Selasa, 31 Maret 2020

BAB MAF'UL MUTLAQ

BAB MAF'UL MUTLAQ
A. Pengertian Maf’ul Muthlaq
Maf’ul Muthlaq ialah  ISIM MASDAR MANSUB bertujuan untuk penegasan dan penjelasan jenis atau jumlah perbuatannya.

Contoh :

ضَرَبَ يَضْرِبُ ضَرْبًا, أكْرَمَ يُكْرِمُ إكْرَامًا,

Dari pengertian  maf’ul muthlaq itu  member kepahaman bahwa :
1. Maf’ul muthlaq berupa kalimat isim
2. Maf'ul muthlaq bertujuan untuk penegasan, penjelas dari fi'il (baik jenis maupun jumlah pekerjaannya)
3. Dibaca nashob dan dinashobkan oleh amil. Adapun amil yang menashobkan maf’ul muthlaq yaitu :

  • Fi’il taam yang mutashorrif: kata kerja sempurna yang dapat ditashrif (maksudnya bukan fi’il naqhis dan fi’il jamid )

    ضَرَبْتُ كَلْبًا ضَرْبَتَيْنِ

    Aku memukul Anjing dengan dua kali pukulan

  • Mashdar

    عَحِبْتُ مِنْ ضَرْبِكَ ضَرْبًا شَدِيْدًا

    Aku terkejut atas pukulanmu dengan pukulan yang keras

  • Isim sifat

    أنَا ضَارِبُ زَيْدٍ ضرْبَ أبِيْهِ

    Aku memukul Zaid seperti pukulan ayahnya

4. Maf’ul muthlaq tercipta  dari mashdar yang adalah urutan ketiga dari tashrifnya fi’il.

Maf'ul Mutlaq ialah  isim manshub yang dilafalkan  untuk 3 keadaan:
  • Untuk menegaskan sebuah  perbuatan
  • Untuk menyatakan  bilangan perbuatan
  • Untuk menyatakan  jenis/sifat perbuatan

a. Contoh sebagai penegas perbuatan

حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظًا

“ Aku sudah  menghafal pelajaran tersebut  dengan sangat hafal”
Kata حِفْظًا adalah  isim yang dibaca nashob dengan fathah sebab  isim mufrod, dan ia menjadi maf'ul mutlaq. Kata tersebut bertugas  untuk menegaskan perbuatan. Jika kita perhatikan baik-baik  bentuk  katanya, maf’ul mutlaq adalah isim yang berasal dari lafad fi’ilnya, dalam ilmu shorof disebut  isim mashdar. Sehingga untuk menciptakan  maf’ul bih sebuah  fi’il, dengan teknik  mengganti  fi’il itu  menjadi isim mashdar.

  yang mengindikasikan  penegas tindakan  :

 حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظاً

(Saya menghapal latihan  dengan sesungguhnya)

ضربْتُهٌ ضرباً شديداً

(Saya memukulnya dengan pukulan keras)

أكلْتُ أكْلاً كثيراً

(Saya makan dengan banyak)


b. Contoh untuk menyatakan  bilangan

ضَرَبْتُهُ ضَرْبَةً

“ Aku memukulnya dengan satu kali pukulan “

Kata ضَرْبَةً adalah isim manshub dengan fathah, sebab  isim mufrod, sebagai maf'ul mutlaq. Pada kalimat ini, maf’ul mutlaq bermanfaat  sebagai penjelas bilangan dari perbuatan. Jika anda  belajar ilmu shorof, anda  akan temukan format  isim masdar yang lebih dari satu, laksana  halnya pada misal  di atas.

Kata ضرب dapat memiliki  isim masdar yang lebih dari satu, dan pemakai annya bermacam-macam, terdapat  yang guna  sebagai penjelas tindakan  atau untuk menyatakan  bilangan, sampai-sampai  untuk dapat menyusun  suatu kalimat yang memiliki  maf’ul mutlaq, maka butuh  adanya pengetahuan mengenai  bentuk-bentuk isim masdar dari sebuah  fi’il.

Contoh beda  yang menyatakan  bilangan :

ضَرَبْتُ الكَلْبَ ثَلاَثَ ضَرَبَاتٍ

(Saya memukul anjing sejumlah  tiga kali)

ضربْتُهُ ضربةً

(Saya memukulnya satu kali pukulan)

أكلْتُ أكلَةً

(Saya makan satu kali suap)


c. Contoh untuk menyatakan  jenis/sifat

مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

"Barang siapa yang keluar  dari ketaatan Seorang pemimpin sejengkal saja, lantas  ia mati,maka matinya laksana  kematian jahiliyah".

Pada kalimat di atas ada  kata مِيتَةً yang dibaca nashob. Kata itu  adalah maf’ul muthlaq karena bermanfaat  sebagai penjelas jenis dari fi’il yang digunakan  yakni مَاتَ. Pada situasi  ini, maf’ul muthlaq mesti dibuntuti  oleh na’at. Sehingga maf’ul muthlaq yang bermanfaat  untuk menyatakan  jenis/sifat fi’il mesti dibuntuti  oleh na’at/sifat atau disandarkan ke isim yang lainnya.

Contoh lagi  :

جَلَسْتُ جِلْسَةَ العُلَمآءِ

(Saya duduk seperti  duduknya semua  ulama) =


B. Macam-macam Maf’ul Muthlaq

Masdar yang menjadi maf’ul muthlaq terdapat  dua yakni  :

a. Masdar Lafdzi

Yaitu bilamana  lafadznya masdar sesuai  dengan lafadznya fi’il.

Contoh :

قَتَلْتُهُ قَتْلاً saya benar-benar telah membunuh Zaid.

Lafadz قَتْلاً adalah  masdar yang menjadi maf’ul muthlaq, lafadznya mirip  dengan lafadz fi’ilnya yakni  قَتَلَ , maka disebut  masdar lafdzi.

b. Masdar Maknawi

Yaitu bilamana  masdar sesuai  dengan artinya  fi’il, tetapi  tidak sesuai  dalam lafadznya.

Contoh :

جَلَسْتُ قُعُوْدًا saya duduk dengan sesungguhnya

قُمْتُ وُقُوْفًا saya berdiri dengan sesungguhnya

Masdar قُعُوْدًا yang menjadi maf’ul muthlaq, artinya  sama dengan artinya  fi’ilnya, lafadz جَلَسْتُ (maknanya duduk), tetapi  tidak sama dalam lafadznya, begitu pun  dengan lafadz وُقُوْفًا dengan قُمْتُ, oleh sebab  itu disebut  masdar maknawi.


C. Hukum Maf’ul Mutlaq

Hukum maf’ul mutlaq terdapat  tiga macam :

1. Wajib dibaca nashob, misal  : رأيتُهُ مُسرعاً إسراعاً عظيماً

2. Wajib jatuh sesudah  amilnya andai  untuk menguatkan. Apabila untuk menyatakan  jenis atau bilangannya maka boleh jatuh sesudah  atau sebelumnya. Contoh : اجتهدتَ اجتهاداً حسَناً

3. Amil Maf’ul Mutlaq boleh dibuang, andai  maf’ul mutlaq tersebut menyatakan  jenis atau bilangannya dan pun  ada qorinah/hubungan yang mengindikasikan  amil tersebut. Dalam artian menjadi jawaban dari suatu  pertanyaan.

Contoh : اجتهاداً حسَناً

Kata “ اجتهاداً حسَناً “ ialah  jawaban daripertanyaan “كيف اجتهدت


Kesimpulan

Berdasarkan ulasan  yang sudah  diuraikan diatas, maka dapat diputuskan  bahwa Maf’ul Muthlaq ialah  kalimat isim yang terbaca nashob yang berada pada urutan yang ketiga dari tashrifannya fi’il.

Maf’ul muthlaq merupakan   untuk mengindikasikan  3 hal yakni  :

1. Bagi  menegaskan suatu tindakan  ( ضربْتُ ضرباً شديداً)

2. Untuk menyatakan  bilangan tindakan  (ضَرَبْتُ الكَلْبَ ثَلاَثَ ضَرَبَاتٍ)

3. Untuk menyatakan  jenis/sifat tindakan  (جَلَسْتُ جِلْسَةَ العُلَمآءِ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar