenis atau bilangannya maka boleh jatuh sesudah atau sebelumnya. Contoh : اجتهدتَ اجتهاداً حسَناً
3. Amil Maf’ul Mutlaq boleh dibuang, andai maf’ul mutlaq tersebut menyatakan jenis atau bilangannya dan pun ada qorinah/hubungan yang mengindikasikan amil tersebut. Dalam artian menjadi jawaban dari suatu pertanyaan.
Contoh : اجتهاداً حسَناً
Kata “ اجتهاداً حسَناً “ ialah jawaban daripertanyaan “كيف اجتهدت
Kesimpulan
Berdasarkan ulasan yang sudah diuraikan diatas, maka dapat diputuskan bahwa Maf’ul Muthlaq ialah kalimat isim yang terbaca nashob yang berada pada urutan yang ketiga dari tashrifannya fi’il.
Maf’ul muthlaq merupakan untuk mengindikasikan 3 hal yakni :
1. Bagi menegaskan suatu tindakan ( ضربْتُ ضرباً شديداً)
2. Untuk menyatakan bilangan tindakan (ضَرَبْتُ الكَلْبَ ثَلاَثَ ضَرَبَاتٍ)
3. Untuk menyatakan jenis/sifat tindakan (جَلَسْتُ جِلْسَةَ العُلَمآءِ).
Macam-macam maf’ul muthlaq terdapat dua yakni : Masdar Lafdzi (قَتَلْتُهُ قَتْلاً ) (Yaitu bilamana lafadznya masdar sesuai dengan lafadznya fi’il) dan Masdar Maknawi (جَلَسْتُ قُعُوْدًا)( Yaitu bilamana masdar sesuai dengan artinya fi’il, tetapi tidak sesuai dalam lafadznya).
Hukum maf’ul muthlaq yakni :
1. Wajib dibaca nashob.
2. Wajib jatuh sesudah amilnya andai untuk menguatkan.
3. Amil Maf’ul Mutlaq boleh dibuang, andai maf’ul mutlaq tersebut menyatakan jenis atau bilangannya dan pun ada qorinah yang mengindikasikan amil tersebut.
BAB MAF'UL BIH
BAB MAF'UL BIH
Pengertian Maf'ul Bih
Maf'ul bih :isim manshub (yang dibaca nashob) yang menjadi sasaran tindakan (objek).
Contoh :
muhamad membaca buku = قرأ محمد كتابا
muhamad memukul anjing = ضرب محمد كلبا
yang berwarna biru sebagaai maful bih
Contoh lainnya :
اَكَلْتُ الطَعَامَ = Aku sudah memakan makanan.
Yang menjadi sasaran perbuatannya (memakan) ialah makanan, maka kata tersebut menjadi maf’ul bih.
Dengan misal di atas sudah paling jelas sekali untuk mengetahui pembahasan mengenai maful bih dalam ilmu nahwu.
______________________________________________________
DEMIKIAN PEMBAHASAN SINGKAT TENTANG MAFUL BIH SEMOGA BERMANFAAT
BAB MACAM MACAM FIIL
MACAM MACAM FIIL
Kata kerja / F’il terbagi tiga:
1. Fi’il Madhi – Kata kerja Lampau:
Kata kerja menunjukkan kejadian bentuk lampau, yang telah terjadi sebelum masa berbicara. Seperti :
قَرَأَ
“Telah membaca”.
Tanda-tandanya adalah dapat menerima Ta’ Fa’il dan Ta’ Ta’nits Sakinah. Seperti :
قَرَأْتُ
QORO’TU = “Aku telah membaca” dan
قَرَاَتْ
QORO’AT = “Dia (seorang perempuan) telah membaca”.
2. Fi’il Mudhori’ – Kata kerja bentuk sedang atau akan:
Kata kerja menunjukkan kejadian sesuatu pada saat berbicara atau setelahnya, pantas digunakan untuk kejadian saat berlangsung atau akan berlangsung.
Dapat dipastikan kejadian itu terjadi saat berlangsung dengan dimasukkannya Lam Taukid dan Ma Nafi. Seperti:
قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ
Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku…
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
…Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati…
Dapat dipastikan kejadian itu terjadi akan berlangsung dengan dimasukkannya :
س, سوف, لن, أن, ان.
SYIN, SAUFA, LAN, AN dan IN
Seperti:
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَانِي
berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلاًّ مِّن سَعَتِهِ
Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya.
Tanda-tanda Fi’il Mudhori’ adalah: bisa dimasuki لَمْ seperti contoh:
لَمْ يَقْرَأْ
artinya: tidak membaca.
Ciri-ciri Kalimah Fi’il Mudhari’ adalah dimulai dengan huruf Mudhoro’ah yang empat yaitu أ – ن – ي – ت disingkat menjadi أنيت.
Huruf Mudhara’ah Hamzah dipakai untuk Mutakallim/pembicara/orang pertama tunggal/Aku. contoh
أضرب
ADHRIBU = aku akan memukul
Huruf Mudhara’ah Nun dipakai untuk Mutakallim Ma’al Ghair/pembicara/orang pertama jamak/Kami. contoh
نــضرب
NADHRIBU = kami akan memukul
Huruf Mudhara’ah Ya’ dipakai untuk Ghaib Mudzakkar/orang ketiga male, tunggal, dual atau jamak/dia atau mereka. contoh
يــضرب
YADHRIBU = dia (pr) akan memukul
يــضربان
YADHRIBAANI = dia berdua (lk-pr) akan memukul
يــضربون
YADHRIBUUNA = mereka (lk) akan memukul
يــضربن
YADHRIBNA = mereka (pr) akan memukul
Huruf Mudhara’ah Ta’ dipakai untuk Mukhatab secara Mutlaq/orang kedua male atau female, juga dipakai untuk orang ketiga female tunggal dan dual. contoh
تــضرب
TADHRIBU = kamu (lk)/dia (pr) akan memukul
تــضربا
TADHRIBAA = kamu berdua (lk-pr)/dia berdua (pr) akan memukul
تــضربون
TADHRIBUUNA = kamu sekalian (lk) akan memukul
تــضربين
TADHRIBIINA = kamu (pr) akan memukul
تــضربن
TADHRIBNA = kamu sekalian (pr) akan memukul
3. Fi’il Amar – Kata kerja bentuk perintah :
Kata kerja untuk memerintah atau mengharap sesuatu yang dihasilkan setelah masa berbicara. contoh:
اقْرأْ
IQRO’ = bacalah.
Tanda-tandanya adalah dapat menerima Nun Taukid beserta menunjukkan perintah. contoh
اقْرَأَنَّ
IQRO’ANNA = sungguh bacalah.
Minggu, 29 Maret 2020
BAB MU'ROB DAN MABNI PADA ISIM
BAB MU'ROB DAN MABNI PADA ISIM
ISIM DITINJAU DARI PERUBAHAN HAROKAT AKHIRNYA ADA 2
Pengertian Isim Mu'rab
1. ISIM MU'ROB
pertama adalah isim mu’rab (isim yang huruf akhirnya / harokatnya BISA berubah) dan ia ialah asli, yakni isim yang mengalami perubahan pada bagian akhirnya sebab berbedanya amil yang memasukinya, adakalanya perubahan secara lafadz, laksana lafadz زَيْدٌ dan عَمْرٌو , dan adakalanya perubahan secara alami perkiraan, laksana lafadz مُوْسَى dan اَلْفَتَى
Adapun Macam-Macam Isim Mu'rab adalah sebagai berikut:
1. المُفْرَد = al-mufrad = isim yang menunjukkan arti satu (dalam bahasa Inggris disebut juga dengan singular).
Contoh:
كِتَابٌ = kitaabun = dengan kata lain satu buku.
قَمَرٌ = qomarun = dengan kata lain satu bulan.
2. المُثَنَّى = al-mutsanna = isim yang menunjukkan arti dua.
Contoh:
كِتَابَانِ = kitaabaani = dengan kata lain dua buku.
مَدْرَسَتَانِ = madrosataani = dengan kata lain dua sekolah.
3. جمع المذكر السالم = jama' mudzakkar saalim = isim yang menunjukkan arti banyak/lebih dari dua (plural) yang dikhususkan untuk jenis laki-laki.
Contoh:
مُؤْمِنُوْنَ = mu'minuuna = dengan kata lain orang-orang yang beriman
4. جمع المؤنث السالم = jama' muannats saalim = isim yang menunjukkan arti banyak/lebih dari dua (plural) yang dikhususkan untuk jenis perempuan.
Contoh:
مَدْرَسَاتٌ = madrosaatun = sekolah-sekolah (banyak sekolah)
5. جمع التكسير = jama' taksir = isim yang menunjukkan arti banyak/lebih dari dua (plural) dan mempunyai perubahan format dari mufradnya atau berubah dari mufradnya.
Contoh:
a tunggal) dari rumah ialah كِتَابٌ / kitaabun.
Jama' nya ialah كُتُبٌ / kutubun.
6. اللأسماء الخمسة = al-asmaaul khamsah = nama-nama yang lima= isim yang berjumlah lima yang sama format dan perubahannya.
Nama-nama yang lima itu adalah: أَبٌ , أَخٌ , حَمٌ , فَمٌ , ذُوْ
7. المقصور = al-maqshur = isim yang berakhiran alif lazimah dan sebelumnya berjajar fathah.
Contoh:
الفَتَى = al-fataa = dengan kata lain pemuda/remaja
8. المنقوص = al-manquush = isim yang berakhiran ya lazimah dan sebelumnya berjajar kasrah.
Contoh:
الهَادِى = al-haadii = dengan kata lain petunjuk.
9. الأسم الذى لا ينصرف = isim yang tidak bertanwin.
Contohnya:
nama wanita laksana : فاطمة / faatimatu / fatimah
nama laki-laki yang berpola akhiran aan laksana 'utsmaanu / عُثْمَانُ
B. Pengertian Isim Mabni
Sedangan yang kedua ialah isim mabni (isim yang tetap), yakni tidak merasakan perubahan pada unsur akhir kata walaupun amil yang memasukinya berbeda-beda. laksana isim –isim dhamir (baik yang muttashil maupun yang munfashil), isim-isim kriteria , isim-isim istifham, isim-isim isyarah, isim-isim fi’il, dan isim-isim maushul.
Macam-macam Isim Mabni adalah sebagai berikut:
1. Isim dhamir dengan kata lain kata ganti orang, contohnya:
a. Kata ganti orang kesatu:
أَنَا (anaa) : saya.
نَحْنُ (nahnu) : kami.
b. Kata ganti orang kedua:
أَنْتَ (anta) : kamu (untuk laki-laki).
أَنْتِ (anti) : kamu (untuk perempuan).
أَنْتُمْ (antum) : kalian (untuk laki-laki).
أَنْتُنَّ (antunna) : kalian (untuk perempuan).
أَنْتُمَا (antumaa) : kalian berdua (untuk laki-laki dan perempuan).
c. Kata ganti orang ketiga.
هُوَ (huwa) : dia (untuk laki-laki).
هِيَ (hiya) : dia (untuk perempuan).
هُمْ (hum) : mereka (untuk laki-laki).
هُنَّ (hunna) : mereka (untuk perempuan).
هُمَا (humaa) : mereka berdua (untuk laki-laki dan perempuan).
Note:
Orang kesatu dinamakan mutakallim ( متكلم ).
Orang kedua dinamakan mukhaathab ( مخاطب )
Orang ketiga dinamakan ghaaib ( غائب ).
2. Isim isyarah artinya ialah kata tunjuk, yaitu:
هَذّا (haadza) : ini (untuk laki-laki)
هَذِهِ (hadzihi) : ini (untuk perempuan)
هَؤُلاَءِ (ha-u-laa-i) : ini seluruh (untuk laki-laki dan perempuan)
ذَلِكَ (dzalika) : itu (untuk laki-laki)
تِلْكَ (tilka) : itu (untuk perempuan).
أُولئِكَ (u-laa-i-ka) : itu seluruh (untuk laki-laki dan perempuan).
3. Isim maushul ialah kata penghubung, yaitu:
الَّذِى (alladzi) : yang (untuk laki-laki)
الذِيْنَ (alladziina) : mereka yang (untuk laki-laki)
الَّتِى (allatii) : yang (untuk perempuan).
اللاَّتِى atau اللآَّئِى ( allaatii atau allaa-ii) : mereka yang (untuk perempuan).
4. Isim istifham ialah isim yang dipakai sebagai kata tanya, misalnya:مَنْ (man) : siapa
كَيْفَ (kaifa) : bagaimana
أَيْنَ (aina) : mana
كَمْ (kam) : berapa
مَتَى (mataa) : kapan
هَلْ (hal) : apakah
مَا (maa) : apakah
5. Isim Syarat ialah isim yang membutuhkan jawab, yaitu:
مَنْ , مَتَى , مَا , مَهْمَا
Contoh:
مَنْ جَدَّ وَجَدَ : Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil
____________________________________________-
Demikian ringkasan bab mu'rob mabni semoga bermanfaat
ISIM DITINJAU DARI PERUBAHAN HAROKAT AKHIRNYA ADA 2
Pengertian Isim Mu'rab
1. ISIM MU'ROB
pertama adalah isim mu’rab (isim yang huruf akhirnya / harokatnya BISA berubah) dan ia ialah asli, yakni isim yang mengalami perubahan pada bagian akhirnya sebab berbedanya amil yang memasukinya, adakalanya perubahan secara lafadz, laksana lafadz زَيْدٌ dan عَمْرٌو , dan adakalanya perubahan secara alami perkiraan, laksana lafadz مُوْسَى dan اَلْفَتَى
Adapun Macam-Macam Isim Mu'rab adalah sebagai berikut:
1. المُفْرَد = al-mufrad = isim yang menunjukkan arti satu (dalam bahasa Inggris disebut juga dengan singular).
Contoh:
كِتَابٌ = kitaabun = dengan kata lain satu buku.
قَمَرٌ = qomarun = dengan kata lain satu bulan.
2. المُثَنَّى = al-mutsanna = isim yang menunjukkan arti dua.
Contoh:
كِتَابَانِ = kitaabaani = dengan kata lain dua buku.
مَدْرَسَتَانِ = madrosataani = dengan kata lain dua sekolah.
3. جمع المذكر السالم = jama' mudzakkar saalim = isim yang menunjukkan arti banyak/lebih dari dua (plural) yang dikhususkan untuk jenis laki-laki.
Contoh:
مُؤْمِنُوْنَ = mu'minuuna = dengan kata lain orang-orang yang beriman
4. جمع المؤنث السالم = jama' muannats saalim = isim yang menunjukkan arti banyak/lebih dari dua (plural) yang dikhususkan untuk jenis perempuan.
Contoh:
مَدْرَسَاتٌ = madrosaatun = sekolah-sekolah (banyak sekolah)
5. جمع التكسير = jama' taksir = isim yang menunjukkan arti banyak/lebih dari dua (plural) dan mempunyai perubahan format dari mufradnya atau berubah dari mufradnya.
Contoh:
Jama' nya ialah كُتُبٌ / kutubun.
6. اللأسماء الخمسة = al-asmaaul khamsah = nama-nama yang lima= isim yang berjumlah lima yang sama format dan perubahannya.
Nama-nama yang lima itu adalah: أَبٌ , أَخٌ , حَمٌ , فَمٌ , ذُوْ
7. المقصور = al-maqshur = isim yang berakhiran alif lazimah dan sebelumnya berjajar fathah.
Contoh:
الفَتَى = al-fataa = dengan kata lain pemuda/remaja
8. المنقوص = al-manquush = isim yang berakhiran ya lazimah dan sebelumnya berjajar kasrah.
Contoh:
الهَادِى = al-haadii = dengan kata lain petunjuk.
9. الأسم الذى لا ينصرف = isim yang tidak bertanwin.
Contohnya:
nama wanita laksana : فاطمة / faatimatu / fatimah
nama laki-laki yang berpola akhiran aan laksana 'utsmaanu / عُثْمَانُ
B. Pengertian Isim Mabni
Sedangan yang kedua ialah isim mabni (isim yang tetap), yakni tidak merasakan perubahan pada unsur akhir kata walaupun amil yang memasukinya berbeda-beda. laksana isim –isim dhamir (baik yang muttashil maupun yang munfashil), isim-isim kriteria , isim-isim istifham, isim-isim isyarah, isim-isim fi’il, dan isim-isim maushul.
Macam-macam Isim Mabni adalah sebagai berikut:
1. Isim dhamir dengan kata lain kata ganti orang, contohnya:
a. Kata ganti orang kesatu:
أَنَا (anaa) : saya.
نَحْنُ (nahnu) : kami.
b. Kata ganti orang kedua:
أَنْتَ (anta) : kamu (untuk laki-laki).
أَنْتِ (anti) : kamu (untuk perempuan).
أَنْتُمْ (antum) : kalian (untuk laki-laki).
أَنْتُنَّ (antunna) : kalian (untuk perempuan).
أَنْتُمَا (antumaa) : kalian berdua (untuk laki-laki dan perempuan).
c. Kata ganti orang ketiga.
هُوَ (huwa) : dia (untuk laki-laki).
هِيَ (hiya) : dia (untuk perempuan).
هُمْ (hum) : mereka (untuk laki-laki).
هُنَّ (hunna) : mereka (untuk perempuan).
هُمَا (humaa) : mereka berdua (untuk laki-laki dan perempuan).
Note:
Orang kesatu dinamakan mutakallim ( متكلم ).
Orang kedua dinamakan mukhaathab ( مخاطب )
Orang ketiga dinamakan ghaaib ( غائب ).
2. Isim isyarah artinya ialah kata tunjuk, yaitu:
هَذّا (haadza) : ini (untuk laki-laki)
هَذِهِ (hadzihi) : ini (untuk perempuan)
هَؤُلاَءِ (ha-u-laa-i) : ini seluruh (untuk laki-laki dan perempuan)
ذَلِكَ (dzalika) : itu (untuk laki-laki)
تِلْكَ (tilka) : itu (untuk perempuan).
أُولئِكَ (u-laa-i-ka) : itu seluruh (untuk laki-laki dan perempuan).
3. Isim maushul ialah kata penghubung, yaitu:
الَّذِى (alladzi) : yang (untuk laki-laki)
الذِيْنَ (alladziina) : mereka yang (untuk laki-laki)
الَّتِى (allatii) : yang (untuk perempuan).
اللاَّتِى atau اللآَّئِى ( allaatii atau allaa-ii) : mereka yang (untuk perempuan).
4. Isim istifham ialah isim yang dipakai sebagai kata tanya, misalnya:مَنْ (man) : siapa
كَيْفَ (kaifa) : bagaimana
أَيْنَ (aina) : mana
كَمْ (kam) : berapa
مَتَى (mataa) : kapan
هَلْ (hal) : apakah
مَا (maa) : apakah
5. Isim Syarat ialah isim yang membutuhkan jawab, yaitu:
مَنْ , مَتَى , مَا , مَهْمَا
Contoh:
مَنْ جَدَّ وَجَدَ : Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil
____________________________________________-
Demikian ringkasan bab mu'rob mabni semoga bermanfaat
BAB FAIL
BAB FAIL
DEMIKIAN RINGKASAN BAB FAIL SEMOGA BERMANFAAT
1.DEFINISI FA'IL
Fail adalah isim yang harus rafa' terletak setelah fiil
قَامَ الرَّجُلُ = Lelaki itu sudah berdiri
تَرَافَعَ المُحَامِيَانِ = Dua pengacara itu sedang mengajukan permohonan
قَاتَلَ المُنَاضِلُوْن = Kelompok militan itu telah berperang
yang berwarna biru adalah failnya ( pelaku )
2. Ketentuan Fail
1. Jenis kalimah yang bisa dijadikan fail adalah sebagai berikut:
- Fail bisa dibuat dari isim mu'rab seperti pada contoh siatas dan
- Bisa juga fail dibuat dari isim yang mabni. Isim mabni adalah kalimah dari jenis isim dzahir, isim isyarah, isim maushul dll. Perhatikan contoh berikut ini!
جَلَسْتُ : التَّاء: ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌ فِي مَحَلِ رَفْعٍ فَاعِلٌ = Aku telah menulis ; ta pada jalastu adalah isim dlamir
الرَّجُلُ حَضَرَ = Lelaki itu telah hadir; pada kalimah حَضَرَ terdapat kata ganti yang disiratkan yang disebut sebagai dlomir mustatir dengan memperkiarakan kalimah هُوَ yang kembali pada kalimah الرَّجُلُ.
نَجَحَ هَذَا الطَّالِبُ = Siswa ini telah berhasil. هَذَا adalah isim isyarah yang berposisi sebagai fai'l dari kalimah نَجَحَ
2. Ketika membuat jumlah fi'liyyah dan fa'il terdiri dari isim
tatsniyyah atau jamak, maka bentuk fi'il selamanya harus dalam bentuk
mufrod. Perhatikan contoh berikut!
حَضَرَ المُدَرِّسُ = Guru itu telah datangحَضَرَ المُدَرِّسَوْنُ = Guru-guru itu telah datangحَضَرَ المُدَرِّسَانِ = Dua orang guru itu telah datang
3. Apabila fa'il terdiri dari isim mufrad yang mu'annats atau jamak mu'annats salim atau jamak taksir, maka jika fi'ilnya fi'il madi maka harus menambahkan ta sukun pada akhirnya dan ta berharkat pada awal mudlari'. Perhatikan contoh berikut!
سَافَرَتْ / تُسَافِرُ فَاطِمَةُ = Fatimah bertamasya > isim mufradسَافَرَتْ / تُسَافِرُ الطَّالِبَاتُ = Para siswi itu bertamasya > Jamak mu'annats salimسَافَرَتْ / تُسَافِرُ الطُّلَّابُ = Siswa-siswi itu bertamasya > Jamak taksir
_________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN BAB FAIL SEMOGA BERMANFAAT
BAB NAIBUL FAIL
BAB Naibul Fail [نَائب الفاعل]
Contoh:
Contoh dari fi'il madhi
فَتَحَ زَيْدٌ البَابَ -----> فُتِحَ البَابُ
Pintu itu dibuka <----- Zaid membuka pintu itu
أَكَلَ زَيْدٌ البُرْتُقَالَ -----> أُكِلَ البُرْتُقَالُ
Jeruk itu dimakan <----- Zaid memakan jeruk itu
كَسَرَ زَيْدٌ الإِنَاءَ -----> كُسِرَ الإنَاءُ
Pot bunga itu dipecah <----- Zaid memecahkan pot bunga itu
قَطَفَ زَيْدٌ الوَرْدَةَ -----> قُطِفَ الوَرْدَةُ
Bunga mawar itu dipetik <----- Zaid memetik bunga mawar itu
Contoh dari fi'il mudhori
يَرْكَبُ زَيْدٌ الحِصَانَ -----> يُرْكَبُ الحِصَانُ
Kuda itu ditunggangi <----- Zaid menunggang kuda itu
يْدٌ البَقَرَةَ -----> تُحْلَبُ البَقَرَةُ
Susu Sapi itu diperah <------ Zaid memerah susu sapi itu
يَحْمِلُ زَيْدٌ الكِتَابَ -----> يُحْمَلُ الكِتَابُ
Buku itu dibawa <------ Zaid membawa buku itu
يَأخُذُ زَيْدٌ المِكْنَسَةَ -----> تُأخَذُ المِكْنَسَةُ
Sapu itu diambil <----- Zaid mengambil sapu itu
Pembahasan:
Perhatikan 4 contoh kalimat pertama [dari fi'il madhi] yang berada di bagian kanan, pada kalimat tersebut terdapat fi'il madhi [predikat/kata kerja], fa'il [subjek/pelaku] dan maf'ul bih [objek],
bandingkan dengan kalimat sebelah kirinya yang hanya ada dua kata saja
yaitu fi'il madhi yang berubah bentuk harokatnya dan satu kata
setelahnya. perhatikan fi'il yang berubah harokatnya yang berwarna merah
(فُتِحَ أُكِلَ كُسِرَ قُطِفَ ),
huruf pertama berharokat dhommah dan huruf sebelum huruf akhir
berharokat kasroh, fa'il [Subjek] nya dihilangkan dan yang menggantikan
adalah yang sebelumnya menjadi maf'ul bih, maka berubah menjadi rofa' (البَابُ البُرْتُقَالُ الإنَاءُ الوَرْدَةُ ) yang mana sebelumnya dibaca nashob (البَابَ البُرْتُقَالَ الإِنَاءَ الوَرْدَةَ ).
Sedangkan pada 4 contoh kalimat dari fi'il mudhori di bawahnya, fi'il
yang berwarna biru di atas harokatnya juga berubah, hanya saja berbeda
dari fi'il madhi. Perhatikan kata (يُرْكَبُ تُحْلَبُ يُحْمَلُ تُأخَذُ)
semua kata tersebut huruf pertamanya berharokat dhommah, dan huruf
sebelum huruf akhirnya berharokat fathah, dan jika diperhatikan, fa'il
[subjek] pada kalimat tersebut juga dihilangkan, dan digantikan
posisinya dengan isim yang tadinya menjadi maf'ul bih [objek] yaitu yang
berwarna hijau (الحِصَانُ البَقَرَةُ الكِتَابُ المِكْنَسَةُ) semua kata tersebut beri'rob rofa' karena menggantikan posisi fa'il yang dihilangkan.
Semua maf'ul bih di atas yang kemudian berubah menjadi warna hijau itu
semuanya dinamakan juga Naibul Fa'il atau pengganti fa'il [objek].
Kaidahnya:
- Naibul Fa'il adalah isim yang dibaca rofa' yang menggantikan posisi fa'il yang dibuang.
- Jika fi'il yang disandarkan ke Naibul Fa'il adalah fi'il madhi, maka
fi'il madhi tersebut harokatnya harus dirubah "huruf pertamanya diganti
Dhommah, dan huruf sebelum huruf akhirnya berharokat kasroh". Adapun
jika Naibul Fa'il disandarkan kepada fi'il mudhore, maka fi'il mudhore
tersebut harus diganti harokatnya menjadi "huruf pertama diganti
dhommah, dan huruf sebelum huruf akhir harus diganti fathah".
Dan fi'il-fi'il yang diganti harokatnya ini dinamakan juga dengan fi'il mabni majhul. - Jika Naibul Fa'il nya berupa muannats [perempuan] maka fi'ilnya juga harus diganti menjadi muannats, begitu juga sebaliknya. Jika naibul fa'il nya mudzakkar [laki-laki] maka fi'ilnya juga harus mudzakkar.
___________________________________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN TENTANG NAIBUL FAIL SEMOGA BERMANFAAT
BAB ISIM MAQSUR DAN MANKUS
BAB ISIM MAQSUR DAN MANKUS dan tanda irobnya
Isim Maqshur secara bahasa berasal dari bahasa arab yakni قصر ـ مقصور yang dengan kata lain diringkas. Hal ini dikarenakan saat dalam suasana rofa’, nasab maupun jer, harakat akhir isim ini tidak berubah atau tetap. Biasa disebutkan tanda i’robnya diringkas atau dikira-kirakan dengan fathah.
Adapun secara istilah isim maqshur merupakan
Isim Manqush
1. Pengertian
Isim manqus secara bahasa berasal dari kata نَقَصَ – مَنْقوْص yang dengan kata lain kurang atau dikurangi. Ini disebabkan dikurangi menampakan beberapa harakatnya, yaitu saat rofa dan jar, dan saat tingkah nashob manqus bertolak belakang dengan maqshur dan me sti ditampakan alamat nashobnya (yaitu fatkhah).
Secara istilah isim manqus merupakan
ISIM MAQSUR
1. Pengertian isim maqsurIsim Maqshur secara bahasa berasal dari bahasa arab yakni قصر ـ مقصور yang dengan kata lain diringkas. Hal ini dikarenakan saat dalam suasana rofa’, nasab maupun jer, harakat akhir isim ini tidak berubah atau tetap. Biasa disebutkan tanda i’robnya diringkas atau dikira-kirakan dengan fathah.
CONTOH الفتى ATAU العصا
Adapun secara istilah isim maqshur merupakan
كل إسم معرب اخره ألف لازمة أصلية
setiap
isim mu’rob yang akhirnya alif lazimah,
Jadi
yang disebut isim maqshur ialah isim yang diakhiri dengan huruf alif
(baik alif tega' maaupun alif bengkok seperti ya atau dinamakan juga alif layyinah)
yang sebelumnya berharakat fathah.
2. irob isim maqsur adalah dengan domah muqodarah / fathah muqodarah / kasrah muqodarah
contoh
a. Ketika rofa’ lafadz (جاء الفتَى (الفتى : فاعل مرفوع بضمة مقدرة
b. Ketika nashob lafadz (رأيتُ الفتَى (الفتى:مفعول به منصوب بفتحة مقدرة
c. Ketika jer lafadz (مررتُ بالفتَى (الفتى : مجرور بكسرة مقدرة
Isim Manqush
1. Pengertian
Isim manqus secara bahasa berasal dari kata نَقَصَ – مَنْقوْص yang dengan kata lain kurang atau dikurangi. Ini disebabkan dikurangi menampakan beberapa harakatnya, yaitu saat rofa dan jar, dan saat tingkah nashob manqus bertolak belakang dengan maqshur dan me sti ditampakan alamat nashobnya (yaitu fatkhah).
Secara istilah isim manqus merupakan
الاسم المعرب الذى آخره ياء لا زمة
Isim mu’rob yang diselesaikan dengan ya’ lazimah. CONTOH القاضي ATAU الداعي
2. Isim manqush ini BISA menampakan FATHAH saat nashob ADAPUN MARFU' DAN MAJRURNYA MUQODARAH . Contoh:
a. Ketika rofa’ laksana lafadz: (جاء الداعِى (الداعي : فاعل مرفوع بضمّة مقدرة
b.Ketika nashob laksana lafadz: (رَأَيْتُ الداعِيَ (الداعي : مفعول به منصوب بفتحة ظاهرة
c.Ketika jer laksana lafadz: (مرَرْتُ بِالداعِى (الداعي ممجرور بكسرة مقدرة
__________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN ISIM MAQSUR DAN MANKUS SEMOGA BERMANFAAT
DIANTARA TIPS BELAJAR BAHASA ARAB
DIANTARA TIPS BELAJAR BAHASA ARAB
1. Temukan dulu guru yang kamu anggap berkompeten.
1. Temukan dulu guru yang kamu anggap berkompeten.
2. Mintalah belajar dari awal.
a. Belajar dari pembentukan kata (isim, fi'il, dan huruf).
b. Cari tahu mana saja yang termasuk isim, fi'il dan huruf.
c. Belajar juga tentang pembentukan kalimat (jumlah ismiyah dan jumlah fi'liyah).
d. Perhatikan setiap kalimat, bagaimana bentuknya, bagaimana ia tersusun, dan sebagainya.
e. Latihan menyusun kalimat yang terpisah-pisah.
3. Hafalkan minimal 5 kosa kata Bahasa Arab saja sehari, yang terpenting adalah istiqomah setiap hari.
4. Hafalkan juga tasrifan, baik yang istilahi maupun yang lughowi (optional).
DIANTARA TIPS BELAJAR BAHASA ARAB
1. Mulai menghafal banyak kosa kata (mufrodat).
Agar mudah diingat, terapkan dalam satu hari menghafal minimal 3 kosa
kata. Setelah itu, dari 3 kosa kata tersebut buatlah contoh kalimat,
masing-masing 3 kalimat. Misalnya kosa kata ‘Buku’ bahasa Arabnya
‘كِتَابٌ’ kemudian buat kalimatnya “Buku itu baru” bahasa Arabnya
“الكِتَابُ جَدِيْدٌ”. Terus sampai 3 kalimat. (Buat kalimat dengan
bahasa Indonesia dahulu, baru dicari bahasa Arabnya).
2. Banyak menghafal percakapan-percakapan (muhaddatsah).
Anda bisa memulainya dengan menghafal percakapan-percakapan sederhana.
Seperti: percakapan ketika berkenalan, ketika dalam kendaraan dan lain
sebagainya. Banyak buku-buku percakapan bahasa Arab (muhaddatsah) yang tersedia.
3. Pastikan
Anda sudah bisa membuka kamus bahasa Arab. Dalam hal ini cara mencari
kata (menemukan asal katanya). Sering-seringlah membuka kamus seperti:
Al-Munawir dan Munjid.
4. Cobalah untuk menerjemahkan kitab yang berbahasa Arab kedalam bahasa Indonesia, atau bisa juga sebaliknya.
5. Sering-seringlah
membuat suatu karangan cerita dengan menggunakan bahasa Arab. Setelah
itu mintalah teman atau guru yang sudah ahli untuk mengoreksi.
6. Carilah
partner atau teman belajar yang setingkat (dalam bahasa Arabnya) dengan
Anda. Hal demikian agar Anda selalu termotivasi dan lebih greget.
7. Bergurulah
dengan orang yang memang ahli dalam bahasa Arab. Misalnya guru di
sekolah/ kampus atau teman Anda yang memang sudah mahir berbahasa Arab.
8. Terus belajar dan jangan pernah merasa puas
KALIMAT [ الجملة ] DALAM BAHASA ARAB ADA 2
1. Jumlah Ismiyah
2. Jumlah Fi'liyah
______________________________________________
1. Jumlah Ismiyah
Jumlah ismiyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali
dengan isim (kata benda) Atau kalimat yang tersusun dari mubtada' dan
khabar.
Mubtada' merupakan subyek dalam bahasa Arab, karena menjadi subyek maka mubtada' mempunyai beberapa sifat yaitu: pertama, harus berupa ma'rifat (kata khusus/tertentu/spesifik, bukan umum. contoh: nama orang, kemasukan huruf alif+lam). kedua, tanda i'robnya adalah rofa'.
Sedangkan khobar merupakan predikat, yaitu bertugas menjelaskan atau
menerangkan keadaan mubtada' (subyek), khobar bisa berupa kata atau anak
kalimat. sifat khobar yaitu : satu, harus nakiroh (kata umum). kedua, khobar juga mempunyai tanda i'rob rofa'.
Mubdata' dan khobar harus mempunyai sifat yang sama, ketika mubdata' nya
mudzakar maka khobar juga harus mudzakar, antara mubtada' dan khobar
juga harus sama-sama mufrad, tasniyah, atau jamak.
contoh زَيْدٌ قَائِمٌ
Contoh kata 'zaidun' sebagai mubdata' dan kata 'qooimun' sebagai khobar sama-sama isim mufrad (kata benda tunggal) dan mudzakar (kata benda berjenis kelamin laki-laki).
contoh المُسْلِمَانِ قَائِمَانِ
Contoh kata 'muslimaani' sebagai mubtada' (subyek) dan kata 'qooimaani' sebagai khobar sama-sama isim tasniyah (kata benda yang menunjukan arti dua)
2. Jumlah Fi'liyah
Jumlah fi'liyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan fi'il (kata
kerja), sama dengan namanya. kalimat ini biasanya tersusun dari fi'il
(kata kerja) dan fa'il (subjek).
Fi'il (kata kerja) disini biasanya berupa fi'il madhi (kata kerja
lampau), tapi bisa juga jika menggunakan fi'il mudhore (yang sedang
dilakukan).
Fa'il (subjek) dalam jumlah fi'liyah bisa nampak (dhohir/biasanya
ditandai dengan nama orang atau suatu benda), bisa juga secara tidak
nampak (dhomir/biasanya jumlah fi'liyah dengan fa'il (subjek) yang tidak
nampak ini berada di tengah-tengah paragraf karena dhomirnya sudah
disebutkan di awal paragraf)
contoh قَامَ زَيْدٌ
Contoh : kata 'qooma' sebagai fi'il (kata kerja), jika
dilihat dari segi waktunya, maka fi'il nya adalah fi'il madhi (sudah
dilakukan) dan jika dilihat dari segi jenisnya fi'il ini merupakan fi'il
lazim (kata kerja yang tidak membutuhkan objek). sedangkan kata 'zaidun'
menjadi fa'ilnya (subjek/pelakunya), keduanya sudah termasuk kalimat
karena tersusun dari fi'il (kata kerja) dan fa'il (subjek) walaupun
hanya dua kata.
contoh يَخْلُقُ اللَّهُ النَّاسَ
Contoh : kata 'yahluqu' sebagai fi'il, yaitu fi'il mudhore (kata kerja yang sedang dilakukan), jika dilihat dari jenisnya fi'il ini adalah fi'il muta'adi (kata kerja yang membutuhkan objek), kata 'Allahu' sebagai fa'il (subjek) dan kata 'an-naasa' menjadi maf'ul bih (objeknya). nah, jika tidak ada objeknya maka kalimat ini tidak sempurna karena fi'il 'yahluqu' yang artinya 'menciptakan' itu membutuhkan objek.
DEMIKIAN RINGKASAN JUMLAH DAN MACAMNYA SEMOGA BERMANFAAT
BAB MUFRAD MUSTANA DAN JAMA'
MUFRAD,MUTSANA ,JAMA'
ISIM DITINJAU DARI BILANGANYA ADA 3 TEMAN TEMAN
1. Isim Mufrad (مُفْرَدٌ )
Semua isim yang menunjukan arti satu atau tunggal.
2. Isim Tasniyah
3. Isim Jamak
ISIM DITINJAU DARI BILANGANYA ADA 3 TEMAN TEMAN
1. Isim Mufrad (مُفْرَدٌ )
Semua isim yang menunjukan arti satu atau tunggal.
CONTOH : كتاب ، مدرسة ، قلم
2. Isim Tasniyah
Semua isim yang menunjukan arti dua.
cara membuatnya denngan menambah huruf alif+nun atau yaa+nun (ـانِ atau يْنِ) pada isim mufrad, isim apapun yang diakhiri dengan alif+nun atau yaa+nun, maka sudah termasuk isim tasniyah dan mempunyai arti dua. Perhatikan contoh di atas 'كِتَابَانِ / كِتَابَيْنِ', jika dibaca dengan huruf latin maka menjadi 'kitaabaani/kitaabaini'. artinya dua buku
#catatan huruf nun selalu di kasroh ( ni )
contoh
مدرستانِ / مدرستينِ artinya 2 sekolah
3. Isim Jamak
Isim jamak adalah kata yang menunjukan arti lebih dari dua
dalam bahasa arab jamak ada 3 apa saja hoyo ?hasih tahu ga ya...
A.Jamak mudzakar salim (جَمْعٌ المُذَكَّرِ السَّالِمِ)
Sesuai namanya, jamak ini merupakan bentuk jamak yang menunjukan arti banyak (lebih dari dua) teratur (السَّالِمِ) dan dikhususkan untuk laki-laki ( المُذَكَّرِ ).
cara membuatnya dengan menambah huruf wawu+nun atau yaa+nuun (وْنَ atau يْنََ) pada nama laki laki / sifat untuk laki laki
contoh
كَافِرُوْنَ/ كَافِرِيْنَ
مُؤْمِنُوْنَ / مُؤْمِنِيْنَ
شَاكِرُوْنَ /شَاكِرِيْنَ
# CATATAN HURUF NUN SELALU DI FATHAH
B.Jamak Muannats Salim (جَمْعُ المُؤَنَّثِ السَّالِمِ)
contoh
Bentuk jamak yang kedua adalah jamak muannats salim, yaitu bentuk jamak teratur (السَّالِمِ) yang dikhususkan untuk perempuan (المُؤَنَّثِ).
cara membuatnya dengan menambah huruf huruf alif+ta' (ا+ت). contoh
مُؤْمِنَاتٌ
عَلَامَاتٌ
فِكْرَاتٌ
JIKA bentuk mufrad yang tadinya mempunyai ta' marbuthoh (ـةٌ) di akhir kata,
ketika menjadi jamak muannats salim maka ta' marbuthohnya dihilangkan
dan diganti dengan tanda alif+taa'.
C. Jamak Taksir (جَمْعُ التَّكْسِيْرِ)
Sesuai namanya, jamak ini adalah bentuk jamak yang tidak beraturan.
kata
'Taksir' dalam bahasa Arab mempunyai arti 'terpecah', oleh karena itu
jamak ini tidak mempunyai tanda dan ciri yang khusus, jamak ini bisa
berlaku untuk mudzakar (laki-laki) maupun muannats (perempuan). bisa
untuk benda mati atau benda hidup, jamak ini juga termasuk sima'i, jadi
pengucapannya mengikuti orang Arab, dan tentunya tidak mempunyai ciri
khusus, jamak ini hanya bisa dihafalkan melalui kamus.
CONTOH
كُتُبٌ
نوافذ
مساجد
BAB MUDZAKAR DAN MUANATS
MUDZAKAR DAN MUANATS
ISIM DITINJAU DARI JENISNYA ADA 2 BRO...
1. Mudzakkar (مُذَكَّرٌ)
A. Mudzakkar Haqiqi: semua isim yang menunjukan arti laki-laki, baik dari golongan manusia maupun hewan. Contoh: صَبِيٌّ (seorang anak/balita laki-laki), جَمَلٌ (unta), أَبٌّ (seorang ayah).
B. Mudzakkar Majazi: isim yang dianggap mudzakkar (laki-laki) sesuai kesepakatan orang Arab, baik dari benda mati maupun tanaman. Contoh: كِتَابٌ (buku), شَجَرٌ (pohon).
2. 2.Muannats (مُؤَنَثٌّ)
Muannats adalah isim yang menunjukan arti perempuan, contoh: إِمْرَأةٌ (wanita).
Macam-macam muannats (مُؤَنَثٌّ):
A. Muannats Haqiqi: isim yang menunjukan arti perempuan, baik dari manusia atau hewan. Contoh: إِمْرَأةٌ (wanita).
B. Muannats Majazi: isim yang beramal seperti amal perempuan (disifati perempuan/dianggap perempuan). Contoh: سَمَاءُ (langit), عَيْنٌ (mata/sumber)
_______________________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN MUDZAKAR MUANATS SEMOGA BERMANFAAT
ISIM DITINJAU DARI JENISNYA ADA 2 BRO...
1. Mudzakkar (مُذَكَّرٌ)
Mudzakkar adalah isim (kata benda) yang menunjukan jenis laki-laki. Contoh: رَجُلٌ (seorang laki-laki).
Macam-macam mudzakkar (مُذَكَّرٌ):
A. Mudzakkar Haqiqi: semua isim yang menunjukan arti laki-laki, baik dari golongan manusia maupun hewan. Contoh: صَبِيٌّ (seorang anak/balita laki-laki), جَمَلٌ (unta), أَبٌّ (seorang ayah).
B. Mudzakkar Majazi: isim yang dianggap mudzakkar (laki-laki) sesuai kesepakatan orang Arab, baik dari benda mati maupun tanaman. Contoh: كِتَابٌ (buku), شَجَرٌ (pohon).
2. 2.Muannats (مُؤَنَثٌّ)
Muannats adalah isim yang menunjukan arti perempuan, contoh: إِمْرَأةٌ (wanita).
Macam-macam muannats (مُؤَنَثٌّ):
A. Muannats Haqiqi: isim yang menunjukan arti perempuan, baik dari manusia atau hewan. Contoh: إِمْرَأةٌ (wanita).
B. Muannats Majazi: isim yang beramal seperti amal perempuan (disifati perempuan/dianggap perempuan). Contoh: سَمَاءُ (langit), عَيْنٌ (mata/sumber)
_______________________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN MUDZAKAR MUANATS SEMOGA BERMANFAAT
الكلمة ISIM ,FIIL DAN HURUF BESERTA TANDA TANDANYA
الكلمة Isim, Fiil dan huruf beserta Tanda tandanya
KAIDAH
الكلمة ثلاثة أقسام : اسم وفعل وحرف
الاسم : كل لفظ يسمى به انسان أوحيوان أو نبات أو جماد
الفعل : كل لفظ يدل على حصول عمل في زمن خاص
الحرف : كل لقظ لا يظهر معناه كاملا الا مع غيره
KATA :الكلمة ada 3
[1] Isim,
[2] fiil
[3] huruf
kata adalah lafaz yang mempunyai makna.
[1] Isim (اسْمٌ) adalah Kata yang menunjukkan manusia ,hewan ,tumbuhan ,benda mati dll.
[2] Fiil (فِعْلٌ) adalah Kata kerja.
[3] Huruf (حَرْفٌ) adalah Kata yang tidak mempunyai makna yang sempurna kecuali setelah bersambung dengan kata yang lain.
—————————————————————
Saya pernah dapat dari ustadz di mahad, definisi yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk diingat.
1.Isim : kata benda
2. Fiil : kata kerja
3. Huruf : kata tidak memiliki ma'na yang sempurna kecuali bersambung dengan yang lainya
Tanda tanda Isim, Fiil dan huruf
Tanda-tanda Isim :
1. kasrah Misal: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ | Dan pada asalnya yang berharokat kasrah HANYA isim;
2. At-tanwiin (bertanwin) Misal: رَجُلٌ – كِتَابٌ – قَلَمٌ | HANYA isim yang bertanwin; fiil & huruf tidak bertanwin
3. Alif wa lam (ber- alif-lam -ال- ) |Fiil dan Huruf tidak ber alif-lam
4.Huruuful jarr (diawali huruf jar) | dan Huruf jarr hanya masuk pada isim yang selanjutnya menyebabkan isim tersebut majruur/ dikasroh.
Diantara huruf-huruf jar adalah:
مِنْ , إِلىَ , عَنْ , عَلىَ , فِى , رُبَّ , بِ , كَ , لِ
5. Huruf nidaa’ (terletak setelah huruf nidaa/panggilan) Misal: Yaa Faathimah يا فاطمة
Tanda-tanda Fiil:
1. Qod (terletak setelah qod قد )
Misal: {قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا} | “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya,” | Surat ke 58 ayat 1; Maka setelah Qod pasti fiil
2. Sin (diawali huruf sin)
Misal: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا } |”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya;“| Surat An-Nisaa [4] ayat 56; Maka yang diawali huruf sin seperti kata sa-nadkhulu adalah fiil.
3. Saufa (terletak setelah kata saufa سَوْفَ)
Misalnya {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً} |“kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka.” | Surat An-Nisaa [4]: 56; Maka setelah kata saufa pasti fiil
4. Ta’ ta’niits sakiinah (menempel padanya ta’ yang menunjukkan bahwa pelakunya adalah muannats)
Misalnya: {وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا} | “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu”| Surat Yusuf [12]: 24 ; Maka Hammath itu pasti fiil
5.Bersambung dengan ta’ fail.
Misalnya: هَلْ كَتَبْتَ الدَرْسَ؟ |Apakah kamu telah menulis pelajaran?| Katab-ta asalnya fiil kataba, namun masuk setelahnya ta’ faail. Maka Kataba adalah fiil. Isim dan huruf tak mungkin dimasuki oleh ta’ fail.
6. Diawali huruf Mudhoro’ah. Yaitu huruf huruf yang mengawali fiil mudhori. Huruf2nya adalah (أ, نَـ , يَــ, تَــ)
Misalnya: أَذْهَبُ إلَى المَعْهَد |Aku pergi ke ma’had|Maka Adzhabu adalah fiil karena ia diawali oleh salah satu huruf mudhoro-ah.
7.Bersambung dengan Nun Taukid yaitu nun yang menunjukkan penekanan (taukid).
Misalnya: {وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} |”dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam“| Surat Ali Imron: 102; tamuutunna itu bersambung dengan nun taukid maka dia adalah fiil.
8. diawai “إذْ”. Yaitu huruf yang biasanya masuk pada fiil madhi.
Misalnya: {إِذْ رَأَى نَاراً} |”Ketika ia melihat api..”| Surat Thaha [20]:10; Maka ro-aa (رَأَى) adalah fiil karena ia di awali oleh huruf idz (إِذْ).
- Tanda- tanda huruf
Huruf, tidak memiliki tanda tanda khusus..
————————————————————
Semoga murojaah yang sedikiiiiiiit ini bermanfaat.
[1] Isim,
[2] fiil
[3] huruf
kata adalah lafaz yang mempunyai makna.
[1] Isim (اسْمٌ) adalah Kata yang menunjukkan manusia ,hewan ,tumbuhan ,benda mati dll.
[2] Fiil (فِعْلٌ) adalah Kata kerja.
[3] Huruf (حَرْفٌ) adalah Kata yang tidak mempunyai makna yang sempurna kecuali setelah bersambung dengan kata yang lain.
—————————————————————
Saya pernah dapat dari ustadz di mahad, definisi yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk diingat.
1.Isim : kata benda
2. Fiil : kata kerja
3. Huruf : kata tidak memiliki ma'na yang sempurna kecuali bersambung dengan yang lainya
Tanda tanda Isim, Fiil dan huruf
Tanda-tanda Isim :
1. kasrah Misal: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ | Dan pada asalnya yang berharokat kasrah HANYA isim;
2. At-tanwiin (bertanwin) Misal: رَجُلٌ – كِتَابٌ – قَلَمٌ | HANYA isim yang bertanwin; fiil & huruf tidak bertanwin
3. Alif wa lam (ber- alif-lam -ال- ) |Fiil dan Huruf tidak ber alif-lam
4.Huruuful jarr (diawali huruf jar) | dan Huruf jarr hanya masuk pada isim yang selanjutnya menyebabkan isim tersebut majruur/ dikasroh.
Diantara huruf-huruf jar adalah:
مِنْ , إِلىَ , عَنْ , عَلىَ , فِى , رُبَّ , بِ , كَ , لِ
5. Huruf nidaa’ (terletak setelah huruf nidaa/panggilan) Misal: Yaa Faathimah يا فاطمة
Tanda-tanda Fiil:
1. Qod (terletak setelah qod قد )
Misal: {قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا} | “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya,” | Surat ke 58 ayat 1; Maka setelah Qod pasti fiil
2. Sin (diawali huruf sin)
Misal: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا } |”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya;“| Surat An-Nisaa [4] ayat 56; Maka yang diawali huruf sin seperti kata sa-nadkhulu adalah fiil.
3. Saufa (terletak setelah kata saufa سَوْفَ)
Misalnya {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً} |“kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka.” | Surat An-Nisaa [4]: 56; Maka setelah kata saufa pasti fiil
4. Ta’ ta’niits sakiinah (menempel padanya ta’ yang menunjukkan bahwa pelakunya adalah muannats)
Misalnya: {وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا} | “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu”| Surat Yusuf [12]: 24 ; Maka Hammath itu pasti fiil
5.Bersambung dengan ta’ fail.
Misalnya: هَلْ كَتَبْتَ الدَرْسَ؟ |Apakah kamu telah menulis pelajaran?| Katab-ta asalnya fiil kataba, namun masuk setelahnya ta’ faail. Maka Kataba adalah fiil. Isim dan huruf tak mungkin dimasuki oleh ta’ fail.
6. Diawali huruf Mudhoro’ah. Yaitu huruf huruf yang mengawali fiil mudhori. Huruf2nya adalah (أ, نَـ , يَــ, تَــ)
Misalnya: أَذْهَبُ إلَى المَعْهَد |Aku pergi ke ma’had|Maka Adzhabu adalah fiil karena ia diawali oleh salah satu huruf mudhoro-ah.
7.Bersambung dengan Nun Taukid yaitu nun yang menunjukkan penekanan (taukid).
Misalnya: {وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} |”dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam“| Surat Ali Imron: 102; tamuutunna itu bersambung dengan nun taukid maka dia adalah fiil.
8. diawai “إذْ”. Yaitu huruf yang biasanya masuk pada fiil madhi.
Misalnya: {إِذْ رَأَى نَاراً} |”Ketika ia melihat api..”| Surat Thaha [20]:10; Maka ro-aa (رَأَى) adalah fiil karena ia di awali oleh huruf idz (إِذْ).
- Tanda- tanda huruf
Huruf, tidak memiliki tanda tanda khusus..
***
Tips, mencari mana fiil, isim dan huruf dalam sebuah jumlah bahasa arab yaitu menentukan Isim terlebuh dahulu karena tanda tanda isim itu PASTI muncul.————————————————————
Semoga murojaah yang sedikiiiiiiit ini bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)