Minggu, 29 Maret 2020

KALIMAT [ الجملة ] DALAM BAHASA ARAB ADA 2 

     1. Jumlah Ismiyah
Jumlah ismiyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan isim (kata benda) Atau kalimat yang tersusun dari  mubtada' dan khabar.
Mubtada' merupakan subyek dalam bahasa Arab, karena menjadi subyek maka mubtada' mempunyai beberapa sifat yaitu: pertama, harus berupa ma'rifat (kata khusus/tertentu/spesifik, bukan umum. contoh: nama orang, kemasukan huruf alif+lam). kedua, tanda i'robnya adalah rofa'.


Sedangkan khobar merupakan predikat, yaitu bertugas menjelaskan atau menerangkan keadaan mubtada' (subyek), khobar bisa berupa kata atau anak kalimat. sifat khobar yaitu : satu, harus nakiroh (kata umum). kedua, khobar juga mempunyai  tanda i'rob rofa'.


Mubdata' dan khobar harus mempunyai sifat yang sama, ketika mubdata' nya mudzakar maka khobar juga harus mudzakar, antara mubtada' dan khobar juga harus sama-sama mufrad, tasniyah, atau jamak.

contoh زَيْدٌ قَائِمٌ 

Contoh  kata 'zaidun' sebagai mubdata' dan kata 'qooimun' sebagai khobar sama-sama isim mufrad (kata benda tunggal) dan mudzakar (kata benda berjenis kelamin laki-laki). 

contoh المُسْلِمَانِ قَائِمَانِ

Contoh kata 'muslimaani' sebagai mubtada' (subyek) dan kata 'qooimaani' sebagai khobar sama-sama isim tasniyah (kata benda yang menunjukan arti dua)  

2. Jumlah Fi'liyah

Jumlah fi'liyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan fi'il (kata kerja), sama dengan namanya. kalimat ini biasanya tersusun dari fi'il (kata kerja) dan fa'il (subjek).
Fi'il (kata kerja) disini biasanya berupa fi'il madhi (kata kerja lampau), tapi bisa juga jika menggunakan fi'il mudhore (yang sedang dilakukan).
Fa'il (subjek) dalam jumlah fi'liyah bisa nampak (dhohir/biasanya ditandai dengan nama orang atau suatu benda), bisa juga secara tidak nampak (dhomir/biasanya jumlah fi'liyah dengan fa'il (subjek) yang tidak nampak ini berada di tengah-tengah paragraf karena dhomirnya sudah disebutkan di awal paragraf)
contoh قَامَ زَيْدٌ
Contoh : kata 'qooma' sebagai fi'il (kata kerja), jika dilihat dari segi waktunya, maka fi'il nya adalah fi'il madhi (sudah dilakukan) dan jika dilihat dari segi jenisnya fi'il ini merupakan fi'il lazim (kata kerja yang tidak membutuhkan objek). sedangkan kata 'zaidun' menjadi fa'ilnya (subjek/pelakunya), keduanya sudah termasuk kalimat karena tersusun dari fi'il (kata kerja) dan fa'il (subjek) walaupun hanya dua kata. 

 contoh يَخْلُقُ اللَّهُ النَّاسَ

Contoh : kata 'yahluqu' sebagai fi'il, yaitu fi'il mudhore (kata kerja yang sedang dilakukan), jika dilihat dari jenisnya fi'il ini adalah fi'il muta'adi (kata kerja yang membutuhkan objek), kata 'Allahu' sebagai fa'il (subjek) dan kata 'an-naasa' menjadi maf'ul bih (objeknya). nah, jika tidak ada objeknya maka kalimat ini tidak sempurna karena fi'il 'yahluqu' yang artinya 'menciptakan' itu membutuhkan objek. 

 ______________________________________________
DEMIKIAN RINGKASAN JUMLAH DAN MACAMNYA SEMOGA BERMANFAAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar