Selasa, 31 Maret 2020

BAB MAF'UL FIIH

 BAB MAF'UL FIIH

Pengertian Maf’ul Fiih/ Zharaf

Maf’ul Fiih/ Zharaf ialah  isim Manshub yang menyatakan  tempat atau masa-masa  terjadinya sebuah  perbuatan/pekerjaan.

Maf’ul Fiih ialah  isim Manshub yang menyatakan  tempat atau masa-masa  terjadinya sebuah  perbuatan/pekerjaan. Atau sebagai jawaban dari pertanyaan “kapan” atau “dimana”. Disebut Zhorof Zaman bilamana  berkaitan dengan masa-masa  terjadinya perbuatan, dan dinamakan  Zhorof Makan bilamana  berkaitan dengan lokasi  terjadinya perbuatan.

Contoh :

يَلْعَبُ زَيْدٌ كُرَّةَ القَدَمِ أَمَامَ الْمَدْرَسَةِ.(ظَرْفُ الْمَكَانِ)

( Zaid bermain sepak bola di depan sekolah) “keterangan tempat”.


وَقَفَ زَيْدٌ أَمَامَ الْمَدْرَسَةِ.(ظَرْفُ الْمَكَانِ)

(Zaid berdiri di depan sekolah) “keterangan tempat”


يَلْعَبُ زَيْدٌ كُرَّةَ القَدَمِ يَوْمَ الأربِعَاءِ.(ظَرْفُ الْزَّمَانِ)

( Zaid bermain sepak bola pada hari Rabu) “keterangan waktu”.


أَذْهَبُ إِلَى الإدَارَةِ صَبَاحًا بَاكِرًا

( Saya pergi ke kantor dini hari  ). “keterangan waktu”


Keterangan:

مَ dalam misal  diatas merupakan penjelasan  waktu terjadinya suatu tindakan  “main bola”. Demikian pula lafazh أَمَامَ ialah  keterangan lokasi  terjadinya suatu tindakan  “main bola”. Setiap zharaf makaan/tempat  atau zaman/waktu harus dibaca nashob.

Adapun keterangan-keterangan masa-masa  yang biasa digunakan;

ظَرْفُ الزَّمَانِ ( Keterangan Waktu)

مَسَاءًا ( Sore hari) صَبَاحًا (Pagi hari)

لَيْلاً (Malam hari) نَهَارًا (Siang hari)

يَوْمًا (Hari) أُسْبُوْعًا (Minggu)

شَهْرًا (Bulan) سَنَةً (Tahun)

أَمْسَ (Kemarin) غَدًا ( Besok)

قَرْنًا (Abad) أَبَدًا (Selamanya)

حِيْنًا (Terkadang) أَحْيَانًا (Kadang-kadang)

تَارَةً (kadang-kadang) سَابَقًا (yang sudah  lalu/dulu)

قَبْلَ (Sebelum) بَعْدَ (Sesudah)

سَاعَةً (Satu Jam) الآنَ (Sekarang)

ظَرْفُ المَكَانِ ( Keterangan Tempat)

قُرْبَ (Dekat) جَانِبَ (Di samping)

لَدَيْ (Pada) وَسْطَ (Tengah)

كِيْلُوْمِتْرَ (Kilometer) مِيْلَ (Mil)

أَمَامَ ( Di depan) وَرَاءَ (Di belakang)

فَوْقَ (Di atas) تَحْتَ (Di bawah)

يَمِيْنَ (Di kanan) شمَالَ (Di kiri)

بَيْنَ (Di antara) حَوْلَ (Di sekitar)

عِنْدَ (Di sisi) إِزَاءَ (Di sisi)

Baca Juga:  Maf'ul BihMaf'ul Liajlih, Maf'ul Ma'ah, dan Maf'ul Mutlaq.

B. Pembagian Maf’ul Fiih/ Zharaf

Adapun pembagian Zharaf terdapat  2 bagian, yakni  :

1. مُتَصَرِّفْ ( Lafazh yang terkandung bermanfaat  sebagai Zharaf dan pun  tidak).

Contoh sebagai Zharaf:

صُمْتُ يَوْمَ الإِثْنَيْنِ

(Aku shaum/puasa pada hari senin)

Contoh bukan sebagai Zharaf:

يَوْمُ الْجُمْعَةِ يَوْمٌ مُبَارَكٌ

(Hari jum’at ialah  hari yang berkah)

Keterangan:

Lafazh يَوْمَ (hari) dalam misal  kesatu  ialah  manshub dan bermanfaat  sebagai zharaf atau penjelasan  waktu dari kata kerja; صُمْتُ (aku puasa).

Sedangkan lafazh يَوْمُ dalam misal  kedua bukan sebagai zharaf. Yang kesatu  sebagai mubtad’ dan yang kedua sebagai khabar dan keduanya  dibaca marfu’.

2. غَيْرُ مُتَصَرِّفْ ( Lafazh-lafazh yang hanya dipakai  untuk zharaf atau majrurdengan مِنْ , laksana  ; عِنْدَ- قَبْلَ – بَعْدَ

Keterangan:

Lafazh-lafazh itu  selamanya pasti bermanfaat  sebagai zharaf atau majrur dengan مِنْ misal  :

زُرْتُ عَلِيًّا بَعْدَكَ

(Aku menengok Ali sesudah  kamu)

وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ

(Dan untuk  kitab yang diturunkan sebelum kamu)

C. Pembagian I’rab Maf’ul Fiih/ Zharaf

Adapun pembagian I’rab Zharaf terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:

1. Zharaf yang Mu’rab, seperti

يَوْمًا , لَيْلاً , شَهْرًا ,سَنَةً

2. Zharaf Mabniy yang senantiasa dibaca dalam format  yang sama, seperti;

الآنَ , أَمْسَ , إِذَا , حَيْثُ

مِثْلُ :

سَأَزُوْرُكَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ

( Saya bakal  mengunjungimu pada hari Jum’at)

سِرْتُ كِيْلُوْمِتْرًا

( Saya berlangsung  1 kilometer )

Penjelasan :

Diantara contoh-contoh diatas ada sejumlah  kata yang dapat bermanfaat  untuk zhorof dan bukan zhorof yang ketika tersebut  dia dii’rob cocok  letaknya dalam jumlah, yaitu:

جَاءَ يوْمُ الْجُمْعَةِ ,الْكِيْلُوْ مِتُرُ أَلْفَ مِتْرٍ

( Telah datang hari Jum’at, 1000 Km)

Lafazh يوْمُ dan الْكِيْلُوْ مِتُرُ bukan sebagai Zhorof namun  sebagai Mubtada’ dan khobar

Zhorf bisa  di jarrkan dengan huruf   jarr:

كُلُّ مِنْ عِنْدِ اللهِ

(Segalanya di sisi Allah Swt ).

BAB MAFUL MA'AH

BAB MAFUL MA'AH

 

1.Maf’ul Ma’ah مَفْعُوْلُ مَعَهُ merupakan   isim manshub yang terletak sesudah  huruf   Wau (و). Akan tetapi, wau itu  tidak bermakna DAN (kata sambung). Melainkan mempunayi makna  bersama atau kebersamaan. Maka dari itulah Maf'ul Ma'ah pun  disebut Wau Ma'iyyah, sampai-sampai  wawu maiyah pengertiannya sama saja dengan Maf'ul Ma'ah.


Contoh: سِرْتُ وَالْجَبَلَ (Aku berjalan bareng  gunung). Kata الْجَبَلَ dibaca manshub dengan berharokat fathah sebab  sebagai maf'ul ma'ah dalam format  isim mufrod. Contoh lain:
جَاءَ الأمُّ وَوَلَدُهَا وَغُرُوْبَ الشَّمْسِ  > "Seorang Ibu dan Anaknya datang bersamaan dengan terbenamnya matahari"

زَيْدٌ وَتَغْرِيْدَ الطُّيُوْرِ > "Zaid bangun bersamaan dengan burung berkicau"

رَجَعَ زَيْدٌ وَطُلُوْعَ الْفَجْرِ > "Zaid pulang bersamaan dengan terbitnya fajar"

Cara memisahkan  Wau Ma'iyyah dengan Wau 'Athaf

Sebelumnya saya pernah mencatat  tentang wau athaf pada bab mengenai  athaf. Karena disini membicarakan  masalah wau ma'iyyah. Adakalah saya dan anda butuh  mengetahui perbedaannya.

1. Kalau wau athof, i'robnya (harokat) mengekor  lafadz sebelumnya. Jika harokat fathah maka ma'tufnya pun  fathah. andai  kasroh maka pun  kasroh. Jika harokatnya dhammah maka ikut dhammah. Berbeda dengan wawu ma'iyyah. I'robnya me sti nashob sebagaimana definisi  diatas. Contoh : جَاءَ عُمَرُ وَغُرُوْبَ الشَّمْسِ (Telah datang umar bareng  dengan tenggelamnya matahari) Kata غُرُوْبَ manshub dengan harokat fathah sebab  sebagai maf’ul ma’ah

2. Untuk memisahkan  Wau Ma'iyyah dengan Wau 'Athaf dapat  juga disaksikan  dari makna/artinya. Kalau Wau 'Athaf bermakna DAN (kata sambung), maka Wau Ma'iyyah bermakna BERSAMA.

SYARAT SYARAT MAF’UL MA’AH

1. Berbentuk isim Fadhlah

Adanya isim tersebut tergolong  kelebihan. Maksudnya tanpa adanya isim terebut sebetulnya  jumlah itu  sudah dapat  dipahami

contoh : دَعِ الظَّالِمَ وَالأَيَّامَ

2. Sebelum Wawu Ma’iyyah terdapat  Jumlah misal  جَاءَ الاَمِيرُ وَالجَيْسَ (raja datang bersamaan dengan prajurit)

3. Maf’ul ma’ah terletak langsung sesudah  huruf   WAU yang dinamakan  dengan WAU ma’iyyah. Tidak boleh terdapat  lafadz pemisah sebelumnya.

4. WAU ma’ah mengindikasikan  suatu kebersamaan, bukan kata sambung

Berikut ialah  contoh-contoh maf'ul ma'ah atau wau ma'iyyah:

غَزَا الرِجَالُ وَالْقَائِدَ (para lelaki berperang beserta panglima)

ذَهَبَ التُّجَّارُ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ (para saudagar  pergi saat  terbit matahari)

شَرِبَ الْمُدَرِّسُ وَ التِّلْمِيْذَ (Guru tersebut  minum bersamaan dengan murid)

وَقَفَ الْوَلَدُ وَ الضِّيْفَ (Anak laki-laki tersebut  berhenti bersamaan dengan tamu)

جَاءَ عُمَرُ وَغُرُوْبَ الشَّمْسِ (Umar datang bareng  dengan tenggelamnya matahari)

جَاءَ مُحَمَّدٌ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ (Muhammad datang bersamaan dengan terbitnya matahari)

__________________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN MAF'UL MAAH SEMOGA BERMANFAAT

BAB MAF'UL LIAJLIHI

BAB MAF'UL LIAJLIHI
 
A.Pengertian Maf’ul Liajlih

Maf’ul liajlih ialah  ISIM MANSUB MENERANGKAN SEBAB TERJADINYA FIIL
Contoh:


جَلَسْتُ عَلَى الكُرْسِيِّ تَعْبًا

(Aku duduk di atas kursi karena lelah)


رَجَعْتُ إِلَى البَيْتِ شَوْقًا لِلْأسْرَةِ

(Aku pulang ke rumah karena kangen dengan keluarga)


أكَلْتُ الطَعَامَ جَوْعًا

(Aku memakan makanan karena lapar)


أذهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ رَغْبَةً فِيْ الْعِلْمِ

( Aku berangkat ke sekolah sebab  mencintai Ilmu)


ضَرَبْتُ الْوَلَدَ تَأْدِيْبًا لَهُ

( Aku memukul anak tersebut  karena bermaksud guna  mendidiknya)


Penjelasan :

kata 'mendidik', 'cinta', 'lelah', 'lapar', dan 'rindu' adalah menjadi Maf’ul Li Ajlih,  hukumnya Nashob dan tanda Nashob nya adalah Fathah.

Lafazh-lafazh yang biasa menjadi maf’ul liajlih:


إِكْرَامًا (sebab hormat) حيَاءً(karena malu)

حُزْنًا (karena sedih) رَحْمَةً (karena sayang)

خَوْفًا (karena takut) حَسَدًا (karena iri)

حُبًّا (karena cinta) بُغْضًا ( sebab  marah)

( sebab  mendidik) إِيْمَانًا (karena beriman)

شَفَقَةً (sebab kasihan) فَرْحًا (karena senang)

تَعْبًا (karena lelah) شُكْرًا (karena bersyukur)

غَضْبًا (karena marah) رَغْبَةً (karena cinta)


Penjelasan :
Sebenarnya hukum Maf’ul li Ajlih ialah  dibaca Nashob, tetapi dapat  di Jarr dengan huruf   Lam (ل) dan terkadang Maf’ul li Ajlih sama sekali tidak menduduki sebagai ma'ful li ajlih, namun  menjadi Jarr-Majrur dan mempunyai ta'aluq atau hubungan  dengan kata sebelumnya.

Contoh:


أَعْطَيْتُ الْفَقِيْرَ طَعَامًا لِشَفَقَتِهِ

(Aku memberi orang fakir tersebut  makanan sebab  kasihan kepadanya)


perhatikan kata 'لِشَفَقَتِهِ', kata tersebut sebenarnya berkedudukan sebagai ma'ful liajlih, tapi dalam kalimat tersebut kata 'لِشَفَقَتِهِ' dibaca jar karena ada huruf lam 'لِ', karena kata tersebut diawali dengan huruf lam (huruf jar) maka ia mempunyai hubungan dengan kata sebelumnya, perhatikan : 'saya memberi orang fakir tersebut makanan' ini adalah kalimat pertamanya,, karena kemasukan huruf jar pada kata 'لِشَفَقَتِهِ' maka jar majrur tersebut mempunyai hubungan, dan diterjemahkan dengan kata 'sebab kasihan kepadanya'.




Contoh I’ROB :


أكَلْتُ الرُزَّ  جَوْعًا

Saya makan nasi karena lapar


أكَلْتُ : “أكَلْ” فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى السُّكُوْنِ ،

وَ "التَّاءُ" ضمير مُتَّصِلٌ مَبْنِيٌّ عَلَى الضَمِّ فَاعِلٌ

الرُرَّ : مَفْعُوْلٌ بِهِ مَنْصُوْبٌ و عَلَامَةُ نَصْبِهِ فَتْحَةٌ

جَوْعًا: مَفْعُوْلٌ لِأجْلِهِ مَنْصُوْبٌ و عَلَامَةُ نَصْبِهِ فَتْحَةٌ


أكَلْتُ : 'telah makan' fiil madhi mabni sukun, adapun huruf “Ta” ialah  Dhomir Fa’il mabny atas Dhommah dibaca rofa.

الرُرَّ: maf'ul bih dibaca nashob, tanda nashobnya adalah fathah.

جَوْعًا: maf'ul liajlih dibaca nashob, tanda nashobnya adalah fathah.



B.Ketentuan-ketentuan Maf’ul Li ajlih :

Terdapat sejumlah  ketentuan Maf’ul Li Ajlih diantaranya :

1. Maf’ul Li ajlih mesti senantiasa memakai  Mashdar
Contoh :


إِكْرَامًا (sebab hormat) حيَاءً(karena malu)

حُزْنًا (karena sedih) رَحْمَةً (karena sayang)

خَوْفًا (karena takut) حَسَدًا (karena iri)

حُبًّا (karena cinta) بُغْضًا ( sebab  marah)

تَاْدِيْبًا ( sebab  mendidik) إِيْمَانًا (karena beriman)

شَفَقَةً (sebab kasihan) فَرْحًا (karena senang)

تَعْبًا (karena lelah) شُكْرًا (karena bersyukur)

غَضْبًا (karena marah) رَغْبَةً (karena cinta)



2. Maf’ul Li Ajlih me sti terdiri dari tindakan  yang bersangkutan   dengan hati dan dinamakan  أَفْعَالُ الْقَلْب

تَأْدِيْبًا , رَغْبَةً , إِيْمَانًا, حُبًّا, طَعَامًا


Penjelasan :
Lafazh-lafazh tersebut tindakan  yang sehubungan  dengan hati.

3. Untuk menggali  Maf’ul Li Ajlih dapat dipakai  kata tanya
( kenapa  ).

تَأْدِيْبًا , رَغْبَةً , إِيْمَانًا, حُبًّا, طَعَامًا


Penjelasan :

Lafazh-lafazh itu  adalah jawaban dari pertanyaan “ mengapa”, atau terdapat  hubungan sebab-akibat dari sebuah  perbuatan.

BAB MAF'UL MUTLAQ

BAB MAF'UL MUTLAQ
A. Pengertian Maf’ul Muthlaq
Maf’ul Muthlaq ialah  ISIM MASDAR MANSUB bertujuan untuk penegasan dan penjelasan jenis atau jumlah perbuatannya.

Contoh :

ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا, أكْرَمَ يُكْرِمُ إكْرَامًا,

Dari pengertian  maf’ul muthlaq itu  member kepahaman bahwa :
1. Maf’ul muthlaq berupa kalimat isim
2. Maf'ul muthlaq bertujuan untuk penegasan, penjelas dari fi'il (baik jenis maupun jumlah pekerjaannya)
3. Dibaca nashob dan dinashobkan oleh amil. Adapun amil yang menashobkan maf’ul muthlaq yaitu :

  • Fi’il taam yang mutashorrif: kata kerja sempurna yang dapat ditashrif (maksudnya bukan fi’il naqhis dan fi’il jamid )

    ضَرَبْتُ كَلْبًا ضَرْبَتَيْنِ

    Aku memukul Anjing dengan dua kali pukulan

  • Mashdar

    عَحِبْتُ مِنْ ضَرْبِكَ ضَرْبًا شَدِيْدًا

    Aku terkejut atas pukulanmu dengan pukulan yang keras

  • Isim sifat

    أنَا ضَارِبُ زَيْدٍ ضرْبَ أبِيْهِ

    Aku memukul Zaid seperti pukulan ayahnya

4. Maf’ul muthlaq tercipta  dari mashdar yang adalah urutan ketiga dari tashrifnya fi’il.

Maf'ul Mutlaq ialah  isim manshub yang dilafalkan  untuk 3 keadaan:
  • Untuk menegaskan sebuah  perbuatan
  • Untuk menyatakan  bilangan perbuatan
  • Untuk menyatakan  jenis/sifat perbuatan

a. Contoh sebagai penegas perbuatan

حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظًا

“ Aku sudah  menghafal pelajaran tersebut  dengan sangat hafal”
Kata حِفْظًا adalah  isim yang dibaca nashob dengan fathah sebab  isim mufrod, dan ia menjadi maf'ul mutlaq. Kata tersebut bertugas  untuk menegaskan perbuatan. Jika kita perhatikan baik-baik  bentuk  katanya, maf’ul mutlaq adalah isim yang berasal dari lafad fi’ilnya, dalam ilmu shorof disebut  isim mashdar. Sehingga untuk menciptakan  maf’ul bih sebuah  fi’il, dengan teknik  mengganti  fi’il itu  menjadi isim mashdar.

  yang mengindikasikan  penegas tindakan  :

 حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظاً

(Saya menghapal latihan  dengan sesungguhnya)

ضربْتُهٌ ضرباً شديداً

(Saya memukulnya dengan pukulan keras)

أكلْتُ أكْلاً كثيراً

(Saya makan dengan banyak)


b. Contoh untuk menyatakan  bilangan

ضَرَبْتُهُ ضَرْبَةً

“ Aku memukulnya dengan satu kali pukulan “

Kata ضَرْبَةً adalah isim manshub dengan fathah, sebab  isim mufrod, sebagai maf'ul mutlaq. Pada kalimat ini, maf’ul mutlaq bermanfaat  sebagai penjelas bilangan dari perbuatan. Jika anda  belajar ilmu shorof, anda  akan temukan format  isim masdar yang lebih dari satu, laksana  halnya pada misal  di atas.

Kata ضرب dapat memiliki  isim masdar yang lebih dari satu, dan pemakai annya bermacam-macam, terdapat  yang guna  sebagai penjelas tindakan  atau untuk menyatakan  bilangan, sampai-sampai  untuk dapat menyusun  suatu kalimat yang memiliki  maf’ul mutlaq, maka butuh  adanya pengetahuan mengenai  bentuk-bentuk isim masdar dari sebuah  fi’il.

Contoh beda  yang menyatakan  bilangan :

ضَرَبْتُ الكَلْبَ ثَلاَثَ ضَرَبَاتٍ

(Saya memukul anjing sejumlah  tiga kali)

ضربْتُهُ ضربةً

(Saya memukulnya satu kali pukulan)

أكلْتُ أكلَةً

(Saya makan satu kali suap)


c. Contoh untuk menyatakan  jenis/sifat

مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Barang siapa yang keluar  dari ketaatan Seorang pemimpin sejengkal saja, lantas  ia mati,maka matinya laksana  kematian jahiliyah".

Pada kalimat di atas ada  kata مِيتَةً yang dibaca nashob. Kata itu  adalah maf’ul muthlaq karena bermanfaat  sebagai penjelas jenis dari fi’il yang digunakan  yakni مَاتَ. Pada situasi  ini, maf’ul muthlaq mesti dibuntuti  oleh na’at. Sehingga maf’ul muthlaq yang bermanfaat  untuk menyatakan  jenis/sifat fi’il mesti dibuntuti  oleh na’at/sifat atau disandarkan ke isim yang lainnya.

Contoh lagi  :

جَلَسْتُ جِلْسَةَ العُلَمآءِ

(Saya duduk seperti  duduknya semua  ulama) =


B. Macam-macam Maf’ul Muthlaq

Masdar yang menjadi maf’ul muthlaq terdapat  dua yakni  :

a. Masdar Lafdzi

Yaitu bilamana  lafadznya masdar sesuai  dengan lafadznya fi’il.

Contoh :

قَتَلْتُهُ قَتْلاً saya benar-benar telah membunuh Zaid.

Lafadz قَتْلاً adalah  masdar yang menjadi maf’ul muthlaq, lafadznya mirip  dengan lafadz fi’ilnya yakni  قَتَلَ , maka disebut  masdar lafdzi.

b. Masdar Maknawi

Yaitu bilamana  masdar sesuai  dengan artinya  fi’il, tetapi  tidak sesuai  dalam lafadznya.

Contoh :

جَلَسْتُ قُعُوْدًا saya duduk dengan sesungguhnya

قُمْتُ وُقُوْفًا saya berdiri dengan sesungguhnya

Masdar قُعُوْدًا yang menjadi maf’ul muthlaq, artinya  sama dengan artinya  fi’ilnya, lafadz جَلَسْتُ (maknanya duduk), tetapi  tidak sama dalam lafadznya, begitu pun  dengan lafadz وُقُوْفًا dengan قُمْتُ, oleh sebab  itu disebut  masdar maknawi.


C. Hukum Maf’ul Mutlaq

Hukum maf’ul mutlaq terdapat  tiga macam :

1. Wajib dibaca nashob, misal  : رأيتُهُ مُسرعاً إسراعاً عظيماً

2. Wajib jatuh sesudah  amilnya andai  untuk menguatkan. Apabila untuk menyatakan  jenis atau bilangannya maka boleh jatuh sesudah  atau sebelumnya. Contoh : اجتهدتَ اجتهاداً حسَناً

3. Amil Maf’ul Mutlaq boleh dibuang, andai  maf’ul mutlaq tersebut menyatakan  jenis atau bilangannya dan pun  ada qorinah/hubungan yang mengindikasikan  amil tersebut. Dalam artian menjadi jawaban dari suatu  pertanyaan.

Contoh : اجتهاداً حسَناً

Kata “ اجتهاداً حسَناً “ ialah  jawaban daripertanyaan “كيف اجتهدت


Kesimpulan

Berdasarkan ulasan  yang sudah  diuraikan diatas, maka dapat diputuskan  bahwa Maf’ul Muthlaq ialah  kalimat isim yang terbaca nashob yang berada pada urutan yang ketiga dari tashrifannya fi’il.

Maf’ul muthlaq merupakan   untuk mengindikasikan  3 hal yakni  :

1. Bagi  menegaskan suatu tindakan  ( ضربْتُ ضرباً شديداً)

2. Untuk menyatakan  bilangan tindakan  (ضَرَبْتُ الكَلْبَ ثَلاَثَ ضَرَبَاتٍ)

3. Untuk menyatakan  jenis/sifat tindakan  (جَلَسْتُ جِلْسَةَ العُلَمآءِ).

BAB MAF'UL BIH

BAB MAF'UL BIH


Pengertian Maf'ul Bih

Maf'ul bih :isim manshub (yang dibaca nashob) yang menjadi sasaran tindakan  (objek).


Contoh :

    muhamad membaca buku   = قرأ محمد كتابا

   muhamad memukul anjing  = ضرب محمد كلبا

   yang berwarna biru sebagaai maful bih


Contoh lainnya :


اَكَلْتُ الطَعَامَ = Aku sudah  memakan makanan.


Yang menjadi sasaran perbuatannya (memakan) ialah  makanan, maka kata tersebut  menjadi maf’ul bih.

Dengan misal  di atas sudah paling  jelas sekali untuk mengetahui  pembahasan mengenai  maful bih dalam ilmu nahwu.


______________________________________________________

DEMIKIAN PEMBAHASAN  SINGKAT TENTANG MAFUL BIH SEMOGA BERMANFAAT

BAB MACAM MACAM FIIL

MACAM MACAM FIIL

Kata kerja / F’il terbagi tiga:

1. Fi’il Madhi – Kata kerja Lampau:

Kata kerja menunjukkan kejadian bentuk lampau, yang telah terjadi sebelum masa berbicara. Seperti :

قَرَأَ

Telah membaca”.

Tanda-tandanya adalah dapat menerima Ta’ Fa’il dan Ta’ Ta’nits Sakinah. Seperti :

قَرَأْتُ

QORO’TU = “Aku telah membaca” dan

قَرَاَتْ

QORO’AT = “Dia (seorang perempuan) telah membaca”.

2. Fi’il Mudhori’ – Kata kerja bentuk sedang atau akan:

Kata kerja menunjukkan kejadian sesuatu pada saat berbicara atau setelahnya, pantas digunakan untuk kejadian saat berlangsung atau akan berlangsung.

Dapat dipastikan kejadian itu terjadi saat berlangsung dengan dimasukkannya Lam Taukid dan Ma Nafi. Seperti:

قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ

Berkata Ya’qub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku…

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

…Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati…

Dapat dipastikan kejadian itu terjadi akan berlangsung dengan dimasukkannya :

س, سوف, لن, أن, ان.

SYIN, SAUFA, LAN, AN dan IN

Seperti:

سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى

dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).

 

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَن تَرَانِي

berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلاًّ مِّن سَعَتِهِ

Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya.

Tanda-tanda Fi’il Mudhori’ adalah: bisa dimasuki لَمْ seperti contoh:

لَمْ يَقْرَأْ

artinya: tidak membaca.

Ciri-ciri Kalimah Fi’il Mudhari’ adalah dimulai dengan huruf Mudhoro’ah yang empat yaitu أ – ن – ي – ت disingkat menjadi أنيت.

Huruf Mudhara’ah Hamzah dipakai untuk Mutakallim/pembicara/orang pertama tunggal/Aku. contoh

أضرب

ADHRIBU = aku akan memukul

Huruf Mudhara’ah Nun dipakai untuk Mutakallim Ma’al Ghair/pembicara/orang pertama jamak/Kami. contoh

نــضرب

NADHRIBU = kami akan memukul

Huruf Mudhara’ah Ya’ dipakai untuk Ghaib Mudzakkar/orang ketiga male, tunggal, dual atau jamak/dia atau mereka. contoh

يــضرب

YADHRIBU = dia (pr) akan memukul

يــضربان

YADHRIBAANI = dia berdua (lk-pr) akan memukul

يــضربون

YADHRIBUUNA = mereka (lk) akan memukul

يــضربن

YADHRIBNA = mereka (pr) akan memukul

Huruf Mudhara’ah Ta’ dipakai untuk Mukhatab secara Mutlaq/orang kedua male atau female, juga dipakai untuk orang ketiga female tunggal dan dual. contoh

تــضرب

TADHRIBU = kamu (lk)/dia (pr) akan memukul

تــضربا

TADHRIBAA = kamu berdua (lk-pr)/dia berdua (pr) akan memukul

تــضربون

TADHRIBUUNA = kamu sekalian (lk) akan memukul

تــضربين

TADHRIBIINA = kamu (pr) akan memukul

تــضربن

TADHRIBNA = kamu sekalian (pr) akan memukul

3.  Fi’il Amar – Kata kerja bentuk perintah :

Kata kerja untuk memerintah atau mengharap sesuatu yang dihasilkan setelah masa berbicara. contoh:

اقْرأْ

IQRO’ = bacalah.

Tanda-tandanya adalah dapat menerima Nun Taukid beserta menunjukkan perintah. contoh

اقْرَأَنَّ

IQRO’ANNA = sungguh bacalah.

 

 

Minggu, 29 Maret 2020

BAB MU'ROB DAN MABNI PADA ISIM

BAB MU'ROB DAN MABNI PADA ISIM
ISIM DITINJAU DARI PERUBAHAN HAROKAT AKHIRNYA ADA 2
Pengertian Isim Mu'rab
1. ISIM MU'ROB
pertama adalah  isim mu’rab (isim yang huruf akhirnya / harokatnya BISA berubah) dan ia ialah  asli, yakni  isim yang mengalami  perubahan pada bagian akhirnya sebab  berbedanya amil yang memasukinya, adakalanya  perubahan secara lafadz, laksana  lafadz زَيْدٌ dan عَمْرٌو , dan adakalanya  perubahan secara alami perkiraan, laksana  lafadz مُوْسَى dan اَلْفَتَى

Adapun Macam-Macam Isim Mu'rab adalah sebagai berikut:

1. المُفْرَد = al-mufrad = isim yang menunjukkan  arti satu (dalam bahasa Inggris disebut  juga dengan singular).

Contoh:

كِتَابٌ = kitaabun = dengan kata lain  satu buku.

قَمَرٌ = qomarun = dengan kata lain  satu bulan.


2. المُثَنَّى = al-mutsanna = isim yang menunjukkan  arti dua.

Contoh:

كِتَابَانِ = kitaabaani = dengan kata lain  dua buku.
مَدْرَسَتَانِ = madrosataani = dengan kata lain  dua sekolah.

3. جمع المذكر السالم = jama' mudzakkar saalim = isim yang menunjukkan  arti banyak/lebih dari dua (plural) yang dikhususkan untuk  jenis laki-laki.

Contoh:


مُؤْمِنُوْنَ = mu'minuuna = dengan kata lain  orang-orang yang beriman

4. جمع المؤنث السالم = jama' muannats saalim = isim yang menunjukkan  arti banyak/lebih dari dua (plural) yang dikhususkan untuk jenis perempuan.

Contoh:

مَدْرَسَاتٌ = madrosaatun = sekolah-sekolah (banyak sekolah)

5. جمع التكسير = jama' taksir = isim yang menunjukkan  arti banyak/lebih dari dua (plural) dan mempunyai perubahan format  dari mufradnya atau berubah dari mufradnya.

Contoh:

a tunggal) dari rumah ialah  كِتَابٌ / kitaabun.
Jama' nya ialah  كُتُبٌ / kutubun.


6. اللأسماء الخمسة = al-asmaaul khamsah = nama-nama yang lima= isim yang berjumlah lima yang sama format  dan perubahannya.

Nama-nama yang lima itu  adalah: أَبٌ , أَخٌ , حَمٌ , فَمٌ , ذُوْ



7. المقصور = al-maqshur = isim yang berakhiran alif lazimah dan sebelumnya berjajar  fathah.

Contoh:

الفَتَى = al-fataa = dengan kata lain  pemuda/remaja


8. المنقوص = al-manquush = isim yang berakhiran ya lazimah dan sebelumnya berjajar  kasrah.

Contoh:

الهَادِى = al-haadii = dengan kata lain  petunjuk.


9. الأسم الذى لا ينصرف = isim yang tidak bertanwin.

Contohnya:

nama wanita laksana  : فاطمة / faatimatu / fatimah

nama laki-laki yang berpola akhiran aan laksana  'utsmaanu / عُثْمَانُ




B. Pengertian Isim Mabni


Sedangan yang kedua ialah  isim mabni (isim yang tetap), yakni  tidak merasakan  perubahan pada unsur  akhir kata walaupun amil yang memasukinya berbeda-beda. laksana  isim –isim dhamir (baik yang muttashil maupun yang munfashil), isim-isim kriteria , isim-isim istifham, isim-isim isyarah, isim-isim fi’il, dan isim-isim maushul.

Macam-macam Isim Mabni adalah sebagai berikut:

1. Isim dhamir dengan kata lain  kata ganti orang, contohnya: 

a. Kata ganti orang kesatu:
أَنَا (anaa) : saya.
نَحْنُ (nahnu) : kami.

b. Kata ganti orang kedua:
أَنْتَ (anta) : kamu (untuk laki-laki).
أَنْتِ (anti) : kamu (untuk perempuan).
أَنْتُمْ (antum) : kalian (untuk laki-laki).
أَنْتُنَّ (antunna) : kalian (untuk perempuan).
أَنْتُمَا (antumaa) : kalian berdua (untuk laki-laki dan perempuan).

c. Kata ganti orang ketiga.
هُوَ (huwa) : dia (untuk laki-laki).
هِيَ (hiya) : dia (untuk perempuan).
هُمْ (hum) : mereka (untuk laki-laki).
هُنَّ (hunna) : mereka (untuk perempuan).
هُمَا (humaa) : mereka berdua (untuk laki-laki dan perempuan).

Note:
Orang kesatu  dinamakan  mutakallim ( متكلم ).
Orang kedua dinamakan  mukhaathab ( مخاطب )
Orang ketiga dinamakan  ghaaib ( غائب ).


2. Isim isyarah artinya ialah  kata tunjuk, yaitu:
هَذّا (haadza) : ini (untuk laki-laki)
هَذِهِ (hadzihi) : ini (untuk perempuan)
هَؤُلاَءِ (ha-u-laa-i) : ini seluruh  (untuk laki-laki dan perempuan)

ذَلِكَ (dzalika) : itu (untuk laki-laki)
تِلْكَ (tilka) : itu (untuk perempuan).
أُولئِكَ (u-laa-i-ka) : itu seluruh  (untuk laki-laki dan perempuan).


3. Isim maushul ialah  kata penghubung, yaitu:
الَّذِى (alladzi) : yang (untuk laki-laki)
الذِيْنَ (alladziina) : mereka yang (untuk laki-laki)

الَّتِى (allatii) : yang (untuk perempuan).
اللاَّتِى atau اللآَّئِى ( allaatii atau allaa-ii) : mereka yang (untuk perempuan).


4. Isim istifham ialah  isim yang dipakai  sebagai kata tanya, misalnya:مَنْ (man) : siapa
كَيْفَ (kaifa) : bagaimana
أَيْنَ (aina) : mana
كَمْ (kam) : berapa
مَتَى (mataa) : kapan
هَلْ (hal) : apakah
مَا (maa) : apakah

5. Isim Syarat  ialah  isim yang membutuhkan  jawab, yaitu:
مَنْ , مَتَى , مَا , مَهْمَا
Contoh:
مَنْ جَدَّ وَجَدَ  : Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil
____________________________________________-
Demikian ringkasan bab mu'rob mabni semoga bermanfaat

BAB FAIL

BAB FAIL

1.DEFINISI FA'IL

Fail adalah isim yang harus rafa' terletak setelah fiil

قَامَ الرَّجُلُ = Lelaki itu sudah berdiri

تَرَافَعَ المُحَامِيَانِ  = Dua pengacara itu sedang mengajukan permohonan

قَاتَلَ المُنَاضِلُوْن  = Kelompok militan itu telah berperang

yang berwarna biru adalah failnya ( pelaku )

2. Ketentuan Fail

1. Jenis kalimah yang bisa dijadikan fail adalah sebagai berikut:
  • Fail bisa dibuat dari isim mu'rab seperti pada contoh siatas dan
  • Bisa juga fail dibuat dari isim yang mabni. Isim mabni adalah kalimah dari jenis isim dzahir, isim isyarah, isim maushul dll. Perhatikan contoh berikut ini!

جَلَسْتُ : التَّاء: ضَمِيْرٌ مَبْنِيٌ فِي مَحَلِ رَفْعٍ فَاعِلٌ = Aku telah menulis ; ta pada jalastu adalah isim dlamir

الرَّجُلُ حَضَرَ = Lelaki itu telah hadir; pada kalimah حَضَرَ terdapat kata ganti yang disiratkan yang disebut sebagai dlomir mustatir dengan memperkiarakan kalimah هُوَ yang kembali pada kalimah الرَّجُلُ.

        نَجَحَ هَذَا الطَّالِبُ = Siswa ini telah berhasil. هَذَا  adalah isim isyarah yang berposisi sebagai fai'l dari kalimah نَجَحَ  

2. Ketika membuat jumlah fi'liyyah dan fa'il terdiri dari isim tatsniyyah atau jamak, maka bentuk fi'il selamanya harus dalam bentuk mufrod. Perhatikan contoh berikut!
حَضَرَ المُدَرِّسُ = Guru itu telah datang
حَضَرَ المُدَرِّسَوْنُ = Guru-guru itu telah datang
حَضَرَ المُدَرِّسَانِ = Dua orang guru itu telah datang
3. Apabila fa'il terdiri dari isim mufrad yang mu'annats atau jamak mu'annats salim atau jamak taksir, maka jika fi'ilnya fi'il madi maka harus menambahkan ta sukun pada akhirnya dan ta berharkat pada awal mudlari'. Perhatikan contoh berikut!
سَافَرَتْ / تُسَافِرُ فَاطِمَةُ = Fatimah bertamasya > isim mufrad
سَافَرَتْ / تُسَافِرُ الطَّالِبَاتُ = Para siswi itu bertamasya > Jamak mu'annats salim
سَافَرَتْ / تُسَافِرُ الطُّلَّابُ = Siswa-siswi itu bertamasya > Jamak taksir

 _________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN BAB FAIL SEMOGA BERMANFAAT

BAB NAIBUL FAIL

BAB Naibul Fail [نَائب الفاعل] 

Contoh:

Contoh dari fi'il madhi

فَتَحَ زَيْدٌ البَابَ          ----->       فُتِحَ البَابُ

Pintu itu dibuka  <-----         Zaid membuka pintu itu

أَكَلَ زَيْدٌ البُرْتُقَالَ     ----->   أُكِلَ البُرْتُقَالُ

Jeruk itu dimakan  <-----   Zaid memakan jeruk itu

كَسَرَ زَيْدٌ الإِنَاءَ   ----->      كُسِرَ الإنَاءُ

Pot bunga itu dipecah  <----- Zaid memecahkan pot bunga itu

قَطَفَ زَيْدٌ الوَرْدَةَ   ----->   قُطِفَ  الوَرْدَةُ

Bunga mawar itu dipetik  <----- Zaid memetik bunga mawar itu

 

Contoh dari fi'il mudhori

يَرْكَبُ زَيْدٌ الحِصَانَ    ----->  يُرْكَبُ الحِصَانُ

Kuda itu ditunggangi  <----- Zaid menunggang kuda itu

يْدٌ البَقَرَةَ    ----->  تُحْلَبُ البَقَرَةُ


Susu Sapi itu diperah  <------   Zaid memerah susu sapi itu


 يَحْمِلُ زَيْدٌ الكِتَابَ   ----->  يُحْمَلُ الكِتَابُ


Buku itu dibawa  <------ Zaid membawa buku itu 


يَأخُذُ زَيْدٌ المِكْنَسَةَ   ----->  تُأخَذُ المِكْنَسَةُ


Sapu itu diambil  <----- Zaid mengambil sapu itu

 Pembahasan:

Perhatikan 4 contoh kalimat pertama [dari fi'il madhi] yang berada di bagian kanan, pada kalimat tersebut terdapat fi'il madhi [predikat/kata kerja], fa'il [subjek/pelaku] dan maf'ul bih [objek], bandingkan dengan kalimat sebelah kirinya yang hanya ada dua kata saja yaitu fi'il madhi yang berubah bentuk harokatnya dan satu kata setelahnya. perhatikan fi'il yang berubah harokatnya yang berwarna merah (فُتِحَ أُكِلَ كُسِرَ  قُطِفَ ), huruf pertama berharokat dhommah dan huruf sebelum huruf akhir berharokat kasroh, fa'il [Subjek] nya dihilangkan dan yang menggantikan adalah yang sebelumnya menjadi maf'ul bih, maka berubah menjadi rofa' (البَابُ  البُرْتُقَالُ  الإنَاءُ  الوَرْدَةُ ) yang mana sebelumnya dibaca nashob  (البَابَ  البُرْتُقَالَ  الإِنَاءَ  الوَرْدَةَ ).

Sedangkan pada 4 contoh kalimat dari fi'il mudhori di bawahnya, fi'il yang berwarna biru di atas harokatnya juga berubah, hanya saja berbeda dari fi'il madhi. Perhatikan kata (يُرْكَبُ  تُحْلَبُ   يُحْمَلُ   تُأخَذُ) semua kata tersebut huruf pertamanya berharokat dhommah, dan huruf sebelum huruf akhirnya berharokat fathah, dan jika diperhatikan, fa'il [subjek] pada kalimat tersebut juga dihilangkan, dan digantikan posisinya dengan isim yang tadinya menjadi maf'ul bih [objek] yaitu yang berwarna hijau (الحِصَانُ  البَقَرَةُ  الكِتَابُ   المِكْنَسَةُ)  semua kata tersebut beri'rob rofa' karena menggantikan posisi fa'il yang dihilangkan.

Semua maf'ul bih di atas yang kemudian berubah menjadi warna hijau itu semuanya dinamakan juga Naibul Fa'il atau pengganti fa'il [objek].

Kaidahnya:

  1. Naibul Fa'il adalah isim yang dibaca rofa' yang menggantikan posisi fa'il yang dibuang.
  2. Jika fi'il yang disandarkan ke Naibul Fa'il adalah fi'il madhi, maka fi'il madhi tersebut harokatnya harus dirubah "huruf pertamanya diganti Dhommah, dan huruf sebelum huruf akhirnya berharokat kasroh". Adapun jika Naibul Fa'il disandarkan kepada fi'il mudhore, maka fi'il mudhore tersebut harus diganti harokatnya menjadi "huruf pertama diganti dhommah, dan huruf sebelum huruf akhir harus diganti fathah".
    Dan fi'il-fi'il yang diganti harokatnya ini dinamakan juga dengan fi'il mabni majhul.
  3. Jika Naibul Fa'il nya berupa muannats [perempuan] maka fi'ilnya juga harus diganti menjadi muannats, begitu juga sebaliknya. Jika naibul fa'il nya mudzakkar [laki-laki] maka fi'ilnya juga harus mudzakkar.

___________________________________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN TENTANG NAIBUL FAIL SEMOGA BERMANFAAT

 

BAB ISIM MAQSUR DAN MANKUS

BAB ISIM MAQSUR DAN MANKUS dan tanda irobnya

ISIM MAQSUR

1. Pengertian isim maqsur
Isim Maqshur secara bahasa berasal dari bahasa arab yakni  قصر ـ مقصور yang dengan kata lain  diringkas. Hal ini dikarenakan saat  dalam suasana  rofa’, nasab maupun jer, harakat akhir isim ini tidak berubah atau tetap. Biasa disebutkan  tanda i’robnya diringkas atau dikira-kirakan dengan fathah.

CONTOH الفتى   ATAU العصا


Adapun secara istilah isim maqshur merupakan 

كل إسم معرب اخره ألف لازمة أصلية
  setiap isim mu’rob yang akhirnya alif lazimah, 
Jadi yang disebut  isim maqshur ialah  isim yang diakhiri dengan huruf  alif (baik alif tega' maaupun alif bengkok seperti ya  atau dinamakan juga alif layyinah) yang sebelumnya berharakat fathah.
2. irob isim maqsur adalah dengan domah muqodarah / fathah muqodarah / kasrah muqodarah
contoh 

a. Ketika rofa’   lafadz  (جاء الفتَى (الفتى : فاعل مرفوع  بضمة مقدرة


b. Ketika nashob  lafadz  (رأيتُ الفتَى (الفتى:مفعول به  منصوب بفتحة مقدرة


c. Ketika jer  lafadz (مررتُ بالفتَى (الفتى : مجرور بكسرة مقدرة



Isim Manqush

1. Pengertian
Isim manqus secara bahasa berasal dari kata نَقَصَ – مَنْقوْص yang dengan kata lain  kurang atau dikurangi. Ini disebabkan  dikurangi menampakan beberapa  harakatnya, yaitu saat  rofa dan jar, dan saat  tingkah nashob manqus bertolak belakang  dengan maqshur dan me sti ditampakan alamat nashobnya (yaitu fatkhah).
Secara istilah isim manqus merupakan 

الاسم المعرب الذى آخره ياء لا زمة
Isim mu’rob yang diselesaikan  dengan ya’ lazimah. 

 CONTOH القاضي ATAU الداعي

2. Isim manqush ini BISA menampakan FATHAH saat  nashob ADAPUN MARFU' DAN MAJRURNYA MUQODARAH . Contoh:

a. Ketika rofa’ laksana  lafadz: (جاء الداعِى (الداعي : فاعل مرفوع بضمّة مقدرة


b.Ketika nashob laksana  lafadz: (رَأَيْتُ الداعِيَ (الداعي : مفعول به منصوب بفتحة ظاهرة

c.Ketika jer laksana  lafadz: (مرَرْتُ بِالداعِى (الداعي ممجرور بكسرة مقدرة

  __________________________________

DEMIKIAN RINGKASAN ISIM MAQSUR DAN MANKUS SEMOGA BERMANFAAT 

DIANTARA TIPS BELAJAR BAHASA ARAB

 DIANTARA TIPS BELAJAR BAHASA ARAB
1. Temukan dulu guru yang kamu anggap berkompeten.

2. Mintalah belajar dari awal.
a. Belajar dari pembentukan kata (isim, fi'il, dan huruf).
b. Cari tahu mana saja yang termasuk isim, fi'il dan huruf.
c. Belajar juga tentang pembentukan kalimat (jumlah ismiyah dan jumlah fi'liyah).
d. Perhatikan setiap kalimat, bagaimana bentuknya, bagaimana ia tersusun, dan sebagainya.
e. Latihan menyusun kalimat yang terpisah-pisah.
 
3. Hafalkan minimal 5 kosa kata Bahasa Arab saja sehari, yang terpenting adalah istiqomah setiap hari.
4. Hafalkan juga tasrifan, baik yang istilahi maupun yang lughowi (optional).
 
DIANTARA TIPS BELAJAR BAHASA ARAB
1. Mulai menghafal banyak kosa kata (mufrodat). Agar mudah diingat, terapkan dalam satu hari menghafal minimal 3 kosa kata. Setelah itu, dari 3 kosa kata tersebut buatlah contoh kalimat, masing-masing 3 kalimat. Misalnya kosa kata ‘Buku’ bahasa Arabnya ‘كِتَابٌ’ kemudian buat kalimatnya “Buku itu baru” bahasa Arabnya “الكِتَابُ جَدِيْدٌ”. Terus sampai 3 kalimat. (Buat kalimat dengan bahasa Indonesia dahulu, baru dicari bahasa Arabnya).
2. Banyak menghafal percakapan-percakapan (muhaddatsah). Anda bisa memulainya dengan menghafal percakapan-percakapan sederhana. Seperti: percakapan ketika berkenalan, ketika dalam kendaraan dan lain sebagainya. Banyak buku-buku percakapan bahasa Arab (muhaddatsah) yang tersedia.
3. Pastikan Anda sudah bisa membuka kamus bahasa Arab. Dalam hal ini cara mencari kata (menemukan asal katanya). Sering-seringlah membuka kamus seperti: Al-Munawir dan Munjid.
4. Cobalah untuk menerjemahkan kitab yang berbahasa Arab kedalam bahasa Indonesia, atau bisa juga sebaliknya.
5. Sering-seringlah membuat suatu karangan cerita dengan menggunakan bahasa Arab. Setelah itu mintalah teman atau guru yang sudah ahli untuk mengoreksi.
6. Carilah partner atau teman belajar yang setingkat (dalam bahasa Arabnya) dengan Anda. Hal demikian agar Anda selalu termotivasi dan lebih greget.
7. Bergurulah dengan orang yang memang ahli dalam bahasa Arab. Misalnya guru di sekolah/ kampus atau teman Anda yang memang sudah mahir berbahasa Arab.
8. Terus belajar dan jangan pernah merasa puas
 

 
KALIMAT [ الجملة ] DALAM BAHASA ARAB ADA 2 

     1. Jumlah Ismiyah
Jumlah ismiyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan isim (kata benda) Atau kalimat yang tersusun dari  mubtada' dan khabar.
Mubtada' merupakan subyek dalam bahasa Arab, karena menjadi subyek maka mubtada' mempunyai beberapa sifat yaitu: pertama, harus berupa ma'rifat (kata khusus/tertentu/spesifik, bukan umum. contoh: nama orang, kemasukan huruf alif+lam). kedua, tanda i'robnya adalah rofa'.


Sedangkan khobar merupakan predikat, yaitu bertugas menjelaskan atau menerangkan keadaan mubtada' (subyek), khobar bisa berupa kata atau anak kalimat. sifat khobar yaitu : satu, harus nakiroh (kata umum). kedua, khobar juga mempunyai  tanda i'rob rofa'.


Mubdata' dan khobar harus mempunyai sifat yang sama, ketika mubdata' nya mudzakar maka khobar juga harus mudzakar, antara mubtada' dan khobar juga harus sama-sama mufrad, tasniyah, atau jamak.

contoh زَيْدٌ قَائِمٌ 

Contoh  kata 'zaidun' sebagai mubdata' dan kata 'qooimun' sebagai khobar sama-sama isim mufrad (kata benda tunggal) dan mudzakar (kata benda berjenis kelamin laki-laki). 

contoh المُسْلِمَانِ قَائِمَانِ

Contoh kata 'muslimaani' sebagai mubtada' (subyek) dan kata 'qooimaani' sebagai khobar sama-sama isim tasniyah (kata benda yang menunjukan arti dua)  

2. Jumlah Fi'liyah

Jumlah fi'liyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan fi'il (kata kerja), sama dengan namanya. kalimat ini biasanya tersusun dari fi'il (kata kerja) dan fa'il (subjek).
Fi'il (kata kerja) disini biasanya berupa fi'il madhi (kata kerja lampau), tapi bisa juga jika menggunakan fi'il mudhore (yang sedang dilakukan).
Fa'il (subjek) dalam jumlah fi'liyah bisa nampak (dhohir/biasanya ditandai dengan nama orang atau suatu benda), bisa juga secara tidak nampak (dhomir/biasanya jumlah fi'liyah dengan fa'il (subjek) yang tidak nampak ini berada di tengah-tengah paragraf karena dhomirnya sudah disebutkan di awal paragraf)
contoh قَامَ زَيْدٌ
Contoh : kata 'qooma' sebagai fi'il (kata kerja), jika dilihat dari segi waktunya, maka fi'il nya adalah fi'il madhi (sudah dilakukan) dan jika dilihat dari segi jenisnya fi'il ini merupakan fi'il lazim (kata kerja yang tidak membutuhkan objek). sedangkan kata 'zaidun' menjadi fa'ilnya (subjek/pelakunya), keduanya sudah termasuk kalimat karena tersusun dari fi'il (kata kerja) dan fa'il (subjek) walaupun hanya dua kata. 

 contoh يَخْلُقُ اللَّهُ النَّاسَ

Contoh : kata 'yahluqu' sebagai fi'il, yaitu fi'il mudhore (kata kerja yang sedang dilakukan), jika dilihat dari jenisnya fi'il ini adalah fi'il muta'adi (kata kerja yang membutuhkan objek), kata 'Allahu' sebagai fa'il (subjek) dan kata 'an-naasa' menjadi maf'ul bih (objeknya). nah, jika tidak ada objeknya maka kalimat ini tidak sempurna karena fi'il 'yahluqu' yang artinya 'menciptakan' itu membutuhkan objek. 

 ______________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN JUMLAH DAN MACAMNYA SEMOGA BERMANFAAT

BAB MUFRAD MUSTANA DAN JAMA'

 MUFRAD,MUTSANA ,JAMA'
ISIM DITINJAU DARI BILANGANYA ADA 3  TEMAN TEMAN 

 1. Isim Mufrad (مُفْرَدٌ )
Semua isim yang menunjukan arti satu atau tunggal.

CONTOH : كتاب ، مدرسة ، قلم 


2. Isim Tasniyah

Semua isim yang menunjukan arti dua.

cara membuatnya  denngan menambah huruf alif+nun atau yaa+nun (ـانِ  atau  يْنِ) pada isim mufrad, isim apapun yang diakhiri dengan alif+nun atau yaa+nun, maka sudah termasuk isim tasniyah dan mempunyai arti dua. Perhatikan contoh di atas 'كِتَابَانِ  / كِتَابَيْنِ', jika dibaca dengan huruf latin maka menjadi 'kitaabaani/kitaabaini'. artinya dua buku 

#catatan huruf nun selalu di kasroh ( ni )

contoh 

 مدرستانِ / مدرستينِ  artinya 2 sekolah

3. Isim Jamak

Isim jamak adalah kata yang menunjukan arti lebih dari dua

 dalam bahasa arab jamak ada 3 apa saja hoyo ?hasih tahu ga ya...

 A.Jamak mudzakar salim (جَمْعٌ المُذَكَّرِ السَّالِمِ)

Sesuai namanya, jamak ini merupakan bentuk jamak yang menunjukan arti banyak (lebih dari dua) teratur (السَّالِمِ) dan dikhususkan untuk laki-laki ( المُذَكَّرِ ).
cara membuatnya dengan menambah huruf wawu+nun atau yaa+nuun (وْنَ atau يْنََ) pada nama laki laki / sifat untuk laki laki 
contoh

كَافِرُوْنَ/ كَافِرِيْنَ

مُؤْمِنُوْنَ / مُؤْمِنِيْنَ

شَاكِرُوْنَ /شَاكِرِيْنَ

# CATATAN HURUF NUN SELALU DI FATHAH
B.Jamak Muannats Salim (جَمْعُ المُؤَنَّثِ السَّالِمِ)
Bentuk jamak yang kedua adalah jamak muannats salim, yaitu bentuk jamak teratur (السَّالِمِ) yang dikhususkan untuk perempuan (المُؤَنَّثِ).
cara membuatnya dengan menambah huruf huruf alif+ta' (ا+ت).
contoh 

مُؤْمِنَاتٌ

عَلَامَاتٌ

فِكْرَاتٌ

JIKA bentuk mufrad yang tadinya mempunyai ta' marbuthoh (ـةٌ) di akhir kata, ketika menjadi jamak muannats salim maka ta' marbuthohnya dihilangkan dan diganti dengan tanda alif+taa'.
C. Jamak Taksir (جَمْعُ التَّكْسِيْرِ)
Sesuai namanya, jamak ini adalah bentuk jamak yang tidak beraturan.
kata 'Taksir' dalam bahasa Arab mempunyai arti 'terpecah', oleh karena itu jamak ini tidak mempunyai tanda dan ciri yang khusus, jamak ini bisa berlaku untuk mudzakar (laki-laki) maupun muannats (perempuan). bisa untuk benda mati atau benda hidup, jamak ini juga termasuk sima'i, jadi pengucapannya mengikuti orang Arab, dan tentunya tidak mempunyai ciri khusus, jamak ini hanya bisa dihafalkan melalui kamus.
CONTOH

كُتُبٌ

نوافذ

مساجد 

 

BAB MUDZAKAR DAN MUANATS

 MUDZAKAR DAN MUANATS 
ISIM DITINJAU DARI JENISNYA ADA 2 BRO...
1. Mudzakkar (مُذَكَّرٌ)

Mudzakkar adalah isim (kata benda) yang menunjukan jenis laki-laki. Contoh: رَجُلٌ (seorang laki-laki).

Macam-macam mudzakkar (مُذَكَّرٌ):

A. Mudzakkar Haqiqi: semua isim yang menunjukan arti laki-laki, baik dari golongan manusia maupun hewan. Contoh: صَبِيٌّ (seorang anak/balita laki-laki), جَمَلٌ (unta), أَبٌّ (seorang ayah).

B. Mudzakkar Majazi: isim yang dianggap mudzakkar (laki-laki) sesuai kesepakatan orang Arab, baik dari benda mati maupun tanaman. Contoh: كِتَابٌ (buku), شَجَرٌ (pohon).
                                                                                                                                                              2. 2.Muannats (مُؤَنَثٌّ)

Muannats adalah isim yang menunjukan arti perempuan, contoh:  إِمْرَأةٌ (wanita).

Macam-macam muannats (مُؤَنَثٌّ): 

A. Muannats Haqiqi: isim yang menunjukan arti perempuan, baik dari manusia atau hewan. Contoh: إِمْرَأةٌ (wanita).

B. Muannats Majazi: isim yang beramal seperti amal perempuan (disifati perempuan/dianggap perempuan). Contoh: سَمَاءُ (langit), عَيْنٌ (mata/sumber) 
_______________________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN MUDZAKAR MUANATS SEMOGA BERMANFAAT 

الكلمة ISIM ,FIIL DAN HURUF BESERTA TANDA TANDANYA

  الكلمة Isim, Fiil dan huruf beserta Tanda tandanya



KAIDAH
الكلمة ثلاثة أقسام : اسم وفعل وحرف
الاسم : كل لفظ يسمى به انسان أوحيوان أو نبات أو جماد
الفعل : كل لفظ يدل على حصول عمل في زمن خاص
الحرف : كل لقظ لا يظهر معناه كاملا الا مع غيره

 KATA :الكلمة  ada 3
[1] Isim, 
[2] fiil 
[3] huruf

 kata adalah lafaz yang mempunyai makna.
[1] Isim (اسْمٌ) adalah Kata yang menunjukkan manusia ,hewan ,tumbuhan ,benda mati dll.
[2] Fiil (فِعْلٌ) adalah Kata kerja.
[3] Huruf (حَرْفٌ) adalah Kata yang tidak mempunyai makna yang sempurna kecuali setelah bersambung dengan kata yang lain.
—————————————————————
Saya pernah dapat dari ustadz di mahad, definisi yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk diingat.
1.Isim : kata benda
2. Fiil : kata kerja
3. Huruf : kata tidak memiliki ma'na yang sempurna kecuali bersambung dengan yang lainya

Tanda tanda Isim, Fiil dan huruf
Tanda-tanda Isim :
1. kasrah Misal:   بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  | Dan pada asalnya yang berharokat kasrah HANYA isim;
2. At-tanwiin (bertanwin) Misal: رَجُلٌ – كِتَابٌ – قَلَمٌ | HANYA isim yang bertanwin; fiil & huruf tidak bertanwin
3. Alif wa lam (ber- alif-lam -ال- ) |Fiil dan Huruf tidak ber alif-lam
4.Huruuful jarr (diawali huruf jar) | dan Huruf jarr hanya masuk pada isim yang selanjutnya menyebabkan isim tersebut majruur/ dikasroh.
Diantara huruf-huruf jar adalah:
مِنْ , إِلىَ , عَنْ , عَلىَ , فِى , رُبَّ , بِ , كَ , لِ
5. Huruf nidaa’ (terletak setelah huruf nidaa/panggilan) Misal: Yaa Faathimah يا فاطمة

Tanda-tanda Fiil:
1. Qod (terletak setelah qod قد ) 
Misal: {قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا} | “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya,” | Surat ke 58 ayat 1; Maka setelah Qod pasti fiil
2. Sin  (diawali huruf sin)
Misal: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا } |”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya;“| Surat An-Nisaa [4] ayat 56; Maka yang diawali huruf sin seperti kata sa-nadkhulu adalah fiil.
3. Saufa (terletak setelah kata saufa سَوْفَ)
Misalnya {إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً} |“kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka.” | Surat An-Nisaa [4]: 56; Maka setelah kata saufa pasti fiil
4. Ta’ ta’niits sakiinah (menempel padanya ta’ yang menunjukkan bahwa pelakunya adalah muannats)
Misalnya: {وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا} | “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu”| Surat Yusuf [12]: 24 ; Maka Hammath itu pasti fiil
5.Bersambung dengan ta’ fail.
Misalnya: هَلْ كَتَبْتَ الدَرْسَ؟ |Apakah kamu telah menulis pelajaran?Katab-ta asalnya fiil kataba, namun masuk setelahnya ta’ faail. Maka Kataba adalah fiil. Isim dan huruf tak mungkin dimasuki oleh ta’ fail.
6. Diawali huruf Mudhoro’ah. Yaitu huruf huruf yang mengawali fiil mudhori. Huruf2nya adalah (أ, نَـ , يَــ, تَــ)
Misalnya: أَذْهَبُ إلَى المَعْهَد |Aku pergi ke ma’had|Maka Adzhabu adalah fiil karena ia diawali oleh salah satu huruf mudhoro-ah.
7.Bersambung dengan Nun Taukid yaitu nun yang menunjukkan penekanan (taukid).
Misalnya: {وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} |”dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam“| Surat Ali Imron: 102; tamuutunna itu bersambung dengan nun taukid maka dia adalah fiil.
8. diawai “إذْ”. Yaitu huruf yang biasanya masuk pada fiil madhi.
Misalnya: {إِذْ رَأَى نَاراً} |”Ketika ia melihat api..”| Surat Thaha [20]:10; Maka ro-aa (رَأَى) adalah fiil karena  ia di awali oleh huruf idz (إِذْ).
Tanda- tanda huruf
Huruf, tidak memiliki tanda tanda khusus..
***
Tips, mencari mana fiil, isim dan huruf dalam sebuah jumlah bahasa arab yaitu menentukan Isim terlebuh dahulu karena tanda tanda isim itu PASTI muncul.
————————————————————
Semoga murojaah yang sedikiiiiiiit ini bermanfaat.