Selasa, 09 Juni 2020

KISI KISI NAHWU 2

KISI KISI NAHWU 2

1. Pembahasan:
Kata-kata ألقى - دعا- يلقى pada ketiga contoh yang pertama (yakni nomer 1 sampai 3), semuanya adalah fiil. Dan akhir dari setiap fiil - fiil tersebut  adalah alif karena diucapkan dengan alif.
Yang dijadikan dasar  pembahasan  pada pelajaran ini adalah pengucapannya  bukan tulisannya. Fiil-fiil ini dinamakan fiil mu'tal akhir.

Dan kata-kata:  سَرُوَ - تَصْفُوْ - يَدْنُوْ pada ketiga contoh kedua (yakni contoh nomer 4 sampai 6) semuanya  adalah fiil. Dan akhir dari setiap fiil-fiil tersebut adalah wawu. Fiil-fiil ini juga dinamakan fiil mu'tal akhir.

Dan kata-kata: خَشِيَ - أَبْغِيْ - يَبْنِيْ pada ketiga contoh yang ketiga (yaitu nomer 7 sampai 9) adalah fiil. Dan akhir dari setiap fiil-fiil tersebut adalah ya. Fiil-fiil ini juga dinamakan fiil mu'tal akhir.

Dan kata-kata:  أَظْلَمَ - اِتَّقَدَ - يَسْتَحِمُّ pada ketiga  contoh yang terakhir (yaitu nomer 10 sampai 12) semuanya adalah fiil. Dan akhir kata dari setiap fiil-fiil tersebut bukan alif, wawu atau ya. Fiil-fiil ini dinamakan fiil shahih akhir.

 KAEDAH:

(25) Fiil mu'tal akhir adalah fiil yang huruf akhirnya adalah alif, wawu, atau ya. Ketiga huruf ini (alif, wawu dan ya) dinamakan huruf 'illah.

(26) Fiil shohih akhir adalah fiil yang huruf akhirnya bukan termasuk salah satu dari ketiga huruf 'illah.

2. PEMBAHASAN
Jika Anda perhatikan kata-kata:  أَيْنَ dan ذَبَحَ dari contoh-contoh bagian pertama, Anda akan mendapati bahwa setiap kata darinya dalam keadaan tetap pada satu keadaan meskipun kedudukan keduanya dalam sebuah kalimat berubah.
Maka akhir dari setiap dua kata (ذبح - أين) tetap dengan  fathah sebagaimana pada contoh dan selainnya. Dan akhir kata dari مِنْ tetap dengan sukun sebagaimana pada contoh-contoh yang telah lalu dan pada selainnya.
Kata-kata yang tetap keadaan harakat  akhirnya pada satu keadaan adalah semua huruf, fiil madhi dan diil amr tanpa terkecuali.
Dan jika Anda perhatikan kata: القطن- الوردة- يثمر pada contoh bagian kedua, Anda akan dapati bahwa akhir setiap kata  darinya  berubah dari satu keadaan ke keadaan lain sesuai kedudukannya dalam kalimat.
Maka kata القطن dan الوردة adalah dua kata yang berubah akhirnya sebagaimana  pada contoh yang lalu. Perubahannya yaitu dari rofa' ke nashab lalu ke jer.
Dan kata يثمر adalah kata yang berubah akhirnya sebagaimana pada contoh yang lalu. Dia berubah dari rofa' ke nashab lalu ke jazm.
KAEDAH:
(27) Kata terbagi menjadi 2:
1) Kata yang tetap akhirnya pada satu keadaan pada seluruh  susunan (kalimat) dan dinamakan mabni adapun yang berubah akhirnya dinamakan mu'rab.
2) Semua huruf adalah mabni dan begitu juga seluruh fiil madhi  dan seluruh  fiil amr.

3. PEMBAHASAN:
Kita telah mengetahui dari pembahasan yang lalu bahwa mabni adalah kata yang akhirnya tetap pada satu keadaan di seluruh susunan kalimat. Dan pada pelajaran kali ini, kita ingin mengetahui keadaan-keadaan akhir kata yang mabni tersebut.
Perhatikan contoh:
Kata كَمْ - اِعْتَدَلَ - حَيْثُ - أَمْسِ  pada contoh sebelumnya, semua kata tersebut adalah mabni. Karena akhir kata-kata tersebut tetap dalam satu keadaan, tidak berubah sekalipun susunan kalimatnya berubah.
Akhir kata كَمْ adalah tetap dengan sukun, oleh karena itu كَمْ dikatakan mabni di atas sukun.
Akhir kata اعْتَدَلَ adalah tetap dengan fathah, oleh karena itu اعْتَدَلَ dikatakan mabni di atas fathah.
Akhir kata حَيْثُ adalah dengan dhommah, oleh karena itu حَيْثُ dikatakan mabni di atas dhommah.
Akhir kata أَمْسِ adalah dengan kasroh, oleh karena itu أَمْسِ dikatakan mabni di atas kasroh.
Dan jika kita teliti pada akhir kata-kata mabni tersebut, tidak kita dapati keadaan lain kecuali empat keadaan (mabni di atas sukun, fathah, dhommah dan kasroh).
Dan disana tidak ada ketentuan khusus untuk mengetahui tentang keadaan akhir kata-kata yang mabni tersebut. Hanya saja referensi untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan menukil dari kitab-kitab bahasa yang terpercaya.
KAEDAH:
(29) Keadaan-keadaan yang menetapi  akhir kata-kata mabni ada empat, yaitu: sukun, fathah, dhommah, kasroh dan dinamakan anwa'ul bina.
(30) Kata-kata yang akhirnya tetap dengan sukun/fathah/dhommah/kasroh, dinamakan mabni di atas sukun/fathah/dhommah/kasroh.

4. PEMBAHASAN:
Kata الطائر - الماء - الحصان pada contoh yang pertama, semuanya adalah isim.
Penjelasan tentang isim-isim di atas adalah sbb:
1) Pada ketiga contoh yang pertama:
Kata الطائر - الماء - الحصان adalah dalam keadaan marfu' karena sebagai mubtada.
Yang menunjukkan rofa'nya adalah adanya dhommah pada akhir setiap isim-isim tersebut.
2) Pada ketiga contoh yang kedua:
Kata الطائر - الماء - الحصان adalah dalam keadaan manshub karena sebagai maf'ul bih.
Yang menunjukkan nashabnya adalah adanya fathah pada akhir setiap isim-isim tersebut.
3) Pada ketiga contoh yang ketiga:
Kata الطائر - الماء - الحصان adalah dalam keadaan majrur karena masing-masingnya didahului oleh huruf jer.
Yang menunjukkan jernya adalah adanya kasroh pada akhir setiap isim-isim tersebut.
Dari penjelasan diatas, kita ketahui bahwa:
Karena ketiga isim di atas berubah akhirnya dari rofa' ke nashob lalu ke jer, maka isim-isim ini dinamakan mu'rab.
***
Dan kata-kata يوقد- تزحف - تورق pada contoh bagian yang kedua adalah fiil mudhari'.
Penjelasan tentang fiil-fiil mudhari' di atas adalah sbb:
1) Pada ketiga contoh yang pertama:
Fiil يوقد- تزحف - تورق dalam keadaan marfu' karena tidak adanya (bebas dari) 'amil nashob dan jazm. Dan yang menunjukkan  rofa'nya fiil-fiil tersebut adalah dengan adanya dhommah pada akhir setiap fiil itu.
2) Pada ketiga contoh yang kedua:
Fiil يوقد- تزحف - تورق dalam keadaan manshub karena masuknya "lan" (لنْ) pada fii-fiil itu. Dan yang menunjukkan nashobnya fiil-fiil tersebut adalah dengan adanya fathah pada akhir setiap fiil itu.
3) Pada ketiga contoh yang ketiga:
Fiil يوقد- تزحف - تورق dalam keadaan majzum karena masuknya 'amil jazm yaitu  "lam" (لَمْ) pada fii-fiil itu. Dan yang menunjukkan jazmnya fiil-fiil tersebut adalah dengan adanya sukun pada akhir setiap fiil itu.
Dari penjelasan diatas, kita ketahui bahwa:
Karena ketiga fiil di atas berubah akhirnya dari rofa' ke nashob lalu ke jazm maka fiil-fiil ini dinamakan mu'rab.
***
KAEDAH
(31) Keadaan-keadaan yang terhitung pada kata-kata yang mu'rab ada empat, yaitu: rofa' - nashob - jer - jazm. Dan (keempatnya) dinamakan macam-macam i'rab.
(32) Tanda-tanda i'rab yang asli ada empat, yaitu: dhommah - fathah - kasroh - sukun. Dan menggantikan darinya tanda-tanda yang lain yang akan disebutkan pada babnya.
(33) Rofa' dan nashob ada pada isim-isim dan fiil-fiil. Jer khusus ada pada isim-isim sebagaimana jazm khusus ada pada fiil-fiil.

5.PEMBAHASAN:
Jika kita perhatikan pada contoh-contoh di atas, kita dapati bahwa pada setiap kalimat mengandung fiil madhi.
Dan telah kita ketahui dari pelajaran yang telah lalu, bahwa seluruh fiil madhi adalah mabni. Maka fiil-fiil madhi pada contoh di atas, seluruhnya adalah mabni. Dan yang kita inginkan dari pelajaran kali ini adalah mengetahui keadaan bina fiil-fiil madhi.
Untuk itu, kita perhatikan ketiga contoh yang pertama (nomer 1 sampai 3):
-Perhatikan fiil-fiil madhi yang ada pada ketiga contoh tersebut, yaitu شْتَدَّ - ثَارَ - نَزَلَ.
-Akhir huruf pada fiil شْتَدَّ - ثَارَ - نَزَلَ tidak bersambung dengan sesuatu apapun.
-Akhir huruf pada fiil  شْتَدَّ - ثَارَ - نَزَلَ adalah dalam keadaab difathah.
- Jika fiil- fiil madhi tersebut diletakkan diseluruh macam susunan kalimat, maka kita akan mendapatinya tetap difathah huruf akhirnya.
-Oleh karena inilah, kita katakan bahwa fiil madhi dimabnikan di atas fathah dalam keadaan ini.
***
Dan jika kita perhatikan ketiga contoh yang kedua, kita melihat bahwa fiil-fiil لَعِبَ - سَفَرَ - تَعِبَ telah bersambung huruf akhirnya dengan wawu yang menunjukkan failnya (subjeknya ) adalah jamak mudzakar.
Dan kita lihat bahwa setiap akhir dari fiil-fiil tersebut dalam keadaan di dhommah ( لَعِبُوْا- سَفَرُوْا- تَعِبُوْا).
Dari sini, kita mengetahui bahwa fiil-fiil madhi tersebut dimabnikan di atas dhommah jika (fiil madhi itu) datang dalam keadaan ini (yakni jika fiil madhi bersambung dengan wawu jama'ah).
***
Dan jika kita perhatikan fiil-fiil madhi pada sisa contoh, kita melihat bahwa fiil-fiil madhi tersebut :
-Pada contoh nomer 7 sampai 12:
bersambung dengan ta' mutakarrikah (ت)
-Pada contoh nomer 13 sampai 15:
bersambung dengan nun (ن)  yang menunjukkan failnya (subjeknya) adalah jamak muannats, dan dinamakan nun niswah.
-Pada contoh nomer 16 sampai 18:
bersambung dengan kata "naa" (نا) yang menunjukkan fail.
Dimana setiap akhir fiil madhi tersebut diatas adalah dalam keadaan disukun. Walaupun kita terus perhatikan fiil-fiil tersebut bersambung dengan ta' mutaharrikah / nun niswah / naa fail, tetap keadaan akhirnya dalam keadaan disukun.
Oleh karena itulah, kita ketahui bahwa fiil madhi dalam keadaan-keadaan seperti diatas,dinamakan  mabni di atas sukun.
KAEDAH:
(34) Fiil madhi dimabnikan diatas fathah kecuali jika  bersambung dengannya wawul jama'ah (maka) dimabnikan diatas dhommah.
Atau bersambung dengannya ta' mutaharrikah / nun niswah/ naa yang menunjukkan fail, (maka) dimabnikan diatas sukun.

6. MABNINYA FIIL AMR
Pendapat ulama nahwu  bahwa fi’il amr itu selalu mabni, dengan perincian sebagai berikut:

Mabni dengan sukun

Jika huruf akhirnya adalah huruf shahih (bukan huruf illat/sakit: ا, و, ي) atau bersambung dengan nun al-inats. Contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an
واذكرْ ربك [2]
Kata (اذكر) pada ayat di atas merupakan fi’il amr yang mabni dengan sukun.
Pada firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain:
واذكرْنَ مايتلى [3]
Kata (واذكرن) pada ayat di atas adalah fi’il amr yang mabni dengan sukun karena bersambung dengan nun al-inats.

Mabni dengan hadzf huruf illat

Hadzf huruf illat yaitu membuang huruf illat jika fi’il amr itu diakhiri oleh salah satu huruf illat (ا, و, ي), contohnya: firman Allah dalam Al-Qur’an:
ادعُ إلى سبيل ربك [4]
Kata (ادع) pada ayat di atas adalah fi’il amr yang mabni dengan membuat huruf illatnya yaitu huruf و , karena asalnya adalah تدعو, pada ayat yang lain:
اتقِ الله [5]
Kata (اتق) merupakan fi’il amr yang mabni dengan membuang huruf illatnya yaitu ي, karena asalnya adalah تتقي, pada ayat yang lain:
وانهَ عن المنكر [6]
Kata (انه) pada ayat di atas merupakan fi’il amr yang mabni dengan membuang huruf illatnya yaitu ى, karena asalnya adalah تنهى.

Mabni dengan hadzf huruf nun

Hadzf huruf nun yaitu membuang guruf nun apabila fi’il amr bersambung dengan alif al-itsnain, ya’ al-mukhatabah atau waw al-jama’ah, contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وكُلاَ منها [7]
Di sini kata (كلا) adalah fi’il amr yang mabni dengan membuang nun, karena asalnya adalah (تأكلان). Contoh yang lain, ayat yang berbunyi:
كلوا واشربوا [8]
Kata (كلوا) dan (اشربوا) adalah fi’il amr yang mabni dengan membuang huruf nun, karena asalnya adalah (تأكلون) dan (تشربون).

Mabni dengan fathah

Yaitu jika fi’il amr bersambung dengan nun taukid, baik nun taukid tsaqilah maupun nun tauqid khafifah, contohnya:
اشكرنَّ الله
Kata (اشكرنَّ) merupakan fi’il amr yang mabni dengan fathah karena bersambung dengan nun taukid as-tsaqilah. Contoh yang lain:
اذهبنْ إلى المدرسة
Kata (اذهبنْ) merupakan fi’il amr yang mabni dengan fathah karna ia bersambung dengan nun taukid al-khafifah.

7. PEMBAHASAN

Fi’il Mudhari’ yang Mabni

Fi’il mudhari’ yang mabni pada dua keadaan:

Mabni  dengan sukun

Ketika bersambung dengan nun al-inats, contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ [2]
Kata (يرضعن) di sini adalah fi’il mudhari yang mabni karena bersambung dengan nun al-inats di akhirnya.

Mabni dengan fathah

Ketika bersambung dengan nun at-taukid (nun yang ditambahkan pada akhir fi’il yang berfungsi untuk memberi penekanan pada makna fi’il itu), contohnya: firman Allah subhanahu wa ta’ala:
لَنُخْرِجَنَّكَ [3]
Pada kata (نخرجنك) terdapat nun taukid yang menyebabkan kata tersebut mabni dengan fathah.
SYUKRAN JIKA ADA PERTANYAAN WA 087714705560

Tidak ada komentar:

Posting Komentar